Pantau - Amerika Serikat mendesak sekutu-sekutunya untuk meningkatkan dukungan dalam menangani krisis di Selat Hormuz yang berdampak pada keamanan pelayaran dan harga energi global.
Upaya Diplomatik dan Desakan ASDuta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker menyatakan sejumlah sekutu telah mulai berpartisipasi, namun kontribusi tersebut dinilai belum cukup.
“Kami memiliki sekutu yang akhirnya mulai bergerak … Ada sekutu kunci yang berkontribusi dan menyediakan berbagai dukungan. Kami hanya menginginkan lebih banyak lagi,” ungkapnya kepada media penyiaran Fox Business.
Ia mengungkapkan bahwa AS saat ini tengah mengintensifkan jalur diplomatik untuk meyakinkan negara-negara di Eropa dan Timur Tengah agar turut terlibat lebih aktif.
“Sayangnya, perlu upaya meyakinkan bahwa isu ini lebih penting bagi mereka dibandingkan bagi Amerika Serikat,” katanya.
Whitaker menambahkan bahwa situasi di Selat Hormuz yang krusial turut memengaruhi lonjakan harga minyak dunia.
Konflik Memanas dan Dampak GlobalSebelumnya pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada sejumlah negara termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Trump juga memperingatkan bahwa NATO menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika gagal mengamankan jalur strategis itu.
Namun, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan negara-negara Uni Eropa belum siap mengirim armada ke wilayah tersebut.
Ketegangan meningkat setelah serangan AS dan Israel pada 28 Februari terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Gangguan pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz akibat konflik tersebut memicu lonjakan harga energi global.
Situasi TambahanSelat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global.
Sumber menyebutkan berbagai upaya diplomatik masih terus dilakukan untuk meredakan ketegangan dan menjaga kelancaran distribusi energi internasional.




