JAKARTA, KOMPAS - Harga minyak mentah dunia, sebagaimana proyeksi sejumlah lembaga, akan bertengger tinggi di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026. Hal ini akan menekan fiskal sekaligus memberikan komplikasi ke perekonomian nasional.
Seiring dengan perang di Timur Tengah yang berkepanjangan, harga minyak dunia terus berfluktuasi tinggi di atas asumsi APBN 2026. Harga minyak mentah Indonesia sebagai salah satu asumsi APBN 2026 dipatok 70 dolar AS per barel. Ini merupakan asumsi yang disepakati dan disahkan dalam Rapat Paripurna DPR pada September 2025.
Menyusul serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026, harga minyak mentah dunia melonjak. Awal pekan ini, merujuk pada Reuters, Goldman Sachs menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak jenis Brent sepanjang 2026, dari 77 dolar AS per barel ke 85 dolar AS per barel. Goldman Sachs memperingatkan bahwa risiko cenderung mengarah ke kenaikan harga akibat rendahnya persediaan komersial.
Pada Maret dan April, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai 110 dolar AS per barel, naik dari proyeksi sebelumnya senilai 98 dolar AS per barel. Brent menjadi rujukan bagi harga minyak mentah Indonesia, salah satu asumsi APBN.
Sebelumnya, S&P Global Ratings juga menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2026, dari 75 dolar AS per barel ke 80 dolar AS per barel. Pertimbangannya, terjadi gangguan berkelanjutan terhadap arus pasokan minyak di Timur Tengah.
Saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi singkat proyeksi Goldman Sachs tersebut. ”Hilalnya belum kelihatan, (harga) spot oil turun sementara (ini),” ucapnya, sembari menunjukkan indeks harga minyak beberapa negara yang sedikit turun pada Selasa sore.
Menurut Airlangga, APBN 2026 relatif aman karena model pembelian minyak mentah dilakukan dalam kontrak jangka panjang. Oleh karena itu, efek harga spot tidak langsung teraplikasi.
”Harga impor (minyak mentah) rata-rata Januari-Februari sekitar 68 dolar AS dan Maret sedikit di atas 72 dolar AS,” ujarnya.
Hal serupa berlaku untuk kontrak pembelian gas. Namun, dia tidak menjawab lebih lanjut ketika ditanyakan berapa nilai kontrak impor minyak mentah yang diperoleh Indonesia untuk April 2026.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Kiki Verico, berpendapat, kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi APBN 2026 akan bertransmisi pada tiga hal. Pertama adalah fiskal. Kapasitas fiskal terkait erat dengan realisasi rata-rata harga minyak dunia. Semakin harga melambung di atas asumsi, semakin tertekan APBN.
Kedua, kenaikan biaya logistik dan distribusi. Kenaikan harga BBM akan diikuti kenaikan harga barang-barang, termasuk harga barang konsumsi rumah tangga. Ujung-ujungnya adalah inflasi.
Ketiga adalah harga gas yang ikut terkerek naik. Apalagi, Iran baru-baru ini menyerang fasilitas gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) milik QatarEnergy di Ras Laffan. Mengingat Qatar penghasil LNG terbesar dunia dan sebagian LNG Indonesia pun dipasok Qatar, gangguan produksi di Qatar bisa berpengaruh pada persediaan gas untuk kebutuhan domestik, termasuk untuk kebutuhan bahan bakar pedagang kaki lima, warung makan, serta masyarakat kecil.
”Kalau suplai gas kurang, harga makanan juga akan naik. Karena itu, selain BBM, kekurangan gas juga harus diantisipasi. Biasanya, harga gas juga in line dengan (harga) minyak, apalagi kedua hal ini perfect inelastic, enggak bisa digantikan dalam jangka pendek,” kata Kiki.
Perang berkepanjangan di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz, ujar Kiki, akan menaikkan risiko yang mendorong biaya premi asuransi serta memengaruhi sektor keuangan. Efeknya, risiko pasar uang di AS juga meningkat dan mengakibatkan inflasi.
Imbal hasil surat utang AS pun akan naik akibat peningkatan risiko sehingga memaksa suku bunga AS dinaikkan. Ketika hal ini terjadi, pasar keuangan Indonesia pun akan mengalami tekanan.
”Dengan semua tekanan ini, risiko defisit APBN pun akan membesar. Yang perlu dipikirkan pemerintah adalah bagaimana caranya pengeluaran saat ini bisa direalokasi,” ucap Kiki.
Untuk itu, pengeluaran yang sangat besar sebaiknya disisir. Mobilitas bisa dikurangi, misalnya perjalanan dinas. Pertemuan-pertemuan yang memungkinkan sebaiknya dilakukan secara daring.
”Ada (alokasi) yang secara natural (bisa dikurangi), ada yang secara by plan harus ditangguhkan dulu supaya fiskal lebih sehat. Concern saya, supaya masyarakat Indonesia tidak mengalami tekanan biaya hidup dari BBM, pangan, serta air. Jangan lupa, pengolahan air perlu listrik, banyak rumah juga menggunakan pompa untuk aliran airnya,” tutur Kiki.
Secara terpisah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University Didin S Damanhuri memperkirakan, perang AS-Israel melawan Iran tak akan selesai dalam waktu singkat. Kendati pemerintah sudah menyiapkan skenario pelebaran defisit, ia berharap pemerintah menghindarinya dan tetap memilih efisiensi anggaran, terutama program-program dengan anggaran besar. Misalnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
”Lebih baik MBG fokus ke daerah-daerah stunting dan gizi buruk, dan mungkin kalau demikian hanya diperlukan Rp 40triliun-Rp 50 triliun,” ujarnya dalam diskusi daring, Rabu (18/3).
Kalaupun perang berlangsung lebih dari tiga bulan, lanjut Didin, efisiensi anggaran MBG dan Koperasi Desa Merah Putih akan menghindarkan defisit APBN melampaui 3 persen PDB.
Tiga skenario
Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3), Airlangga memaparkan tiga skenario pelebaran defisit APBN. Skenario ini berdasarkan asumsi perang Iran vs AS-Israel berlangsung lima, enam, dan sepuluh bulan atau dalam tahun anggaran 2026.
Pertama, dengan asumsi perang terjadi selama lima bulan dan rata-rata harga minyak mentah dunia 90 dolar AS per barel dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 16.500, defisit anggaran 3,18 persen. Skenario kedua, perang terjadi selama enam bulan dan rata-rata harga minyak mentah dunia 97 dolar AS per barel dan kurs rupiah terhadap dolar AS Rp 17.500, defisit APBN menjadi 3,53 persen.
Skenario ketiga atau terberat adalah perang berlangsung hingga akhir tahun atau lebih dengan rata-rata harga minyak dunia 115 dolar AS per barel dan kurs rupiah Rp 17.500 untuk setiap dolar AS. Dalam skenario ini, defisit APBN mencapai 4,06 persen.
”Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan Pak Presiden,” kata Airlangga dalam sidang kabinet itu.
Sementara itu, dampak konflik Timur Tengah sudah mulai merambat ke sektor manufaktur dalam negeri, dari keramik hingga kaca, melalui kenaikan biaya energi dan gangguan logistik. Di tengah tekanan itu, persoalan pasokan gas domestik memperparah pelemahan performa industri.
Bagi sebagian industri dalam negeri, terganggunya pasokan gas dunia karena konflik di Timur Tengah bukan saja soal energi, melainkan juga mengganggu suplai bahan baku.





