Banned FIFA PSM Bisa Picu Pemain Eksodus ke Tim Lain: Persebaya, Persib dan Persija Merapat

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Ada momen dalam sepak bola ketika krisis tidak lagi sekadar angka di laporan keuangan atau catatan administratif. Ia menjelma menjadi kegelisahan kolektif—merembes ke ruang ganti, tribun, hingga masa depan sebuah klub. Itulah yang kini sedang menyelimuti PSM Makassar pada Maret 2026.

Sanksi dari FIFA kembali datang, bahkan dua kali dalam satu bulan. Sebuah ironi yang terasa pahit, terlebih karena ia hadir di tengah suasana Lebaran—ketika sebagian besar pemain tengah pulang, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kompetisi.

Namun sepak bola profesional tidak pernah benar-benar memberi jeda.

Dalam laman resmi FIFA, nama PSM tercatat dua kali sebagai klub yang dijatuhi hukuman, masing-masing pada 9 dan 20 Maret 2026. Sanksi itu bukan sekadar simbolik. Ia membawa konsekuensi nyata: larangan mendaftarkan pemain selama tiga periode transfer untuk setiap kasus.

Jika ditarik lebih jauh, ini bukan insiden tunggal. Ini adalah akumulasi.

Sepanjang musim 2025/2026, PSM telah menerima lima kali sanksi. Rangkaian itu dimulai sejak Oktober 2025, berlanjut ke Januari 2026, lalu kembali menghantam saat bursa transfer dibuka, dan kini mencapai puncaknya di bulan Maret. Sebuah pola yang menunjukkan masalah bukan lagi bersifat insidental, melainkan struktural.

Persoalan finansial—terutama sengketa gaji—menjadi akar dari semuanya.

Kasus yang melibatkan Tomas Trucha menjadi salah satu pemicu terbaru. Namun, di balik satu nama itu, tersimpan persoalan yang lebih luas: ketidakmampuan manajemen menyelesaikan kewajiban secara konsisten.

Dampaknya mulai terasa di lapangan latihan.

Di Lapangan Kalegowa, pada sesi terakhir sebelum jeda, absennya sejumlah pemain asing seperti Daisuke Sakai, Aloisio Neto, dan Sheriddin Boboev menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka sekadar pulang lebih awal, atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Dalam situasi seperti ini, rumor menjadi cepat berkembang—dan sering kali menemukan pijakan.

Sanksi FIFA, terutama yang berkaitan dengan larangan transfer, hampir selalu diikuti oleh efek domino: eksodus pemain. Ketika stabilitas klub dipertanyakan, loyalitas pun diuji. Karier pesepak bola yang relatif singkat membuat keputusan rasional kerap mengalahkan ikatan emosional.

Dan di luar sana, klub-klub lain mulai membaca situasi.

Persebaya Surabaya, misalnya, tidak menyembunyikan ambisinya. Di bawah arahan Bernardo Tavares, mereka justru melihat krisis PSM sebagai peluang. Nama-nama seperti Ramadhan Sananta dan Victor Dethan mulai dikaitkan dengan kemungkinan hengkang ke Surabaya.

Narasi “mini PSM” di Persebaya bukan lagi sekadar wacana romantik, tetapi mulai menemukan konteksnya.

Di sisi lain, Persib Bandung dan Persija Jakarta juga disebut-sebut siap merapat. Dua kekuatan besar di Liga 1 Indonesia itu tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk memperkuat skuad dengan pemain-pemain yang sudah terbukti kualitasnya—terlebih jika situasi kontrak dan finansial membuka jalan.

Di titik ini, krisis PSM berubah menjadi pasar.

Namun, di balik semua spekulasi itu, ada dimensi yang lebih sunyi: ruang ganti.

Bagaimana perasaan pemain yang masih bertahan? Bagaimana mereka menjaga fokus di tengah ketidakpastian? Sepak bola bukan hanya soal taktik dan strategi, tetapi juga soal psikologi. Ketika masa depan klub menjadi abu-abu, performa di lapangan hampir pasti ikut terpengaruh.

Bagi suporter, situasi ini menghadirkan dilema emosional. Di satu sisi, ada kecemasan kehilangan pemain-pemain kunci. Di sisi lain, ada harapan bahwa manajemen mampu menemukan jalan keluar sebelum semuanya terlambat.

Sejarah sepak bola Indonesia mencatat bahwa krisis finansial bukan hal baru. Banyak klub pernah mengalaminya, dengan akhir yang beragam—ada yang bangkit, ada pula yang tenggelam dalam ketidakpastian panjang.

PSM kini berada di persimpangan itu.

Jika manajemen mampu menyelesaikan kewajiban dan memulihkan kepercayaan, badai ini bisa menjadi titik balik. Namun jika tidak, maka eksodus pemain bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan.

Dan ketika itu terjadi, peta persaingan Liga 1 akan berubah.

Persebaya mungkin mendapatkan potongan puzzle yang mereka butuhkan. Persib dan Persija bisa memperdalam kualitas skuad mereka. Sementara PSM, klub dengan sejarah panjang dan basis suporter yang kuat, harus memulai ulang dari titik yang tidak diinginkan.

Sepak bola, pada akhirnya, selalu tentang momentum.

Dan di Maret 2026 ini, momentum itu tidak sedang berpihak pada PSM Makassar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korlantas Polri Hentikan One Way dari KM 424 Kalikangkung hingga KM 263 Pejagan
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Prakiraan Cuaca Sulsel 25 Maret 2026: Pagi Makassar Hujan Ringan, Angin Kencang di Beberapa Wilayah
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Kata-Kata Bos Buruh Kritik Keras WFH ASN-Swasta, Sebut Keliru Soal BBM
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Yaqut Selesai Diperiksa KPK Usai Kembali Jadi Tahanan Rutan
• 26 menit laludetik.com
thumb
Indonesia: From Middle Power to Leading Value Creator in a Fragmented World
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.