Bisnis.com, JAKARTA – Uni Eropa dan Australia menyepakati perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) setelah hampir satu dekade perundingan, di tengah upaya kedua pihak memperkuat hubungan ekonomi dan merespons tekanan kebijakan tarif pemerintahan AS.
Melansir Bloomberg, kesepakatan penyelesaian negosiasi diumumkan pada Selasa (24/3/2026) di Canberra oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Dalam pernyataan bersama, kedua pihak menyatakan perjanjian tersebut masih perlu diratifikasi oleh masing-masing pihak sebelum resmi berlaku.
Selain kesepakatan perdagangan bebas, Australia dan Uni Eropa juga menandatangani Kemitraan Keamanan dan Pertahanan guna memperkuat kerja sama dalam penanganan krisis dan tantangan keamanan.
“Pilar-pilar kerja sama ini mengakui pentingnya kemitraan kuat Australia–Uni Eropa dalam menghadapi tantangan global bersama, sekaligus mendukung kemakmuran dan keamanan serta memperdalam keterlibatan kedua pihak,” kata Albanese dan von der Leyen dalam pernyataan tersebut
Australia dan Uni Eropa juga berupaya melindungi perekonomian mereka dari program tarif Presiden AS Donald Trump serta pembatasan ekspor mineral penting oleh China. Dalam beberapa waktu terakhir, Uni Eropa juga menyepakati perjanjian dagang dengan India dan blok Mercosur di Amerika Selatan setelah sempat tertunda selama bertahun-tahun.
Baca Juga
- Trump Buka Investigasi Perdagangan, Mau Beri Tarif Baru ke China hingga Uni Eropa
- Singapura-Australia Amankan Pasokan Energi di Tengah Krisis Timur Tengah
Berdasarkan data International Monetary Fund, Australia mencatat defisit perdagangan dengan Uni Eropa sebesar US$33 miliar pada tahun lalu. Negeri Kanguru mengekspor barang senilai hampir US$12 miliar ke kawasan tersebut, sementara impor dari Uni Eropa melampaui US$44 miliar.
Perundingan perjanjian perdagangan bebas ini dimulai sejak 2018. Kedua pihak sempat hampir mencapai kesepakatan pada 2023 sebelum Australia menarik diri dari negosiasi karena menilai akses produk pertanian ke pasar Uni Eropa masih terbatas.
Pembahasan kembali dilanjutkan tahun lalu dan menjadi semakin mendesak setelah pemerintahan Trump mengancam mengubah sistem perdagangan global melalui kebijakan tarifnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, negosiator kedua pihak sebenarnya hampir merampungkan kesepakatan. Namun, pembicaraan sempat menemui hambatan terkait isu perdagangan daging.
Australia mendesak Uni Eropa untuk meningkatkan kuota impor daging sapi yang dapat masuk dengan tarif preferensial. Di sisi lain, impor produk pertanian merupakan isu sensitif bagi Uni Eropa karena dikhawatirkan dapat mengganggu sektor pertanian domestik mereka.





