Ekonomi RI Tangguh di Tengah Badai Global, Kemenko Perekonomian Beberkan Indikatornya

kompas.com
17 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.com - Pemerintah memastikan ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah riuh rendah dinamika global.

Juru Bicara Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan, stabilitas makroekonomi Indonesia terjaga dengan baik di tengah volatilitas pasar dan ketegangan geopolitik.

“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen year-on-year (yoy). Angka ini relatif tinggi jika dibandingkan negara karakteristik serupa. Di sisi lain, inflasi dalam negeri tetap berada dalam koridor sasaran, yakni 2,5±1 persen. 

Baca juga: Di Tengah Gejolak Global, Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tetap Tangguh

Dengan kinerja itu, Haryo memastikan, pemerintah menjaga stabilitas tersebut melalui pengendalian inflasi dan kebijakan stabilisasi harga.

Kemudian, kondisi dalam negeri masih terpantau baik dilihat dari permintaan domestik dan sektor riil.

Indikatornya adalah konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini didukung oleh berbagai stimulus fiskal dan program bantuan sosial. 

Aktivitas manufaktur juga menunjukkan kinerja kuat dengan Purchasing Managers Index (PMI) sebesar 53,8 yang berada pada fase ekspansi, tertinggi dalam dua tahun terakhir. 

Ketahanan fiskal juga tetap terjaga dengan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang solid. 

Baca juga: Cara Menerapkan Revenge Saving di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kondisi positif juga ditunjukkan dari penerimaan pajak yang tumbuh sebesar 30,4 persen (yoy) hingga Februari 2026.

Kenaikan tersebut didukung reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi melalui sistem Coretax.

Reformasi perpajakan dan implementasi digitalisasi itu terus memperkuat basis penerimaan negara serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak. 

Kemudian, ketahanan pangan dan energi nasional dinilai semakin menguat. Indonesia telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama serta mencatat surplus produksi energi melalui program biodiesel.

Kondisi tersebut menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global, termasuk dampak dari konflik geopolitik.

Baca juga: Ekonomi Lebaran 2026 Diuji Gejolak Global, Siapa Paling Terdampak?

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Lebih lanjut, Haryo mengatakan, pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan investasi, serta akselerasi digitalisasi. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Catat Jadwal dan Perkiraan Hari Libur
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
KemenHAM Ingatkan Risiko Dualisme TNI-Polri, Kasus Andrie Yunus Dikhawatirkan Mandek
• 21 jam laludisway.id
thumb
Cek Daya Tampung SNBT 2026 Kampus Undip untuk Persiapan Masuk PTN Idaman, Camaba Catat!
• 23 jam laludisway.id
thumb
[Foto] Pusat Perbelanjaan Masih Menjadi Lokasi Favorit Warga Saat Libur Lebaran
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pasif di Perang Iran-Israel, Xi Jinping dan Putin Diam-Diam Tetap Muncul di Balik Layar
• 23 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.