REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Meskipun para ulama sepakat siksa kubur pasti akan terjadi, tetapi mereka berbeda pendapat tentang bentuknya. Apakah siksa kubur terjadi pada jasad, jiwa atau ruh?
Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Al-Mautu wa alamul barzakh, al-hisab wal aidhu alal-latu al-mizan-al-mushaf-ashshirath-anwa'us syafa'ah menerangkan, sebagian orang yang meragukan adanya siksa kubur di alam barzah berpendapat, jika kita menggali kuburan orang kafir atau ahli maksiat setelah beberapa hari, kita pasti tidak akan melihat bekas siksaan atau pukulan pada jasadnya. Dengan demikian, mana bukti penyiksaan tersebut? Sementara dalam hadits sebelumnya telah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
- Awal Idul Fitri Dramatis, Aksi Heroik Pria Arab Saudi Selamatkan Bocah Tenggelam di Detik Krusial
- Tak Siap Hadapi Iran, USS Gerald Ford Kabur dari Medan Perang
- Polisi Siapkan Tim Gakkum Cegah Kriminal di Rest Area KM 125 Tol Cipularang
"Kalaulah bukan karena kekhawatiranku bahwa kalian tidak akan saling menguburkan, aku pasti akan berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan azab kubur kepada kalian seperti yang aku dengarkan." (HR Imam Muslim, Imam Ahmad dan Imam An-Nasa'i)
Pertanyaan di atas bisa dijawab, jika kita berpendapat siksa kubur harus terjadi pada jasad dan bisa kita lihat dengan menggali kuburan orang kafir atau durhaka, berarti alam gaib telah ditampakkan kepada kita. Dengan demikian cobaan yang diberikan Allah kepada kita pun akan gugur. Padahal Allah SWT berfirman:
.rec-desc {padding: 7px !important;}Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa huwal-‘azīzul-gafūr(u).
yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al-Mulk Ayat 2)
Ujian pertama adalah ujian keimanan terhadap yang gaib. Allah SWT berfirman: Alif Lām Mīm. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (QS Al-Baqarah Ayat 1-3)
Dengan demikian percaya kepada yang gaib adalah syarat keimanan yang benar yang tidak dinodai oleh keraguan terhadap Allah, pencipta alam semesta beserta isinya baik itu yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui. Di antara ciptaan-Nya ada yang ditampakkan, ada pula yang disembunyikan, dan dijadikan sebagai makhluk gaib.
Allah telah membuat berbagai tanda keberadaan makhluk gaib tersebut sebagaimana Dia menjadikan tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan keberadaan-Nya. Seperti, bintang, planet, bulary bumi serta seluruh isinya yang berupa laut, gunung, dan Iembah.




