Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis ke posisi Rp16.904 pada hari ini, Kamis (26/3/2026) di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Pada saat bersamaan, greenback terpantau bergerak di zona hijau.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup naik sebesar 7 basis poin atau 0,04% menuju level Rp16.904 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,09% ke posisi 99,70.
Pada saat mata uang rupiah menguat, mata uang Asia lainnya justru mengalami pelemahaha. Yen Jepang melemah terhadap dolar AS sebesar 0,04%, dolar Hongkong melemah turun sebesar 0,13%, dolar Singapura turut melemah sebesar 0,17%, won Korea melemah sebesar 0,26%, Peso Filipina ikut terdepresiasi sebesar 0,25%.
Selanjutnya, pelemahan terhadap dolar AS juga terjadi untuk rupee India sebesar 0,11%, ringgit Malaysia juga turun 0,74%, baht Thailand turun 0,31%. Berikutnya yuan China turun melemah sebesar 0,03%.
Analis Traze Andalan Futures Ibrahim Assaibi mengatakan dari sisi eksternal penguatan dolar AS menguat di tengah harapan de-eskalasi konflik Iran–AS, setelah Iran mempertimbangkan proposal perdamaian meski belum menyetujuinya.
Namun demikian, ketidakpastian masih tinggi karena belum ada negosiasi langsung. Kondisi ini membuat pasar minyak lesu dan sangat fluktuatif, apalagi Selat Hormuz sebagai jalur penting pasokan global tetap berisiko. Harga minyak sempat melonjak di atas US$119 per barel, dan pasar juga menunggu langkah lanjutan dari AS.
Sementara itu sentimen internal datang dari pemerintah yang belum berencana menaikkan harga BBM subsidi karena APBN dinilai masih kuat menahan kenaikan harga minyak.
Menurutnya, dengan harga ICP di US$74 per barel masih dalam batas aman meski sedikit di atas asumsi APBN. Pengalaman krisis sebelumnya menunjukkan Indonesia cukup tangguh tanpa harus menaikkan BBM subsidi.
“Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan potensi melemah di kisaran Rp16.900–Rp16.940 pada perdagangan Jumat [27/3/2026],”katanya.





