Iran Tolak Gencatan Senjata, Ingin Perang Sepenuhnya Berakhir

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Iran tidak menerima gencatan senjata. Iran menginginkan pengakhiran perang sepenuhnya, bukan hanya gencatan senjata.

Iran Tolak Gencatan Senjata, Ingin Perang Sepenuhnya Berakhir (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street Journal semalam mengatakan, bahwa Iran menetapkan standar tinggi dalam hal tuntutan untuk diskusi gencatan senjata, termasuk menginginkan penutupan semua pangkalan Amerika di Teluk dan pembentukan pengumpulan biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Dilansir dari laman Investing Kamis (26/3/2026), Kantor Berita Fars pada Rabu melaporkan bahwa Iran tidak menerima gencatan senjata. Fars juga menambahkan bahwa Iran menginginkan pengakhiran perang sepenuhnya, bukan hanya gencatan senjata.

Baca Juga:
DPR Minta Pemerintah Tak Pangkas Dana Pendidikan untuk Efisiensi Anggaran

Press TV Iran membeberkan, negara itu tidak akan membiarkan AS mendikte waktu berakhirnya perang. Kantor berita milik negara itu mengatakan pejabat tersebut menguraikan lima tuntutan dari pihak Teheran, termasuk penghentian semua serangan dan pengakuan serta jaminan internasional atas hak Iran untuk menjalankan otoritas atas Selat Hormuz.

Axios kemudian melaporkan bahwa AS belum menerima pesan resmi apa pun dari Iran yang menolak proposal gencatan senjata, kata seorang pejabat AS.

Baca Juga:
Lebih dari 23 Ribu Kendaaran Menuju Jakarta pada H+4 Lebaran 2026

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan tidak ada pembicaraan dengan AS. Menteri tersebut menambahkan bahwa AS mengirimkan pesan melalui berbagai mediator, tetapi pertukaran semacam itu dapat dikatakan "tidak seperti negosiasi."

Wall Street Journal mengatakan bahwa menteri luar negeri Iran bersama dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf untuk sementara dihapus oleh AS dan Israel dari daftar target mereka.

Baca Juga:
Iran Sedang Meninjau Proposal AS Namun Tak Tertarik untuk Diskusi

Di sisi laim, harga minyak sempat turun, tetapi telah pulih secara signifikan dari titik terendah. Kontrak berjangka minyak mentah Brent yang berakhir pada Mei, di mana terakhir turun sekitar 1,6 persen menjadi USD102,77 per barel atau jauh di atas level sekitar USD70 sebelum pecahnya perang pada akhir Februari.

Para pedagang pun khawatir tentang kemungkinan dampak ekonomi dari perang yang berkepanjangan. Sementara itu, Indeks manajer pembelian (PMI) S&P Global turun ke level terendah sebelas bulan dan menunjukkan tekanan yang meningkat pada pertumbuhan secara keseluruhan akibat kenaikan harga yang terkait dengan guncangan energi akibat perang.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Biaya Operasional Membengkak, INACA Ajukan Kenaikan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Cetak Rekor Baru, Lagu APT Ros dan Bruno Mars Jadi K-Pop Tercepat Raih Triple Platinum
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
ORARI Cilegon siaga beri dukungan komunikasi pada arus balik
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Diskon 20 Persen Tiket Kereta Eksekutif Berlaku Saat Arus Balik Lebaran, KAI Daop 1 Jakarta Siapkan 61 Perjalanan
• 20 jam lalupantau.com
thumb
5 Potret Lucinta Luna pangkas rambut cepak di Seoul Korea, penampilan terbarunya tuai pujian
• 22 jam lalubrilio.net
Berhasil disimpan.