REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Momen usainya libur panjang Lebaran sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Setelah berhari-hari menikmati suasana santai, berkumpul bersama keluarga besar, hingga bebas dari tugas sekolah, anak-anak tiba-tiba harus kembali ke sekolah.
Transisi ini sering kali tidak berjalan mulus. Ada drama tangisan pada pagi hari bagi yang masih kecil, hingga wajah muram dan malas-malasan bagi mereka yang sudah beranjak remaja.
Baca Juga
Dari Healing ke Nabung, Cara Anak Muda Mencintai Diri Berubah
Orang Tua Diimbau Nggak Pakai Uang THR Anak untuk Keperluan Keluarga
Remaja Berbagi Vape dengan Temannya, Berakhir Koma Akibat Meningitis
Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan ketidaknyamanan ini adalah hal yang sangat manusiawi. Menurutnya, penyebab utama anak merasa berat kembali ke sekolah adalah kontrasnya situasi antara masa liburan dan masa sekolah. Saat libur, anak-anak merasa nyaman karena segalanya terasa fleksibel dan mengikuti keinginan mereka.
“Anak menjadi tidak nyaman karena setelah liburan, salah satunya penyebabnya waktu liburan situasinya lebih santai, lebih bisa sesuai dengan apa yang diinginkan anak,” ujar Prof Rose Mini saat dihubungi Republikapada Kamis (26/3/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Siswa SD (ilustrasi). - (Republika/Prayogi)
Kontras ini menjadi semakin tajam ketika anak teringat akan aturan ketat yang menanti di depan mata, mulai dari keharusan bangun pagi, sarapan tepat waktu, hingga konsekuensi sekolah jika terlambat. Menariknya, psikolog yang akrab disapa Bunda Romi ini menyoroti bahwa ekspresi ketidaksiapan ini muncul dengan cara yang berbeda tergantung usia anak.
Bagi anak usia dini, emosi yang meledak-ledak adalah bentuk komunikasi. Mereka mungkin akan mengalami tantrum atau menjadi sangat rewel. Tidak jarang, ketidaksiapan mental ini bermanifestasi menjadi gejala fisik atau psikosomatis.