Jakarta, ERANASIONAL.COM – Film Pelangi di Mars menjadi salah satu karya lokal yang mencuri perhatian publik pada momen Lebaran 2026. Disutradarai oleh Upie Guava, film ini hadir dengan pendekatan yang terbilang berani, menggabungkan genre fiksi ilmiah dan drama keluarga dalam satu narasi yang berlatar masa depan. Proyek ini diketahui telah dikembangkan sejak tahun 2020, menjadikannya salah satu produksi dengan waktu pengerjaan yang cukup panjang di industri perfilman Indonesia.
Sejak awal diumumkan, film ini sempat mendapat ekspektasi tinggi karena dianggap sebagai langkah baru dalam eksplorasi genre sci-fi di tanah air. Dengan memanfaatkan teknologi produksi modern serta konsep visual futuristik, banyak yang berharap film ini mampu menjadi tonggak perkembangan industri kreatif Indonesia. Namun, setelah resmi tayang, respons publik justru terbelah dan memicu perdebatan luas, khususnya di media sosial.
Salah satu isu yang paling ramai diperbincangkan adalah dugaan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses produksi. Sejumlah penonton menilai bahwa beberapa elemen visual dalam film terlihat kurang natural dan terlalu bergantung pada teknologi digital. Kritik ini muncul karena sebagian adegan dinilai memiliki tekstur visual yang tidak konsisten dengan standar film live-action pada umumnya.
Menanggapi hal tersebut, Upie Guava memberikan klarifikasi bahwa penggunaan AI dalam film tersebut hanya bersifat sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas manusia. Ia menjelaskan bahwa proses produksi tetap melibatkan banyak tenaga profesional dengan pendekatan kreatif yang kompleks. Teknologi seperti virtual production, extended reality (XR), motion capture, serta penggunaan mesin grafis seperti Unreal Engine memang dimanfaatkan, namun seluruhnya berada di bawah kendali tim kreatif manusia.
Menurutnya, film tidak bisa sepenuhnya dibuat oleh AI karena unsur emosi, rasa, dan intuisi tetap menjadi bagian penting dalam proses penciptaan karya. Ia juga menegaskan bahwa proyek ini merupakan hasil kerja kolektif dari para kreator yang telah berkontribusi selama bertahun-tahun untuk mewujudkan visi cerita yang diusung.
Selain isu teknologi, kontroversi lain yang mencuat adalah dugaan penggunaan buzzer dalam strategi promosi film. Beberapa warganet merasa bahwa gelombang respons positif terhadap film ini di awal penayangan terlihat terlalu masif dan tidak sepenuhnya organik. Hal ini memicu spekulasi bahwa ada upaya tertentu untuk membentuk opini publik secara terstruktur.
Menanggapi tudingan tersebut, Upie Guava membantah keras adanya praktik promosi semacam itu. Ia menyatakan bahwa tidak ada strategi instan yang dapat memanipulasi selera penonton dalam jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan sebuah film tetap bergantung pada penerimaan publik yang nyata dan tidak bisa direkayasa.
Ia juga menegaskan bahwa tim produksi lebih memilih fokus pada kualitas karya dibandingkan terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif. Dalam pernyataannya di media sosial, ia bahkan menanggapi isu tersebut dengan nada tegas, menyiratkan bahwa perhatian publik justru menunjukkan bahwa film tersebut memiliki dampak yang cukup besar.
Di luar isu teknis dan promosi, kritik yang paling sering muncul dari penonton berkaitan dengan dialog dalam film. Banyak yang menilai bahwa percakapan antar karakter terasa kurang sesuai dengan latar waktu cerita yang berada di masa depan, tepatnya sekitar tahun 2090 di planet Mars. Penggunaan istilah-istilah yang populer di era sekarang dianggap mengurangi imersi dan konsistensi dunia yang dibangun dalam film.
Beberapa contoh dialog yang menjadi sorotan antara lain penggunaan istilah yang identik dengan tren media sosial masa kini. Hal ini membuat sebagian penonton merasa bahwa film tersebut belum sepenuhnya berhasil membangun atmosfer futuristik yang meyakinkan. Kritik ini menjadi cukup dominan karena dialog merupakan elemen penting dalam memperkuat narasi dan karakter.
Selain itu, ada pula penilaian bahwa alur cerita dan penulisan naskah belum cukup solid untuk mendukung konsep besar yang diusung. Beberapa pengamat film menilai bahwa ide yang diangkat sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum dieksekusi secara maksimal dari sisi storytelling. Ketidakseimbangan antara visual yang ambisius dan kedalaman cerita menjadi salah satu catatan utama dari para kritikus.
Meski demikian, tidak sedikit pula yang memberikan apresiasi terhadap keberanian film ini dalam mengeksplorasi genre yang relatif jarang digarap di Indonesia. Upaya untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda dianggap sebagai langkah penting dalam mendorong inovasi di industri perfilman nasional.
Pengamat industri kreatif menilai bahwa munculnya pro dan kontra terhadap sebuah karya merupakan hal yang wajar, terutama untuk proyek yang membawa pendekatan baru. Dalam konteks ini, Pelangi di Mars justru berhasil memicu diskusi publik yang luas mengenai arah perkembangan film Indonesia ke depan.
Perdebatan yang terjadi juga mencerminkan meningkatnya ekspektasi penonton terhadap kualitas produksi lokal. Dengan semakin banyaknya akses terhadap film internasional, standar penilaian publik pun ikut berkembang. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para sineas untuk terus meningkatkan kualitas karya mereka.
Di sisi lain, kehadiran teknologi seperti AI dalam industri film memang menjadi isu global yang terus berkembang. Banyak rumah produksi di berbagai negara mulai memanfaatkan teknologi ini untuk efisiensi produksi, namun tetap diiringi dengan perdebatan mengenai batasan penggunaannya. Kasus yang dialami film ini menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi baru dapat memicu respons beragam dari publik.
Pada akhirnya, film ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bahan diskusi yang mencerminkan dinamika industri kreatif saat ini. Terlepas dari berbagai kritik yang muncul, film ini telah berhasil menarik perhatian luas dan membuka ruang dialog mengenai inovasi, kreativitas, serta peran teknologi dalam dunia perfilman.
Respons publik yang beragam menunjukkan bahwa karya ini memiliki dampak yang signifikan, baik dari sisi apresiasi maupun kritik. Ke depan, hal ini dapat menjadi pelajaran penting bagi para pembuat film dalam mengembangkan karya yang tidak hanya ambisius secara visual, tetapi juga kuat dalam narasi dan relevan dengan ekspektasi penonton.





