Kenaikan Suhu Global Picu Kematian Lebih Tinggi di Negara Miskin

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Risiko kematian akibat suhu tinggi yang dipicu krisis iklim di negara-negara miskin diperkirakan 10 kali lebih besar dibandingkan negara kaya, menurut analisis terbaru dari Climate Impact Lab.

Riset yang dirilis pada Rabu (25/3/2026) itu disusun untuk membantu berbagai komunitas memahami dan merespons dampak buruk dari kenaikan suhu global. Laporan ini terbit di tengah tren pemanasan yang kian mengkhawatirkan, setelah suhu di Amerika Serikat sempat mencetak rekor dan 2025 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga dalam sejarah.

“Ketimpangan dampak dari perubahan iklim terus membuat saya kaget. Jumlah kematian yang lebih tinggi justru terjadi di wilayah dengan kontribusi yang sangat minim dalam perubahan iklim,” kata Michael Greenstone, ekonom dari University of Chicago yang turut menyusun laporan tersebut, dikutip dari Bloomberg.

Laporan itu memproyeksikan bahwa pada 2050, negara-negara yang paling rentan akan menghadapi lonjakan kematian akibat panas ekstrem yang besarnya setara dengan jumlah kematian dari sejumlah penyakit umum saat ini.

Negara-negara di kawasan Sahel, Afrika, seperti Niger dan Burkina Faso, diperkirakan dapat mencatat 60 kematian atau lebih per 100.000 penduduk per tahun akibat suhu tinggi. Angka itu lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian malaria saat ini di Afrika.

Di Djibouti, kematian akibat panas ekstrem diperkirakan dapat meningkat pada skala yang setara dengan tingkat kematian akibat HIV/AIDS, yakni sekitar 55 kematian per 100.000 penduduk. Sementara itu, di wilayah tenggara Bolivia, angka kematian diproyeksikan naik 30 orang per 100.000 penduduk, atau setara dengan tingkat kematian akibat diabetes saat ini.

Baca Juga

  • Peningkatan Polusi Udara Ancam Prospek Pertumbuhan Ekonomi
  • JPMorgan Peringatan Risiko Bank Enggan Danai Proyek Kredit Karbon
  • Singapura Tunda Pungutan Penerbangan Hijau, Imbas Konflik di Timur Tengah

Sebaliknya, sejumlah wilayah beriklim dingin justru diperkirakan mengalami penurunan kematian terkait suhu tinggi. Kepulauan New Siberia di timur laut Rusia disebut berpotensi mencatat penurunan tertinggi, yakni 161 kematian lebih rendah per 100.000 penduduk, meski wilayah itu dihuni populasi yang sangat sedikit.

Sejumlah wilayah di negara kaya juga diperkirakan diuntungkan, termasuk North Slope di Alaska, Banff di Kanada, dan Oslo.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa dari 20 negara dengan perbaikan bersih terbesar, hanya dua negara yang bukan negara berpendapatan tinggi. Sebaliknya, 16 dari 20 negara yang diperkirakan menghadapi lonjakan kematian baru tertinggi merupakan negara berpendapatan rendah.

Meski laporan ini belum melalui proses peer review, metodologi yang digunakan sebelumnya telah ditinjau dan dipublikasikan dalam jurnal ekonomi pada 2022. Kajian awal kelompok ini berfokus pada peningkatan kematian akibat panas hingga 2100, sekaligus menunjukkan keterkaitan erat antara tingkat kesejahteraan, suhu, dan risiko kematian.

“Alarm bahaya sedang berbunyi,” kata Cascade Tuholske, ahli geografi dari Montana State University yang meneliti risiko iklim. “Tingkat kematian akan terus meningkat akibat panas ekstrem yang didorong oleh emisi karbon dan bahan bakar fosil. Beban ini jatuh kepada mereka yang memiliki sumber daya paling sedikit untuk beradaptasi, dan pada umumnya kepada orang-orang yang bukan penyebab utama masalah ini.”

Menurut Tuholske, yang tidak terlibat langsung dalam studi tersebut, laporan ini secara tepat menyoroti wilayah-wilayah yang menghadapi kondisi kian berbahaya, tetapi belum banyak dipahami sebagai kawasan paling rentan.

Ia mencontohkan Pakistan, yang sebelumnya telah menghadapi dampak iklim berat berupa banjir besar pada 2022. Dengan kepadatan kota yang tinggi dan struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada pekerjaan luar ruang, risiko panas ekstrem di negara itu dinilai besar dan bersifat kronis.

“Bagi saya, itu selalu menjadi negara yang mengkhawatirkan jika melihat proyeksi panas ekstrem global,” ujarnya.

Dalam analisisnya, para penulis membagi dunia ke dalam hampir 25.000 unit wilayah kecil, kira-kira seukuran satu county di AS atau distrik di China maupun India. Pendekatan ini menunjukkan bahwa wilayah yang berdekatan sekalipun, bahkan dalam satu negara yang sama, dapat menghadapi masa depan iklim yang sangat berbeda.

Dalam beberapa kasus, perbedaan itu dapat dijelaskan secara geografis. Komunitas di kawasan Pegunungan Rocky, AS, misalnya, diperkirakan mengalami penurunan puluhan kematian per tahun pada 2050 karena musim dingin yang semakin hangat. Namun, wilayah di sebelah selatan dan barat daya justru akan menghadapi risiko kematian akibat panas yang lebih besar setiap tahun.

Riset ini juga menegaskan bahwa ketimpangan kekayaan akan semakin menjadi persoalan hidup dan mati di masa depan. Tingkat kematian yang diproyeksikan di Djibouti, misalnya, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Kuwait, meski keduanya berada di kawasan Semenanjung Arab.

Studi tersebut mengasumsikan perekonomian global akan terus tumbuh. Jika tidak, jumlah kematian terkait suhu diperkirakan bisa menjadi tujuh kali lebih besar. Tambahan pendapatan akan memungkinkan masyarakat membeli sarana adaptasi seperti pendingin udara, tempat berlindung, taman kota, dan berbagai infrastruktur penyejuk lainnya, yang pada akhirnya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Namun demikian, pendanaan dan perhatian terhadap isu adaptasi iklim dinilai masih sangat terbatas.

“Kematian-kematian ini sebenarnya tidak harus menjadi sesuatu yang tak terhindarkan,” kata Emily Grover-Kopec, salah satu penulis laporan sekaligus direktur praktik iklim dan energi di firma riset Rhodium Group. Menurut dia, laporan ini “memberikan peta untuk menunjukkan wilayah-wilayah di mana pertumbuhan pendapatan saja tidak akan cukup, dan di mana kebijakan adaptasi serta investasi yang disengaja dapat menyelamatkan paling banyak nyawa.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Balik Lebaran, 239 Ribu Kendaraan Melintas di GT Cikatama hingga 24 Maret
• 17 jam laludetik.com
thumb
Penumpang Whoosh naik 11,3 persen selama Angkutan Lebaran 2026
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Perkembangan Kasus Andrie Yunus: Kabais TNI Serahkan Jabatan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Kakorlantas: Peningkatan Volume Kendaraan 4,62%
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Di Antara Damai & Deterensi: Manuver Trump dalam Bayang-Bayang Balasan Iran
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.