Harga BBM Melejit Pasca Perang Iran Bisa jadi Beban Politik Trump Jelang Pemilu

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat menjadi sorotan di tengah konflik Timur Tengah yang kian memanas, dengan kenaikan lebih dari 30 persen sejak akhir Februari 2026. Kenaikan ini tidak hanya menekan daya beli masyarakat, tetapi juga menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump.

Data GasBuddy mencatat rata-rata harga bensin eceran di AS mencapai 3,92 dollar AS per galon pada Senin (23/3/2026). Angka tersebut mendekati level psikologis 4 dollar AS per galon yang terakhir kali terjadi pada Agustus 2022.

Jika dikonversi, satu galon setara dengan 3,785 liter, sehingga harga bensin berada di kisaran 1,04 dollar AS per liter. Dengan asumsi kurs Rp16.933,5 per dollar AS, maka harga tersebut setara sekitar Rp17.530 per liter.

Kenaikan harga ini terjadi meskipun pemerintah AS telah berupaya menekan lonjakan dan menjaga stabilitas pasokan energi. Namun, tekanan dari pasar global dan konflik geopolitik membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan.

Lonjakan harga energi dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah global yang signifikan. Harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 30 dollar AS atau sekitar 43 persen, dari 67,02 dollar AS menjadi 96,14 dollar AS per barel.

Gangguan pasokan menjadi faktor utama di balik kenaikan tersebut, terutama akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ketegangan ini berdampak langsung pada distribusi energi global.

Serangan Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz memperburuk situasi. Jalur ini merupakan salah satu rute vital yang menangani sekitar 20 persen pasokan energi dunia.

Analis GasBuddy Patrick De Haan memperkirakan harga BBM masih akan terus meningkat dalam waktu dekat.

“Sekarang tampaknya bensin akan mencapai 4 dollar AS per galon, dan bisa naik menuju 4,10 dollar AS per galon atau lebih,” tulisnya.

Kenaikan harga BBM ini berpotensi menambah beban masyarakat yang sebelumnya telah terdampak inflasi. Kondisi ini membuat tekanan terhadap ekonomi rumah tangga di AS semakin besar.

Baca Juga: Rusia Bertaruh Amerika Serikat Akan Tinggalkan Ukraina

Di sisi lain, situasi ini juga menjadi ujian bagi pemerintahan Trump yang sebelumnya berjanji akan menurunkan harga energi. Janji tersebut kini berhadapan langsung dengan realitas pasar global yang bergejolak.

Selain itu, lonjakan harga energi juga berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik. Isu ini dinilai dapat menjadi faktor penting menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS pada November 2026.

Kenaikan harga BBM mencerminkan bagaimana konflik geopolitik dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Perang di kawasan produsen energi utama terbukti mampu mengguncang stabilitas ekonomi global dalam waktu singkat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyusupan Kedubes China di Tokyo: Anggota SDF Jepang Ditangkap, Hubungan Beijing-Tokyo Memanas
• 1 jam lalumatamata.com
thumb
Di Balik Ramainya Restoran saat Lebaran, Ada Drama yang Jarang Terungkap
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Mensos Pastikan Layanan untuk Masyarakat Tak Terganggu Meski ASN WFH 
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
IHSG Sesi I Ditutup Turun 1,21% ke Level 7.214, Saham Asia Juga Kompak Merah
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Rico Waas Pimpin Apel Pasca Idul Fitri 1447 H, Ajak ASN 'Tancap Gas' Bangun Kota dan Tingkatan Pelayanan
• 14 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.