FAJAR, JAKARTA – Misteri di balik pemeran video viral bertajuk Ibu Tiri vs Anak Tiri di kebun sawit akhirnya mulai terkuak. Di tengah derasnya penyebaran di TikTok dan X, sejumlah kejanggalan mencuat. Memunculkan dugaan bahwa video tersebut bukanlah kejadian nyata, melainkan konten yang sengaja dirancang untuk menarik perhatian publik.
Video ini sebelumnya ramai diperbincangkan karena mengusung narasi sensitif yang langsung memancing rasa penasaran warganet. Judul yang provokatif membuatnya cepat menyebar, bahkan menjadi perbincangan luas di berbagai platform media sosial.
Namun, setelah ditelusuri lebih dalam, konten tersebut ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Video yang beredar diduga bukan satu rekaman utuh, melainkan kumpulan potongan klip yang disusun untuk membangun cerita tertentu.
Kejanggalan paling mencolok terlihat dari detail visual para pemeran. Meski mengambil latar lokasi yang sama, yakni area perkebunan kelapa sawit, terdapat inkonsistensi pada pakaian yang dikenakan.
Dalam satu klip, pemeran perempuan tampak mengenakan kaus berwarna merah. Sementara di klip lain, ia muncul dengan pakaian berbeda. Hal serupa juga terjadi pada pemeran pria yang terlihat berganti busana di tiap potongan video.
Perbedaan ini mengindikasikan bahwa rekaman diambil dalam waktu berbeda, bukan satu kejadian yang berlangsung secara kontinu seperti yang dinarasikan.
Tak hanya itu, alur cerita dalam video juga terkesan terputus-putus. Sejumlah bagian penting justru disensor atau dipotong, sehingga menciptakan kesan adanya potongan cerita yang sengaja disembunyikan.
Kondisi ini memunculkan dugaan kuat bahwa video tersebut merupakan bagian dari strategi konten. Dengan membuat narasi menggantung, penonton didorong untuk terus mencari kelanjutan cerita, yang berujung pada meningkatnya jumlah penayangan dan interaksi.
Narasi Sengaja Dibuat agar Viral
Di sisi lain, penggunaan frasa Ibu Tiri vs Anak Tiri terbukti menjadi faktor utama yang membuat video ini viral. Narasi tersebut menyentuh isu domestik yang sensitif, sehingga mudah memancing emosi sekaligus rasa ingin tahu publik.
Meski demikian, isi video yang beredar tidak memberikan bukti atau penjelasan yang mendukung klaim tersebut secara utuh.
Hingga kini, identitas asli para pemeran maupun hubungan di antara mereka belum pernah terkonfirmasi. Bahkan, sejumlah caption seperti “day 1 nyawit” atau “drama kebun sawit” justru memperkuat dugaan bahwa video ini merupakan konten berseri yang telah dirancang sebelumnya.
Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi pengguna media sosial untuk lebih kritis dalam menyikapi konten viral. Di era digital, potongan video pendek yang dikombinasikan dengan judul provokatif mampu membentuk persepsi publik dengan cepat, meski belum tentu mencerminkan kenyataan. (*)





