FAJAR, MAKASSAR — Semangat kewirausahaan masyarakat Sulawesi Selatan kembali terlihat dari kiprah perantau di tanah Papua. Salah satunya ditunjukkan oleh Arifai Rasyid, Wakil Ketua Bidang UMKM BPD KKSS Mimika, yang sukses mengembangkan usaha aksesoris khas Bugis-Makassar di Papua Tengah.
Pria berdarah Segeri, Kabupaten Pangkep ini mengaku mewarisi jiwa dagang dari leluhurnya. Di tanah rantau, ia memanfaatkan peluang dengan menjual berbagai produk budaya Sulsel seperti Baju Lontarak, Songkok Recca, hingga Passapu.
“Kita menjual aksesoris Baju Lontarak dan Songkok Recca dengan Passapu. Ini sebagai bentuk persamaan kita warga Sulsel dari Sabang sampai Merauke. Ini jadi kenangan dan oleh-oleh kita di tanah rantau,” ujarnya, diwawancarai FAJAR di tengah-tengah pelaskanaan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI, di Hotel Claro Makassar, Kamis, 26 Maret.
Arifai menjelaskan, usaha tersebut tidak dijalankan sendiri. Ia menggandeng mitra produksi dari Sulawesi Selatan, sementara pemasaran dilakukan di Mimika dan berbagai kegiatan masyarakat Sulsel di Papua Tengah, seperti pelantikan dan acara silaturahmi.
Menurutnya, minat terhadap produk budaya Sulsel cukup tinggi, terutama dari warga keturunan Bugis-Makassar yang lahir dan besar di Papua. Meski jauh dari kampung halaman, mereka tetap menjaga identitas budaya.
“Di Papua banyak peminat, terutama warga Sulsel yang lahir dan besar di sini. Mereka tidak pernah lupa memakai baju kebesaran kita,” katanya.
Arifai sendiri merupakan bagian dari keluarga perantau. Orang tuanya berasal dari Segeri, Pangkep, namun ia bersama tujuh saudaranya lahir dan besar di Papua. Keluarganya tersebar di beberapa wilayah seperti Sorong dan Manokwari.
“Kami ini istilahnya Labepa, lahir besar di Papua. Tapi darah Sulsel tetap kita jaga, termasuk budaya dan silaturahmi,” ungkapnya.
Untuk harga, produk yang ditawarkan cukup beragam tergantung bahan dan kualitas. Passapu dijual mulai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara Baju Lontarak (jas tutup) dibanderol antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
Adapun Songkok Recca memiliki variasi harga yang lebih tinggi, mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp4 juta. Perbedaan harga ditentukan oleh bahan yang digunakan, seperti rotan, tembaga, hingga emas.
“Yang membedakan itu bahannya. Ada yang dari rotan, tembaga, bahkan ada yang menggunakan emas, jadi harganya lebih tinggi,” jelasnya.
Melalui usahanya, Arifai tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga berperan dalam melestarikan budaya Sulawesi Selatan di tanah perantauan, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga Sulsel di Papua.(uca)





