Moskow (ANTARA) - Kesepakatan migrasi Inggris-Prancis tahun 2023 untuk membatasi penyeberangan ilegal di Selat Inggris justru memicu peningkatan kematian migran, menurut organisasi investigasi Border Forensics.
“Sebuah laporan menunjukkan bahwa kebijakan ‘Stop the Boats’ pemerintah Inggris, serta lebih dari 625 juta poundsterling (sekitar Rp14 triliun) yang diberikan kepada Prancis untuk mencegah keberangkatan, secara langsung berkontribusi terhadap lonjakan tajam kematian orang-orang yang mencoba menyeberangi Selat Inggris dengan perahu kecil," demikian pernyataan organisasi tersebut dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (25/3).
"Investigasi dalam laporan tersebut mengidentifikasi peningkatan drastis insiden fatal sejak musim panas 2023. Yang penting, kenaikan jumlah kematian ini terjadi ketika jumlah perahu dan orang yang tiba di Inggris justru menurun,” tulis laporan itu lebih lanjut.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa kematian terutama terjadi lebih dekat ke pantai Prancis akibat perahu yang kelebihan muatan serta peluncuran kapal secara tergesa-gesa, yang berupaya dicegah oleh otoritas Prancis.
Pada 2022, jumlah migran yang menyeberangi Selat Inggris mencapai rekor tertinggi, namun hanya tujuh orang yang meninggal atau hilang. Pada 2023, setelah penandatanganan kesepakatan, situasi berubah drastis. Dalam empat bulan terakhir tahun 2023 saja, sebanyak 17 orang meninggal atau hilang, menurut laporan tersebut.
“Sejak akhir 2023 hingga akhir 2025, sebanyak 112 orang dipastikan meninggal atau hilang dalam upaya penyeberangan Selat Inggris, dan sembilan lainnya dilaporkan hilang. Pada 2024 saja, terdapat 76 kematian yang terkonfirmasi, lebih banyak dibandingkan total tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi meskipun terdapat 9.000 orang lebih sedikit yang melakukan perjalanan dengan 415 perahu lebih sedikit pada 2024 dibandingkan 2022,” demikian isi laporan tersebut.
Organisasi itu menilai peningkatan kematian dipicu oleh tindakan polisi Prancis yang semakin agresif untuk membenarkan tambahan pendanaan, serta praktik berbahaya yang dilakukan penyelundup migran, seperti memuat penumpang secara berlebihan, menjemput orang dari laut alih-alih dari darat, serta berangkat dari lokasi yang lebih jauh ke pedalaman.
Border Forensics adalah sebuah lembaga yang memobilisasi metode inovatif analisis spasial dan visual untuk menyelidiki praktik-praktik kekerasan di perbatasan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Lebih dari 5.000 migran gelap tiba di Inggris sejak awal 2025
Baca juga: Imigran masuk Prancis alami lonjakan tajam sejak dua puluh tahun
“Sebuah laporan menunjukkan bahwa kebijakan ‘Stop the Boats’ pemerintah Inggris, serta lebih dari 625 juta poundsterling (sekitar Rp14 triliun) yang diberikan kepada Prancis untuk mencegah keberangkatan, secara langsung berkontribusi terhadap lonjakan tajam kematian orang-orang yang mencoba menyeberangi Selat Inggris dengan perahu kecil," demikian pernyataan organisasi tersebut dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (25/3).
"Investigasi dalam laporan tersebut mengidentifikasi peningkatan drastis insiden fatal sejak musim panas 2023. Yang penting, kenaikan jumlah kematian ini terjadi ketika jumlah perahu dan orang yang tiba di Inggris justru menurun,” tulis laporan itu lebih lanjut.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa kematian terutama terjadi lebih dekat ke pantai Prancis akibat perahu yang kelebihan muatan serta peluncuran kapal secara tergesa-gesa, yang berupaya dicegah oleh otoritas Prancis.
Pada 2022, jumlah migran yang menyeberangi Selat Inggris mencapai rekor tertinggi, namun hanya tujuh orang yang meninggal atau hilang. Pada 2023, setelah penandatanganan kesepakatan, situasi berubah drastis. Dalam empat bulan terakhir tahun 2023 saja, sebanyak 17 orang meninggal atau hilang, menurut laporan tersebut.
“Sejak akhir 2023 hingga akhir 2025, sebanyak 112 orang dipastikan meninggal atau hilang dalam upaya penyeberangan Selat Inggris, dan sembilan lainnya dilaporkan hilang. Pada 2024 saja, terdapat 76 kematian yang terkonfirmasi, lebih banyak dibandingkan total tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi meskipun terdapat 9.000 orang lebih sedikit yang melakukan perjalanan dengan 415 perahu lebih sedikit pada 2024 dibandingkan 2022,” demikian isi laporan tersebut.
Organisasi itu menilai peningkatan kematian dipicu oleh tindakan polisi Prancis yang semakin agresif untuk membenarkan tambahan pendanaan, serta praktik berbahaya yang dilakukan penyelundup migran, seperti memuat penumpang secara berlebihan, menjemput orang dari laut alih-alih dari darat, serta berangkat dari lokasi yang lebih jauh ke pedalaman.
Border Forensics adalah sebuah lembaga yang memobilisasi metode inovatif analisis spasial dan visual untuk menyelidiki praktik-praktik kekerasan di perbatasan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Lebih dari 5.000 migran gelap tiba di Inggris sejak awal 2025
Baca juga: Imigran masuk Prancis alami lonjakan tajam sejak dua puluh tahun





