Prinsip hidup sederhana adalah sesuatu yang sering diusahakan oleh banyak orang. Namun tidak sedikit juga yang tergiur dengan godaan dunia dan hidup bermewah-mewah. Godaan ini tidak dapat dirasakan oleh banyak orang, namun jika mendapatkan kenikmatan berupa harta dan tahta, masih terdapat orang yang tidak bijak memanfaatkannya.
Harta dan tahta dapat menjadi penentu sifat seseorang. Apakah dengan mendapatkan keduanya ia akan berlaku sombong atau justru dapat menahan diri dan hidup sederhana. Diantara banyak kasus yang dapat teguh dengan prinsip sederhana adalah Marcus Aurelius dengan stoikisme dan Ki Ageng Suryomentaram dengan kearifan lokal.
Marcus AureliusMarcus Aurelius adalah kaisar Romawi sebelum kerajaannya runtuh di tangan anaknya. Ia dianugerahi kekuasaan tertinggi di Romawi yang sifatnya mutlak dan juga harga yang berlimpah. Secara potensial, ia bisa saja berlaku sombong, bermewah-mewah, dan egois.
Marcus Aurelius justru dapat menahan godaan duniawi tersebut dan memilih untuk hidup sederhana. Dibuktikan dalam karyanya yang berjudul Meditations yang berisi tentang intropeksinya setiap hari. Ia mencari esensi hidup yang berujung pada pengendalian diri, diantaranya adalah berlaku sederhana.
Marcus Aurelius dengan berani menolak kemewahan yang ditawarkan di posisinya. Hal ini disebabkan karena ia menyadari bahwa kebahagiaan batin tidak lahir dari kemewahan tersebut. Ia meyakini bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kebajikan batin dan hidup yang selaras dengan alam (menerima kebaikan dan keburukan dengan lapang dada).
Ki Ageng SuryomentaramKi Ageng Suryomentaram adalah seorang pangeran dari keraton Yogyakarta, putra sultan Hamengkubuwono VII. Ia dianugerahi jalan hidup yang mapan dengan harta dan tahtanya. Namun kemewahan istana tidak membuat hatinya nyaman di sana.
Ki Ageng Suryomentaram hidup di istana, keraton Yogyakarta dengan fasilitas yang cukup. Pada usia remaja, ia justru dengan berani menghindar dari kemewahan yang disuguhkan. Hal ini disebabkan karena ia tergugah melihat rakyat di luar istana (petani, pedagang, dan sebagainya) begitu bahagia dalam kesederhanaan.
Ki Ageng Suryomentaram memilih untuk meninggalkan kehidupan istana dan menjadi rakyat biasa. Dalam perjalannya, ia menggagas konsep Kawruh Jiwa sebagai rangkuman dari perjalanan spiritualnya untuk mencari kebahagiaan sejati. Ia berangkat dari melakukan mawas diri (intropeksi) untuk menemukan aku yang sejati. Aku yang sejati inilah yang membawa manusia kepada ketenangan hidup, salah satunya dilakukan dengan hidup sederhana dan secukupnya.





