Pulau Sada, Peristirahatan Terakhir Raja Bubon?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kisah tentangnya nyaris tenggelam dalam ingatan. Jarang diperbincangkan, pun belum banyak disentuh kajian ilmiah. Tentangnya juga, belum ada yang mengulas sejarah secara saintifik, sehingga perlahan-lahan menghilang dari pengetahuan generasi penerus. Padahal, ia adalah sosok yang pantang tunduk pada Belanda, dia adalah Raja Bubon.

Kerajaan Bubon pada masanya meliputi delapan kemukiman: Pasi, Mesdjid Toeha, Menomboe, Mesdjid Baro, Krueng Tinggai, Litjeh, Soeak Pangkat, dan Tjot Moerong. Jika ditarik ke peta hari ini, wilayah tersebut mencakup Kecamatan Samatiga, Kecamatan Bubon, serta sebagian Kecamatan Woyla di Aceh Barat. Dari lanskap inilah perlawanan terhadap kolonialisme berkobar.

Catatan kolonial Belanda dalam dokumen “De Zeemacht in Nederlandsch-Indie 1874–1888” karya W. J. Cohen Stuart memberi gambaran betapa seriusnya ancaman yang dirasakan Belanda dari wilayah ini. Pada November 1884, Kerajaan Boeboen dibombardir menggunakan kapal jenis Raderstoomschip bernama “Soerabaia”. Sebanyak 15 granat meriam dihujamkan ke wilayah kerajaan.

Namun serangan itu tidak membuat perlawanan surut. Bahkan, Belanda kembali melancarkan serangan lanjutan pada 7 Juni di tahun yang sama. Kali ini, mereka menggunakan kapal yang lebih canggih, jenis Stoomschip bernama “Madura”, yang secara langsung menghantam rumah Raja Boeboen. Serangan bertubi-tubi ini merupakan bentuk balasan atas aksi Raja Boeboen dan pasukannya yang sebelumnya menyerang pos Belanda di Meulaboh.

Perlawanan yang terus berlangsung di berbagai wilayah Aceh, termasuk Bubon, memaksa Belanda mengubah strategi militernya. Pada tahun 1885, mereka menerapkan Stelsel Konsentrasi - taktik dengan membangun markas di pusat wilayah yang dikelilingi area kosong sejauh sekitar 1.000 meter tanpa pohon maupun permukiman. Strategi ini lahir dari rasa trauma terhadap serangan mendadak para pejuang Aceh.

Di bulan November 1884, Belanda juga mencatat keberhasilan mereka menyita sebuah perahu (prauw) yang mengangkut opium dalam jumlah besar saat melakukan blokade laut di perairan kerajaan Boeboen. Dalam konteks peperangan kala itu, opium merupakan bagian penting dari logistik medis sebagai pereda nyeri bagi para pejuang.

Perlawanan dari wilayah Bubon tidak hanya dilakukan secara terbuka. Berdasarkan ingatan kolektif masyarakat, para pejuang juga memanfaatkan kondisi geografis setempat untuk menjalankan perang gerilya. Rawa nipah yang lebat dijadikan jalur taktis—pintu masuk sekaligus benteng alami. Perang yang dikenal dengan strategi ini dinamai “Cang Nipah”, sebuah bentuk strategi cerdik dalam menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih modern.

Namun, perlawanan tidak berhenti pada medan tempur. Ia juga hadir dalam bentuk lain - menyembunyikan jejak. Berdasarkan penuturan para tetua kampung (Mellyan, 2022), dahulu di kawasan Masjid Tuha dan Cot Seumeureung - yang kini masuk wilayah kecamatan Samatiga - terdapat banyak batu nisan berukir yang menjadi tempat persemayaman para penguasa.

Akan tetapi, nisan-nisan tersebut kemudian dipindahkan, bahkan dikubur secara sengaja oleh para keturunannya. Tindakan ini dilakukan untuk mengelabui Belanda, yang kerap menjadikan keberadaan nisan sebagai petunjuk untuk melacak, menginterogasi, dan mengawasi potensi perlawanan dari garis keturunan raja. Dengan kata lain, menyembunyikan nisan adalah bagian dari strategi - agar identitas tidak mudah terbaca, dan perlawanan tetap dapat bertahan.

Artefak Batu Nisan di Pulau Sada

Malam itu, di awal Ramadhan 1447 H, Mukhsin—seorang budayawan Bubon—memperlihatkan sebuah foto kepada saya. Foto itu menampilkan sebuah batu nisan kuno, berdiri sendiri di tengah kesunyian Pulau Sada.

Bang, menurut penuturan masyarakat, dulu sebelum tsunami, di pulau ini ada banyak nisan seperti ini. Sekarang tinggal satu. Kalau tidak kita upayakan jadi cagar budaya, sejarah Bubon bisa hilang tanpa jejak artefak,” ujarnya.

Pulau Sada terletak pada Koordinat 04°12′42.18″ N 96°03′02.94″ E yang berada di desa Suak Timah, kecamatan Samatiga yang dahulunya masuk ke wilayah Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Mukhsin mencatat detail letak nisan kuno tersebut agar jika terjadi bencana abrasi bahkan tsunami, letak makam tidak ikut hilang.

Pulau Sada merupakan bagian dari kawasan rawa nipah yang dahulu menjadi benteng perang Gerilya melawan Belanda. Untuk mencapai pulau Sada, seorang harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit menggunakan perahu, menyusuri rawa nipah yang dahulu menjadi jalur strategis perang gerilya.

Secara geografis, pulau ini hanya berjarak sekitar 400 meter dari bibir pantai. Kedekatan ini sekaligus menjadi ancaman. Tanpa upaya perlindungan, satu-satunya artefak yang tersisa itu sangat rentan hilang—baik oleh abrasi maupun kemungkinan tsunami yang, dalam catatan sejarah Aceh, bukanlah peristiwa yang sekali terjadi.

Dari sisi arkeologi, nisan tersebut menyimpan petunjuk penting. Merujuk pada klasifikasi batu Aceh yang disusun oleh Othman (1988), satu-satunya batu nisan yang tersisa di pulau Sada tersebut patut diduga masuk dalam klasifikasi huruf (J) atau huruf (K) yang dikaitkan dengan periode tahun 1700an sampai dengan 1800an dengan warna dasar coklat muda.

Secara morfologis, nisan tipe ini memiliki dasar persegi dengan ukiran, ditopang oleh badan vertikal tinggi menyerupai pilar. Bagian tubuhnya beralur atau bersegi banyak, sementara bagian puncaknya - yang kini tampak patah - dulunya berbentuk hiasan: berukir untuk tipe (J) dan meruncing untuk tipe (K).

Menariknya, Mukhsin mengingat adanya patahan di bagian atas nisan tersebut.

Dulu saya tidak paham kenapa bagian atasnya patah. Tapi setelah tahu cirinya, saya yakin itu bagian ‘topi’ yang hilang,” jelasnya.

Jika kita tarik kembali pada catatan W. J. Cohen Stuart, maka patut diduga pulau Sada ini telah menjadi komplek pemakaman Kerajaan Bubon, intensitas perang pada tahun 1800an sangat erat kaitannya dengan jenis batu nisan yang diklasifikasi oleh Othman Yatim sebagai batu nisan pada tahun 1700an hingga 1800an.

Pada masa itu pula, banyak tokoh yang disebut dalam dokumen Belanda maupun manuskrip Aceh di antaranya Teuku Iskandar Ali (Po Gah), Teuku Bubon Tjut Radja yang memerintah wilayah Bubon. Lalu ada juga Teuku Meurah Kaya dan Teuku Nja Oed yang hidup di Lhok Bubon, wilayah yang juga bertetanggaan dengan Pulau Sada.

Penelitian Sejarah dan Jejak yang Masih Tersisa

Dalam konteks penelitian sejarah Aceh, pendekatan arkeologi telah memberi kontribusi yang sangat signifikan. Salah satu tokoh penting dalam bidang ini adalah Husaini Ibrahim.

Melalui penelitiannya, ia berhasil mengungkap jejak awal masuknya Islam di Nusantara melalui Gampong Pande, Banda Aceh - sebuah temuan yang sekaligus menantang kesimpulan sebelumnya berbasis filologi yang menunjuk Peureulak sebagai pintu masuk awal.

Dalam penelitiannya, Husaini Ibrahim (2014) mengidentifikasi bahwa nisan kuno di Aceh umumnya terbuat dari batu pasir, granit, dan andesit dengan warna dasar coklat muda. Selain itu, terdapat pula nisan berbahan marmer yang didatangkan dari luar Aceh -menandakan adanya jaringan perdagangan dan interaksi budaya yang luas pada masa itu.

Lebih jauh, penelitian tersebut juga melibatkan pengujian laboratorium terhadap sampel nisan tipe (A) dan (D) di Malaysia dan Amerika. Namun, hingga kini, nisan tipe (J) atau (K)—seperti yang ditemukan di Pulau Sada—belum pernah melalui kajian petrografi. Kekosongan ini sebenarnya meminta peran arkeolog muda Aceh mengambil tempat, yakni melanjutkan jejak penelitian untuk mengungkap lapisan sejarah yang masih tersembunyi.

Hilangnya hampir semua batu nisan kuno di komplek makam pulau Sada akibat hantaman gelombang Tsunami tahun 2004 telah ikut menimbulkan misteri mengenai jejak awal Kerajaan Bubon dari segi Arkeologi.

Hal ini semakin dipersulit akibat peristiwa penghilangan jejak nisan di kawasan Masjid Tuha dan Cot Seumeureung, akibat panjangnya masa perang saat itu, tidak ada lagi upaya mengembalikan nisan yang telah dipindahkan dan dikubur ke tempat semula sehingga generasi penerus kehilangan jejaknya.

Kedua peristiwa ini menyebabkan kita menjadi tidak tahu apakah ada jenis nisan yang lebih tua dari satu-satunya nisan yang tersisa saat ini.

Namun begitu, daripada meratapi nasib, lebih baik para sejarawan Aceh berupaya maksimal menjaga sejarah dari artefak dan manuskrip serta ingatan kolektif masyarakat yang masih ada. Dari situ, jejak Kerajaan Bubon - yang kini nyaris hilang - masih mungkin disusun kembali.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Lebaran Makin Nyaman, Ini Lokasi Serambi MyPertamina di Jalur Wisata
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Arus Balik Lebaran di Tol Cipali Terpantau Lancar, Buka-Tutup Rest Area Masih Diterapkan
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Lebaran, Ketupat, dan Rindu yang Diam-Diam Menyakitkan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Gak Mudah Masuk Skuad John Herdman! Beckham Putra Bongkar Ketatnya Persaingan Lini Tengah Timnas Indonesia
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Jumat Agung 2026 Tanggal Berapa dan Apakah Libur?
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.