Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas perdagangan kontrak berjangka minyak mentah dunia mencatatkan pergerakan anomali setelah sejumlah trader memasang taruhan US$500 juta atau setara dengan Rp8,45 triliun.
Melansir laporan The Korea Times, taruhan jumbo itu ditempatkan hanya 15 menit sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer selama 5 hari terhadap infrastruktur energi Iran. Pengumuman ini seketika memicu kejatuhan harga minyak di pasar global.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam bakal "memusnahkan" pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali pada Senin. Namun, unggahan terbaru Trump di media sosial Truth Social pada pukul 11.05 GMT mengindikasikan pembicaraan konstruktif antara Washington dan Teheran.
"Data menunjukkan antara pukul 10.49 dan 10.50 GMT, trader menempatkan posisi pada 5.100 lot kontrak berjangka Brent dan WTI senilai lebih dari US$500 juta yang didominasi oleh aksi jual,” seperti dilansir dari The Korea Times, Rabu (25/3/2026).
Sinyal de-eskalasi konflik tersebut memicu aksi jual masif yang melumpuhkan harga minyak. Hanya dalam waktu 60 detik setelah unggahan Trump muncul, lebih dari 13.000 lot kontrak atau setara dengan 13 juta barel minyak berpindah tangan.
Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent jatuh hingga 15% menuju level US$99 per barel, atau dari posisi sebelumnya di US$112 per barel.
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga merosot ke level US$86 dari sebelumnya posisi mendekati US$99 per barel.
Hingga saat ini, pihak bursa seperti Intercontinental Exchange (ICE) dan CME Group belum memberikan komentar resmi terkait aktivitas perdagangan tersebut. Demikian pula dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) serta Gedung Putih yang menolak menanggapi permintaan konfirmasi.





