Manchester, VIVA – Kepergian seorang bintang besar selalu menyisakan ruang kosong. Namun ketika yang pergi adalah pemain yang selama hampir satu dekade menjadi wajah klub, dampaknya jauh lebih dari sekadar kehilangan di atas lapangan. Itulah yang kini dirasakan Liverpool FC setelah Mohamed Salah memastikan akan meninggalkan Anfield di akhir musim.
Pengumuman ini bukan hanya menandai akhir perjalanan sembilan tahun Salah di Merseyside, tetapi juga membuka kembali perdebatan lama yang tak pernah benar-benar selesai, yaitu siapa pemain terbaik sepanjang sejarah Premier League?
Salah, yang datang dari AS Roma pada 2017, tidak hanya mencetak gol demi gol. Ia membangun ulang identitas Liverpool sebagai kekuatan besar. Dari klub yang lama haus gelar liga, Liverpool berubah menjadi juara Eropa dan kembali merajai Inggris. Dalam proses itu, Salah selalu berada di pusat cerita.
“Sayangnya, hari itu akhirnya datang,” ujar Salah dalam pernyataan perpisahannya.
“Saya tidak pernah membayangkan klub ini, kota ini, dan orang-orangnya akan menjadi bagian yang begitu dalam dalam hidup saya,” sambungya.
Secara statistik, Salah sudah menempatkan dirinya di jajaran elite. Ratusan gol, deretan penghargaan individu, hingga peran vital dalam gelar Liga Champions 2019 dan dua trofi Premier League menjadi bukti nyata.
Namun dalam menilai “yang terhebat”, angka saja tidak cukup. Ada faktor lain yang lebih sulit diukur: pengaruh terhadap tim. Di sinilah Salah memiliki keunggulan. Ia bukan sekadar bagian dari sistem, tetapi menjadi fondasi dari sistem itu sendiri, terutama di era Jürgen Klopp.
Dibandingkan dengan Para LegendaNama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Thierry Henry, hingga Kevin De Bruyne selalu masuk dalam diskusi pemain terbaik Premier League. Namun masing-masing memiliki konteks yang berbeda.
Ronaldo mencapai puncak luar biasa bersama Manchester United, tetapi periode dominasinya di Inggris relatif singkat sebelum ia melanjutkan karier ke level global.
Henry, ikon Arsenal FC, dikenal sebagai penyerang paling elegan dan mematikan di eranya. Namun ia datang ke tim yang sudah berada di jalur juara di bawah Arsène Wenger.





