jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Arifki Chaniago menilai pertemuan Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono di Cikeas bukan sekadar silaturahmi lebaran, tetapi ini juga “memancing” isu cinta lama bersemi kembali dan peluang duet Anies–AHY kembali terbuka di Pilpres 2029.
Arifki mengatakan momentum halalbihalal kerap menjadi ruang komunikasi politik yang sarat makna di antara para elite politik.
BACA JUGA: Anies Sebut Serangan Israel-AS ke Iran sebagai Momentum Indonesia Keluar dari BoP
Dalam konteks ini, Arifki menilai pertemuan di Cikeas memiliki makna simbolik untuk membuka kembali opsi kerja sama politik.
"Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujar Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu dalam keterangannya pada Rabu (25/3/2026).
BACA JUGA: Akademisi UNAS Sebut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Berpotensi Jadi Matahari Baru pada Pilpres 2029
Dia menjelaskan kedekatan Anies dengan Partai Demokrat memiliki jejak yang cukup panjang. Salah satunya terlihat saat Anies pernah mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat 2014 yang digagas pada era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.
“Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat bukan hubungan baru. Sudah ada irisan sejarah politik sejak 2014,” kata Arifki.
BACA JUGA: Bukber Bareng Gen Z, AHY: Jakarta Butuh Ruang Kreatif Anak Muda
Selain itu, pada Pemilihan Presiden 2024, pasangan Anies–AHY sempat menjadi skenario utama sebelum batal di tahap akhir.
Hal ini, menurut Arifki, makin memperkuat bahwa keduanya memiliki basis komunikasi politik yang sudah terbangun.
Arifki menambahkan peluang duet tersebut akan sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama terkait posisi Agus Harimurti Yudhoyono dalam pemerintahan Prabowo Subianto.
Oleh karena itu, Prabowo akan mempertimbangkan AHY sebagai cawapresnya nanti atau tidak. Cairnya komunikasi politik Prabowo dengan Megawati, Jokowi, dan lainnya tampaknya AHY ingin sediakan payung sebelum hujan.
Anies adalah salah satu payungnya, begitu pun AHY salah satu langkah bagi Anies agar kartunya tetap hidup di 2029.
"Kalau Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui tantangan terbesar duet tersebut terletak pada ambisi politik masing-masing tokoh. Baik Anies maupun AHY dinilai memiliki posisi tawar sebagai calon presiden.
"Ini yang perlu dicarikan titik temu, tetapi dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” katanya.
Arifki juga menilai pertemuan yang berlangsung di kediaman Susilo Bambang Yudhoyono memiliki makna simbolik.
Menurutnya, Cikeas kerap menjadi ruang penting dalam pengambilan arah politik Partai Demokrat.
"Kalau pertemuan ini terjadi dan berlangsung hangat, artinya komunikasi politik itu tidak hanya terbuka, tapi juga mendapat ruang yang serius,” katanya.
Dia menegaskan pertemuan tersebut memang bukan keputusan politik. Namun, cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam “memancing” kemungkinan duet Anies–AHY kembali muncul pada Pilpres 2029.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




