Bisnis.com, JAKARTA — Perbankan mewaspadai munculnya risiko kredit akibat terganggunya rantai pasok industri kimia hingga turunannya seperti plastik akibat eskalasi konflik global.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Santoso mengungkapkan, gangguan pasokan bahan baku menjadi tantangan utama yang dihadapi sejumlah pelaku industri, seiring dengan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.
Dia menjelaskan, konflik global turut menghambat distribusi berbagai komoditas penting, termasuk bahan baku yang berkaitan dengan industri kimia dan turunan minyak. Hal ini secara langsung berdampak pada kelangsungan produksi di sektor tersebut.
Menurutnya, sejumlah nasabah dari sektor kimia telah mulai menyampaikan adanya kendala pasokan. Meski demikian, pelaku industri masih berupaya mencari alternatif sumber bahan baku dari negara lain guna menjaga keberlanjutan usaha.
“Bukan berarti mereka menyerah, tetapi sedang melakukan penyesuaian dengan mencari suplai alternatif,” ujar Santoso kepada media di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Santoso menambahkan, perbankan saat ini aktif melakukan asesmen untuk mengukur sejauh mana dampak gangguan tersebut terhadap kemampuan bayar debitur, termasuk potensi risiko terhadap keberlangsungan bisnis mereka.
Baca Juga
- IHSG Ditutup Menguat 2,75% Usai Libur Panjang, Saham BBCA, BUMI, hingga ASII Ngegas
- BCA (BBCA) Cetak Laba Bersih Rp9,22 Triliun per Februari 2026
- Prospek Saham BBCA dan BBNI Jelang Dividen Tahun Buku 2025 Cair
Dia juga menyinggung kemungkinan munculnya kondisi kahar (force majeure) di sejumlah sektor apabila gangguan rantai pasok terus berlanjut, yang pada akhirnya dapat memengaruhi tingkat produksi.
Meski tekanan mulai terasa di sektor tertentu, Santoso menegaskan bahwa secara umum fundamental industri perbankan masih cukup kuat. Permintaan kredit pun dinilai tetap terjaga, meskipun tidak merata di semua sektor.
Dalam situasi ini, dia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan bisnis, baik bagi pelaku usaha maupun perbankan.
“Ibaratnya ada waktunya mengerem dan ada waktunya menginjak gas. Jadi diperlukan kejelian dalam membaca situasi global yang masih sangat dinamis,” jelasnya.
Santoso juga mengingatkan bahwa perbankan perlu tetap responsif terhadap kondisi nasabah, terutama di sektor-sektor yang terdampak langsung oleh gangguan supply chain.
“Yang penting nasabah menyampaikan kondisi yang dihadapi, sehingga kami sebagai bank bisa lebih aware dan melakukan langkah antisipatif,” ujarnya.





