Kebuntuan Timur Tengah: Ancaman Perang Total dan Disrupsi Global

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Warga menyaksikan dan mengambil gambar saat kobaran api dan asap membubung dari fasilitas penyimpanan minyak yang terkena serangan saat kampanye militer AS-Israel di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026). (Sumber: Alireza Sotakbar/ISNA via AP)

Oleh: Julius Sumant, Jurnalis KompasTV

Hingga pekan ketiga, Perang AS-Israel kontra Iran belum ada tanda-tanda deeskalasi. Sebaliknya, tanda-tanda eskalasi justru menguat. Indikasinya, jangkauan serangan makin meluas dan targetnya tak hanya obyek militer. Serangan Israel menarget depot minyak Iran, salah satunya Shahran dekat Teheran. Perang asimetris Iran juga menyasar sejumlah target non-militer seperti airport, pelabuhan, instalasi minyak dan pusat komersial di sejumlah negara Teluk. 

Membalas intensnya serangan AS dan Israel, Iran belakangan meluncurkan misil balistik andalan terbaru seperti Khorramsharr-4. Misil balistik ini disebut-sebut yang ditembakkan Iran ke pangkalan AS-Inggris Diego Garcia di Samudra Hindia, meski dibantah Kementerian Luar Negeri Iran sebagai operasi "false flag".

Persona-non-grata atau pengusiran atase pertahanan dan diplomat Iran oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga menunjukkan peningkatan ketegangan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ultimatum Presiden Donald Trump akan menyerang pusat energi Iran jika blokade Selat Hormuz tidak dibuka mengindikasikan jalur diplomasi tertutup oleh dominasi narasi perang. 

Kalau pun ada pernyataan Trump menunda serangan selama lima hari untuk memberi ruang negosiasi, realitas belum berubah: opsi penggunaan kekuatan militer masih ada di atas mejanya di Gedung Putih. Dalam ketidakpastian itu, saling serang menyasar target militer terus berlangsung. Pada saat yang sama Trump membuka celah diplomasi, operasi darat ke wilayah Iran tetap menjadi opsi terbuka. Washington tengah memobilisasi pasukan elit respons cepat Divisi Linud 82, Gugus Serang Amfibi USS Tripoli dan USS Boxer ke Timur Tengah yang diduga disiapkan untuk rencana operasi darat di Iran.

Spiral Perang Militer ke Perang Total

Hampir sebulan perang tak kunjung menampakkan hasil akhir. AS dan Israel gencar menggempur instalasi militer Iran, tapi mampu diimbangi Iran dengan serangan balasan yang destruktif ke wilayah Israel dan sejumlah pangkalan Amerika Serikat di negara-negara Arab Teluk. Iran sendiri kehilangan banyak aset militer penting tapi berhasil menjaga kapasitas misil balistik dan drone sebagai senjata andalan selama perang atrisi.

Kebuntuan militer untuk meraih keuntungan strategis memerangkap kedua belah pihak dalam konflik spiral yang mengarah ke perang total. Total war mencerminkan kondisi kaburnya batasan antara subyek militer (kombatan) dan subyek sipil, menghapus pemisahan target militer dari obyek sipil. Contoh paling nyata terjadi ratusan anak di sebuah sekolah di Minab, Iran Selatan, tewas terkena serangan rudal Tomahawk AS. Selain di Minab, dilaporkan ada lebih dari 60 sekolah  di Iran rusak akibat gempuran serangan udara.

Laporan terverifikasi sejumlah media juga mengungkap sedikitnya ada 18 serangan terhadap fasilitas kesehatan di seluruh Iran dengan korban sejumlah tenaga medis dan pasien meninggal dunia. Serangan ke unit infrastruktur energi seperti ladang gas South Pars dan fasilitas desalinasi yang vital menunjukkan menarget personel dan aset militer saja tak cukup untuk menundukkan Iran. Memperluas konflik ke ranah sipil dengan menggangu pasokan air dan listrik dinilai para perencana perang bisa menekan Teheran untuk mengubah arah peperangan.

Di pihak lain, balasan serangan balistik juga kerap menyasar wilayah permukiman padat di Tel Aviv hingga Ashkelon. Kawasan industri Haifa dan Beit Shemesh yang berdekatan dengan kawasan permukiman dilaporkan beberapa kali terkena gempuran Iran. Di luar target militer, Iran dilaporkan juga menarget sejumlah infrastruktur sipil di negara-negara Arab Teluk, antara lain sarana transportasi, fasilitas minyak dan gas serta kawasan komersial lain.

Pergeseran perang dari target militer ke target sipil dan multidimensi merefleksikan terjadinya kebuntuan strategis di  kedua belah pihak yang berperang. Dalam situasi zero sum game, para perancang perang mencari celah bagaimana mengeksploitasi keunggulan strategis dengan menuntut pihak lain menyerah tanpa syarat. Dari dinamika perang selama tiga pekan terakhir, kehancuran militer lawan tidak berarti kemenangan perang. 
Jika penghancuran di level state belum cukup menentukan hasil perang, maka jalan lain ditempuh dengan penghancuran obyek yang melekat pada level society. Caranya mengarahkan perang agar menimbulkan efek collateral damage sebesar mungkin di sektor ekonomi, sosial dan politik. Dus, perang total skala penuh memprioritaskan kehancuran eksistensial  ketimbang aspek diplomatik yang menjanjikan kompromi politik antar pihak yang bertikai.

Dalam zero sum game, insentif mendapatkan keuntungan strategis dengan mengalahkan pihak lain lebih dominan sebagai tujuan utama ketimbang menunggu insentif yang diperoleh dari membangun fondasi saling percaya (mutual building meassure) yang penting untuk perdamaian. Perang yang intens dengan pelipatgandaan serangan balasan membuat siklus kekerasan sulit diputus, malah mengeskalasi konflik setahap demi setahap mendekati perang total.

Penulis : Tito-Dirhantoro

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • perang
  • amerika serikat
  • iran
  • israel
  • perang iran
  • donald trump
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terpopuler Timnas Indonesia: Ipswich Town Tak Habis Pikir dengan Elkan Baggott, Media Vietnam Heran, hingga Calvin Verdok Bikin Media Prancis Heran
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Sesi 1 Ditutup Menguat ke Level 7.199,20
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Gempa Hari Ini Guncang Gunungkidul DIY, Cek Kekuatan Magnitudonya!
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Arus Balik Lebaran, Penumpang Terminal Guntur Meningkat
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini 25 Maret 2026 Naik Tipis Rp7.000, Harganya Jadi Rp2.850.000 per Gram
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.