Harga BBM Ugal-ugalan karena Perang, EV China Bisa Ketiban Berkah

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Mobil-mobil baru, termasuk kendaraan listrik buatan China dari perusahaan BYD. REUTERS/Yves Herman/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Guncangan pasar minyak yang bersejarah serta lonjakan harga bahan bakar saat ini menjadi momentum baru bagi transisi ke kendaraan listrik (EV). Kondisi ini disambut antusias oleh para produsen EV asal China yang kini sangat berhasrat untuk memenuhi permintaan pasar global.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah mengganggu pasokan bahan bakar fosil kritis dari Timur Tengah pada Rabu, (25/03/2026). Hal ini mendorong harga minyak mentah melonjak hingga mencapai US$119 per barel pada pekan lalu, yang kemudian memicu kekhawatiran akan inflasi yang memburuk hingga resesi global.

Namun, gejolak ini justru datang di waktu yang "sangat tepat" bagi industri EV China. Meskipun China memproduksi dan mengekspor lebih banyak mobil listrik dibandingkan negara lain, para produsen mobilnya menghadapi persaingan harga yang sengit serta perlambatan pertumbuhan di pasar domestik, sehingga merek-merek China berada di bawah tekanan besar untuk mencari pasar lain.


Pilihan Redaksi
  • Trump Klaim Negosiasi Damai-Iran Bantah Total, Siapa yang Bohong?
  • Serangan Drone Iran Hantam Tangki BBM, Bandara Kuwait Kebakaran
  • Sukses Lobi Iran, Kapal Tanker Thailand Melenggang di Selat Hormuz

Analis menyatakan bahwa saat EV China menjadi lebih murah dan harga bensin menjadi lebih mahal, kombinasi tersebut kemungkinan besar akan memacu ekspansi global industri ini secara luar biasa. Hal ini diprediksi terjadi terutama di negara-negara Asia yang menanggung beban terberat dari kekurangan bahan bakar.

Direktur Pelaksana Sino Auto Insights, Tu Le, mengatakan bahwa terdapat potensi bagi merek-merek China untuk melakukan banyak terobosan ke Asia di tengah tingginya biaya bensin. Ia menegaskan bahwa dirinya akan melihat mereka mengambil keuntungan penuh dari situasi tersebut.

Meskipun investasi pada energi terbarukan di Asia terus meningkat, konflik selama tiga minggu di Timur Tengah telah menyoroti ketergantungan kawasan ini pada impor minyak. Sekitar 60% pasokan minyak mentah Asia berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah membatasi aliran kargo secara ketat.

Dalam laporan terbarunya, lembaga pemikir energi Ember menyebut EV sebagai tuas terbesar untuk memangkas tagihan impor. Lembaga tersebut memperkirakan bahwa penggunaan kendaraan listrik tahun lalu berhasil menekan konsumsi minyak mentah global sebesar 1,7 juta barel per hari, atau sekitar 70% dari ekspor Iran pada tahun 2025.

Para analis menilai krisis minyak saat ini bisa menjadi titik balik lain bagi industri energi bersih di Asia, serupa dengan bagaimana invasi Rusia ke Ukraina mendorong investasi energi terbarukan di Eropa. Hal ini dianggap sebagai pengingat bagi konsumen mengenai volatilitas harga bahan bakar fosil.

Analis utama dan pendiri Centre for Research on Energy and Clean Air, Lauri Myllyvirta menjelaskan bahwa ketika terjadi satu lonjakan harga dalam lingkungan inflasi rendah, orang mungkin bisa mengabaikannya. Namun, ketika terjadi lonjakan lagi, hal itu bisa menjadi momen yang menyadarkan fakta bahwa harga sangat fluktuatif dan mengendarai kendaraan bensin hanya akan membuat pengguna terus terpapar pada risiko tersebut.

Di sisi lain, China yang memperoleh lebih dari 40% minyaknya dari Timur Tengah justru mulai memetik hasil dari peralihan ke energi terbarukan. Dengan cadangan minyak terbesar di dunia serta statusnya sebagai pembangkit energi angin dan surya terbesar, China dinilai lebih terlindungi dari krisis energi dibandingkan negara Asia lainnya.

"Penyebaran EV di China, yang menyumbang sekitar 50% dari penjualan mobil baru dan sekitar 12% dari seluruh kendaraan terdaftar, telah memotong konsumsi minyak negara tersebut hingga hampir 10% tahun lalu," kata Myllyvirta kepada CNN International.

Myllyvirta menambahkan bahwa dari perspektif China, skenario ini adalah tepat seperti apa yang ada di benak mereka saat menjalankan strategi keamanan energi.

Direktur Eksekutif Institute of Middle East Studies di Peking University HSBC Business School, Zhu Zhaoyi mengatakan krisis minyak dapat mempercepat ambisi energi bersih China saat ini, khususnya mencapai puncak emisi pada tahun 2030 dan netralitas karbon pada tahun 2060.

Zhaoyi menegaskan bahwa kepemimpinan China telah melihat kejadian ini sebelumnya. Menurutnya, setiap kali ada instabilitas di Timur Tengah, hal itu memperkuat pelajaran yang sama bahwa bergantung pada impor bahan bakar fosil bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga merupakan masalah keamanan nasional.

Dukungan negara yang membantu China menjadi pemimpin global dalam EV yang terjangkau juga telah menciptakan lanskap persaingan yang kejam bagi produsen mobil lokalnya. Banyak dari mereka kini berjuang untuk bertahan hidup di pasar yang kelebihan pasokan.

Perusahaan konsultan AlixPartners memperkirakan bahwa hanya sekitar 15 dari 129 merek EV China yang ada di pasar selama tahun 2024 yang akan layak secara finansial pada tahun 2030. Analis memperkirakan permintaan domestik akan melambat lebih lanjut seiring langkah pemerintah China menghapus subsidi.

Konsultan otomotif dari AlixPartners, Yichao Zhang berpendapat bahwa lonjakan harga minyak baru-baru ini mungkin memberi produsen mobil dorongan yang sangat dibutuhkan di dalam negeri, namun mereka tetap membutuhkan pasar luar negeri untuk menyerap kelebihan pasokan.

Zhang mengatakan bahwa meskipun kenaikan harga minyak dapat membantu memperbesar kue EV di China, ukurannya tidak akan menjadi dua kali lipat. Ia mengaku tidak berpikir hal itu dapat menyelesaikan masalah kelebihan kapasitas dengan segera.

Kelebihan kapasitas tersebut tampaknya tidak akan menguntungkan konsumen di Amerika Serikat (AS), di mana tarif tinggi secara efektif telah mengunci EV China keluar dari pasar demi melindungi produsen lokal. Awal tahun ini, Presiden AS Donald Trump tampak siap menyambut merek EV China, namun hanya jika mereka membangun pabrik di negara tersebut.

Namun di Asia, banyak negara sangat membutuhkan cara untuk memangkas penggunaan energi karena stok bahan bakar yang menyusut. Beberapa negara seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam bahkan telah menginstruksikan warganya untuk bekerja dari rumah dan membatasi penggunaan AC, sementara produsen EV terkemuka Vietnam, VinFast, mulai menawarkan diskon besar-besaran.

Analis energi Asia di Ember, Lam Pham mengatakan EV China memiliki keunggulan di sebagian besar pasar Asia berkat daya saing harga, teknologi baterai canggih, dan rantai pasokan yang komprehensif.

Pham menyimpulkan bahwa meningkatnya volatilitas harga bahan bakar dan dukungan kebijakan yang lebih kuat berarti pasar EV di Asia akan tumbuh pesat. Ekspansi ini menurutnya akan menguntungkan produsen EV secara keseluruhan, terutama mereka yang dapat meningkatkan skala dengan cepat dan menawarkan model yang terjangkau.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Perang Bikin Harga Minyak & Inflasi Naik - Beban APBN Meningkat

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
850 Beauty Enthusiasts Ramaikan Glow Fest 2.0 by Geng Glowing
• 9 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Rest Area KM52B Tol Jakarta-Cikampek Ditutup Sementara, Ini Alternatif Penggantinya
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Na Willa Jadi Bukti Kreativitas Perfilman Indonesia
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Bakal Kunker ke Jepang 29-31 Maret, Bertemu Kaisar hingga PM
• 3 jam laludetik.com
thumb
Commuter Line Wilayah 8 catat 652.692 pengguna selama Lebaran
• 22 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.