JAKARTA, KOMPAS – Seleksi secara nasional untuk masuk perguruan tinggi negeri masih tersisa di jalur seleksi nasional berdasarkan tes atau SNBT yang pendafarannya sedang berlangsung hingga 7 April 2026. Seleksi melalui ujian tulis berbasis kompter atau UTBK ini terbuka bagi lulusan SMA/SMK sederajat pada tiga tahun terakhir dan memberikan pilihan hingga maksimal empat program studi.
Pelaksanaan seleksi dengan UTBK tiap tahunnya dilakukan usai seleksi jalur prestasi diumumkan pada 31 Maret nanti. Peserta yang lulus jalur prestasi tetapi tidak mendaftar ulang di perguruan tinggi negeri (PTN) yang dituju tidak bisa ikut seleksi tes nasional maupun mandiri pada tahun ini.
Ketua Umum Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 Eduart Wolok yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (26/3/2026), mengatakan peluang untuk menembus program studi (prodi) pilihan lewat jalur SNBT cukup besar. PTN berstatus satuan kerja dan badan layanan umum memiliki kuota minimal 40 persen, sedangkan PTN Badan Hukum minimal 30 persen.
Eduart mengatakan, pilihan untuk prodi di UTBK bisa maksimal empat prodi. Namun, ada ketentuan untuk mengkombinasikan pilihan prodi akademik dan vokasi bagi yang memilih mendaftar di tiga atau empat prodi.
Laporan Jurnalisme Data Kompas, Kamis (26/3/2026), menunjukkan minat terhadap prodi rumpun kesehatan dalam UTBK-SNBT tetap tinggi dalam lima tahun terakhir. Demikian juga prodi Teknik Informatika (TI) tetap melimpah meskipun mulai terancam dengan kehadiran AI.
Di tahun 2026, Universitas Indonesia (UI) membuka prodi Sarjana Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI). Prodi yang menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Komputer UI ini menyiapkan lulusan untuk menguasai kompetensi teknis mendalam terkait AI modelling dan AI system engineering.
Sementara di bidang sosial humaniora, minat dalam prodi terkait ilmu komunikasi, hubungan internasional, dan ilmu hukum juga masih tinggi. Termasuk juga untuk menjadi calon guru, terutama guru SD.
Beberapa waktu lalu dalam pertemuan dengan media massa, Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco, mengatakan dalam Rencana Strategis Kemendiktisiantek 2025-2029, layanan pendidikan tinggi tidak hanya memastikan akses, tapi juga mutu, dan relevansi. Hal ini untuk memastikan lulusan pendidikan tinggi dapat mendukung ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja sesuai program prioritas pemerintah maupun mendukung daya saing bangsa secara global.
Pengembangan prodi di PT dapat mendukung relevansi keilmuan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa saat ini maupun ke depan dalam mendukung kemajuan ekonomi bangsa untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satunya, dorongan untuk penguatan talenta dalam bidang sains, teknologi, engineering/teknik, (art) dan matematika (STEM/STEAM).
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan penguatan keilmuan STEM penting karena integrasi antara sains, teknologi, dan kebutuhan pasar mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia tengah mendorong industrialisasi berbasis sains dan teknologi karena merupakan kunci untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
“Kita harus berani menguji dan mendorong kemajuan yang tidak linear melalui penguatan industri berbasis sains dan teknologi. Industrialisasi tidak boleh berjalan biasa saja, karena potensinya bisa tumbuh secara eksponensial. Jika kita ingin benar-benar lepas dari berbagai keterbatasan struktural, maka lompatan yang kita lakukan juga harus bersifat tidak linear,” kata Brian.
Dalam pertemuan Mediktisantek Brian Yuliarto dengan Pelaksana Tugas Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Sudarto beberapa waktu lalu, kedua pihak membahas pengembangan riset sejumlah bidang prioritas, seperti energi dan pengelolaan sampah. Pengolahan sampah berbasis teknologi (waste-to-energy), konversi kompor LPG ke kompor listrik, serta pengembangan teknologi konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik membutuhkan SDM mumpuni yang mampu mengkaji dari aspek sosial, ekonomi, hingga kebijakan, di samping solusi teknis..





