Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan sekitar 99 persen pengungsi bencana di Sumatra, meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah meninggalkan tenda pengungsian dan kini menempati hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah.
Tito yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra menjelaskan, capaian tersebut dihitung berdasarkan perbandingan data terbaru dengan kondisi akhir 2025.
“Bagaimana kita menghitungnya? Ya, hitung saja 171 orang saat ini dibagi 2,1 juta pada data 2 Desember saat masih mengungsi. Itu kurang lebih 0,0008 persen, sehingga bisa dikatakan 99,96 persen sudah tidak ada lagi di tenda,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menegaskan pemerintah tidak pernah mengklaim seluruh pengungsi telah meninggalkan tenda, melainkan “hampir” atau “mendekati” 100 persen.
“Makanya ada kata-kata hampir atau mendekati 100 persen. Kita tidak mengklaim 100 persen,” ucap Tito.
Menurut Tito, sebagian kecil pengungsi yang masih bertahan di tenda disebabkan faktor akses, terutama di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau. Selain itu, ada pula warga yang memilih tidak pindah ke huntara.
“Masih ada 26 orang karena tingkat kesulitan pembukaan jalan dari pedalaman. Selain itu, ada 17 orang yang tidak ingin tinggal di huntara dan akhirnya dibangunkan langsung huntap (hunian tetap). Ini solusinya,” kata Tito.
Ia mencontohkan di Aceh Tamiang masih terdapat 26 kepala keluarga atau 96 jiwa yang berada di tenda akibat keterbatasan akses. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan hunian tetap sebagai solusi.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan pembangunan hunian tetap (huntap) telah mulai dilakukan lebih awal, meskipun masa transisi darurat menuju pemulihan baru akan berakhir pada 30 Maret 2026.
Menurutnya, percepatan pembangunan dilakukan karena kebutuhan mendesak masyarakat, khususnya di wilayah pedalaman.
“Masyarakat sudah sangat ingin segera dibangunkan hunian tetap. Oleh karena itu, meskipun masih tahap transisi dan belum masuk rehabilitasi dan rekonstruksi, kita sudah mulai membangunkan hunian tetap,” tutur Suharyanto.
Editor: Redaktur TVRINews





