Mencari Saham Potensi Cuan di Tengah Gejolak Harga Minyak Global

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak dunia berbalik melemah pada Rabu (25/3/2026) setelah muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mencari Saham Potensi Cuan di Tengah Gejolak Harga Minyak Global. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak dunia berbalik melemah pada Rabu (25/3/2026) setelah muncul sinyal negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka (futures) Brent turun 2,2 persen dan ditutup di level USD102,22 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terkoreksi 2,2 persen ke posisi USD90,32 per barel.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Naik di Tengah Pembicaraan Gencatan Senjata AS

Sebelumnya dalam sesi perdagangan Rabu, kontrak Brent sempat merosot hingga sekitar 7 persen.

Pelemahan ini terjadi setelah reli tajam yang sempat mendorong Brent menembus USD119 per barel pada intraday 19 Maret, dengan kenaikan sekitar 29 persen sepanjang bulan.

Baca Juga:
Bos Nvidia Klaim AGI Sudah Tercapai, AI Setara Kemampuan Manusia

Presiden AS Donald Trump menyatakan dari Oval Office bahwa Washington dan Teheran “sedang dalam negosiasi saat ini” dan Iran disebut tertarik mencapai kesepakatan damai.

Namun, Iran membantah adanya pembicaraan langsung, mencerminkan kontradiksi yang kerap muncul dalam setiap pemberitaan de-eskalasi konflik.

Baca Juga:
Investor Asing Lepas Saham Asia Senilai Rp850 Triliun Imbas Krisis Minyak

Trump juga menunda ancamannya menyerang infrastruktur energi Iran, sementara The New York Times melaporkan bahwa AS telah mengirim proposal 15 poin untuk mengakhiri perang.

Lonjakan harga minyak belakangan ini dinilai lebih dipicu ketegangan geopolitik dibandingkan faktor fundamental permintaan dan pasokan tradisional, dengan Selat Hormuz yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak global menjadi titik kritis.

Gangguan di kilang utama Timur Tengah dan ekspor LNG yang terhambat menambah tekanan pada distribusi energi global.

Analis perusahaan penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam catatannya menyebut pergerakan harga minyak akan terus berfluktuasi mengikuti perkembangan perang Iran.

Dampak fluktuasi ini langsung terasa di Indonesia.

Menurut riset MNC Sekuritas yang terbit pada 17 Maret 2026, transmisi harga minyak global ke dalam negeri terjadi melalui Indonesia Crude Price (ICP), yang memiliki korelasi hampir 95 persen dengan harga Brent.

Hampir setiap kenaikan Brent tercermin langsung pada ICP, tanpa penyangga signifikan.

Indonesia juga masih menghadapi defisit pasokan sekitar 1 juta barel per hari dan bergantung pada impor melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, sehingga ekonomi domestik sangat sensitif terhadap volatilitas harga minyak.

Upaya diversifikasi sumber impor dan percepatan pembangunan cadangan strategis 90 hari dinilai penting untuk meredam risiko ini.

Dalam sektor energi, kenaikan harga minyak membuka peluang signifikan bagi emiten hulu, terutama PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

MNC Sekuritas menilai setiap kenaikan USD1 per barel dari asumsi harga USD71 per barel dapat meningkatkan EBITDA MEDC sekitar USD4 juta.

Jika harga mencapai USD80 per barel, EBITDA berpotensi tumbuh 3 persen, sedangkan pada kisaran USD90-100 per barel pertumbuhan EBITDA bisa mencapai 6-10 persen seiring ekspansi margin yang lebih kuat.

“Hal ini menunjukkan bahwa laba MEDC sangat terdorong oleh kenaikan harga minyak, menjadikannya pihak yang paling diuntungkan di tengah kondisi pasar yang dipengaruhi oleh tren harga minyak yang naik,” tulis analis MNC Sekuritas.

Sebaliknya, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) relatif lebih defensif karena kontrak gas sebagian besar telah dikunci dengan harga stabil, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memiliki eksposur terbatas karena berbasis margin distribusi.

MNC Sekuritas pun menaikkan rekomendasi sektor energi menjadi overweight, menekankan bahwa kelangkaan pasokan, gangguan distribusi, dan volatilitas geopolitik menciptakan peluang kenaikan laba yang signifikan bagi emiten hulu.

Dengan korelasi kuat antara Brent dan ICP, MEDC menjadi pihak yang paling diuntungkan, sementara PGAS dan AKRA tetap defensif.

MNC Sekuritas menetapkan target harga MEDC di Rp1.950 per unit, AKRA di Rp1.450 per unit, dan PGAS di Rp2.200 per unit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski pasar global masih bergejolak, perusahaan dengan eksposur penuh terhadap harga minyak dapat menuai pertumbuhan laba material di tengah risiko geopolitik yang tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ide Aktivitas Produktif saat Gap Year
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Rancangan Perppu Tindak Pidana Ekonomi jadi Sorotan, Bisa Minim Pengawasan
• 55 menit lalukatadata.co.id
thumb
Pemkab Badung Perketat Pengawasan Pendatang di Terminal Mengwi saat Arus Balik Lebaran
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Arus Kendaraan Meningkat di Jalan Lingkar Bayur Bumiayu
• 30 menit lalutvrinews.com
thumb
Arus Balik, 100 Ribu Kendaraan Melintas Tol Kalikangkung
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.