Penulis: Fityan
TVRINews – Washington
Ketegangan Regional Meningkat Saat Donald Trump Mengklaim Adanya Negosiasi Rahasia dengan Iran
Amerika Serikat bersiap mengerahkan unit tempur dari Divisi Airborne ke-82 ke Timur Tengah di tengah eskalasi serangan udara yang meluas di kawasan tersebut.
Ini terjadi bersamaan dengan pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump yang mengklaim bahwa Washington sedang terlibat dalam pembicaraan "sangat baik" dengan Teheran untuk mengakhiri konfrontasi bersenjata.
Berdasarkan laporan yang dirilis The Guardian , sekitar 3.000 personel pasukan elite yang memiliki kemampuan diterjunkan dalam waktu kurang dari 24 jam tersebut akan bergabung dengan ribuan marinir AS yang telah berada di Teluk.
Penguatan militer ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi pengamanan Selat Hormuz atau blokade terhadap pusat minyak Iran di Pulau Kharg.
Eskalasi di Lapangan
Situasi keamanan memburuk drastis pada Rabu 25 Maret 2026 pagi waktu setempat setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi peluncuran gelombang serangan baru yang menargetkan lokasi strategis di Israel, termasuk Tel Aviv. Serangan tersebut juga menyasar pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.
Otoritas penerbangan sipil Kuwait melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) yang menghantam tangki bahan bakar di bandara internasional setempat, memicu kebakaran hebat.
Sementara itu di Lebanon, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan orang di wilayah Sidon dan kamp pengungsi Palestina.
Klaim Diplomasi di Tengah Penyangkalan
Di Ruang Oval, Presiden Trump menyatakan optimisme mengenai kesepakatan damai. Ia menyebut Iran telah menawarkan "hadiah spesifik" terkait aliran minyak dan gas sebagai bukti keseriusan mereka.
"Mereka akan membuat kesepakatan. Segalanya dimulai dengan kesepakatan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Jared Kushner terlibat aktif dalam proses tersebut.
Namun, narasi diplomasi ini dibantah keras oleh pihak militer Iran. Letkol Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas pusat Khatam Al-Anbiya, menuduh Washington hanya berhalusinasi.
"Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri Anda sendiri? Kata pertama dan terakhir kami tetap sama: pihak seperti kami tidak akan pernah bersepakat dengan pihak seperti Anda," tegas Zolfaghari melalui media pemerintah Iran.
Dilema Internal Washington
Meski Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa diplomasi sedang dieksplorasi, ia menegaskan operasi militer tetap berjalan tanpa henti. Ketegangan internal juga tampak di kabinet AS; Trump mengakui bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth merasa "kecewa" dengan prospek gencatan senjata.
"Pete tidak ingin masalah ini diselesaikan melalui perundingan. Mereka (Hegseth dan Jenderal Dan Caine) lebih tertarik untuk memenangkan pertempuran ini sepenuhnya," ungkap Trump.
Dampak Kemanusiaan dan Geopolitik
Memasuki minggu keempat konflik, angka kematian warga sipil terus merangkak naik. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan sedikitnya 1.348 warga sipil tewas di pihak mereka sejak perang bermula.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan terus melanjutkan serangan terhadap Iran dan infrastruktur Hizbullah di Lebanon.
Beberapa negara seperti Pakistan, Oman, dan Mesir dikabarkan berupaya menjadi mediator untuk membuka saluran komunikasi antara Washington dan Teheran guna mencegah kehancuran infrastruktur energi yang lebih luas di kawasan Teluk.
Editor: Redaktur TVRINews





