Masjid Al Osmani, 172 Tahun Merekam Perjalanan Religiositas Melayu Deli

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Suasana terasa khusyuk ketika azan zuhur bekumandang di Masjid Al Osmani, Medan, Sumatera Utara, Rabu (11/3/2026). Jemaah berdatangan ke masjid megah berusia 172 tahun itu yang menjadi saksi perjalanan panjang religiositas masyarakat Kota Medan.

Bagi Baha Udin (64), Ramadhan menjadi waktu yang paling tepat untuk beribadah di Masjid Al Osmani. Meskipun jarak rumahnya ke masjid itu sekitar 10 kilometer, Baha selalu menyempatkan diri untuk shalat di Masjid Al Osmani saat Ramadhan tiba.

”Saya merasakan ketenangan batin setiap beribadah di masjid ini. Karena itu, saya selalu menyempatkan diri untuk shalat di masjid ini saat Ramadhan tiba,” kata Baha.

Baha mengenal Masjid Al Osmani sejak dia masih anak-anak. Dia tumbuh besar di rumah orangtuanya yang berada di dekat masjid di Jalan KL Yos Sudarso, Kecamatan Medan Labuhan, sekitar 21 kilometer (km) dari pusat Kota Medan.

Saat kecil, Baha sering mengaji atau bermain di lingkungan masjid. Masjid Al Osmani seperti mesin pemutar waktu yang membawa Baha ke masa kecilnya kala itu.

”Bangunan utama Masjid Al Osmani masih sama sejak pertama kali saya melihat masjid ini. Suasana di dalam masjid juga hampir sama seperti dulu,” kata Baha yang merupakan pensiunan pekerja bangunan itu.

Baha sudah tiba di masjid satu jam sebelum zuhur. Dia duduk merenung di dalam masjid. Baha mengaku merasakan ketenangan batin ketika berada di dalam masjid bertuah itu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Nado (74). Hampir 10 tahun ia menjadi muazin atau pengumandang azan di Masjid Al Osmani. Bulan puasa menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh Nado. Dia menikmati ibadah shalat di masjid, berbuka puasa bersama, dan menikmati semangkuk bubur pedas khas Melayu setiap Kamis selama Ramadhan.

”Ramadhan juga menjadi waktu untuk bertemu teman-teman lama di Masjid Al Osmani ini,” kata Nado.

Sebelum mengumandangkan azan zuhur siang itu, Nado bertemu dengan teman-temannya di masjid itu. Mereka mengobrol, bertukar kabar, lalu melaksanakan ibadah shalat di masjid bersejarah itu.

Sejarah pembangunan

Pengurus Badan Kesejahteraan Masjid Al Osmani, Muhammad Muslim, menuturkan, bangunan pertama Masjid Al Osmani dibangun pada 1854 oleh Sultan Deli VII Osman Perkasa Alam. Ketika itu Istana Kesultanan Deli masih berada di Medan Labuhan, sebelum akhirnya dipindah ke Istana Maimun yang menjadi Istana Kesultanan Deli hingga saat ini.

Sultan Osman meminta Masjid Al Osmani dibangun persis di hadapan Istana Kesultanan Deli. Masjid pun dibangun dari bahan kayu berbentuk bangunan panggung. Ukurannya sekitar 16 meter x 16 meter.

”Pada 1870, Sultan Osman Perkasa Alam lalu meminta agar dibangun masjid permanen,” kata Muslim.

Baca JugaMasjid Tua Al-Wahhab, Cawan Akulturasi Kota Bontang

Sultan Osman meminta arsitek GD Langereis dari Jerman untuk membuat desain masjid. Masjid dibangun dengan perpaduan arsitektur Melayu, Timur Tengah, dan India. Pengerjaan konstruksinya dilakukan tukang dari China.

Muslim menyebut, hampir seluruh bangunan utama masjid yang dibangun dari 1870 masih dipertahankan hingga saat ini. Perubahan hanya pendirian bangunan tambahan untuk menambah luas dari masjid itu.

Keunikan bangunan

Muslim menunjukkan keunikan bangunan utama masjid, antara lain temboknya yang sangat tebal, sekitar 60 sentimeter. Teras masjid dikelilingi tiang-tiang yang dihubungkan tembok melengkung. Masjid menggunakan warna kuning dan hijau yang merupakan warna khas Melayu Deli.

Di tengah atap bangunan utama terdapat kubah delapan sisi menyerupai sarang lebah. Kubah masjid ini terbuat dari tembaga dengan berat mencapai 2,5 ton. Di bawah kubah menggantung lampu-lampu kandil buatan Andalusia, Spanyol.

Struktur kubah menggunakan rangka tembaga yang bertumpu pada setiap sudut dinding dan dilapisi dengan kayu damar. Pelapisan dinding dengan kayu damar ini dinilai dapat mengatasi serangan rayap sekaligus berfungsi sebagai plafond pada kubah.

Kemudian tiang-tiang di serambi masjid dibuat dengan gaya arsitektur Cordoba. Sementara lengkungan antar kolom dipengaruhi gaya Persia.

Akulturasi budaya pada bangunan Masjid Al Osmani juga ditegaskan dalam sebuah tesis di Jurnal Seni dan Reka Rancang Volume 3 Nomor 2, April 2021. Tesis berjudul ”Analisis Bentuk Kubah Dan Akulturasi Budaya Pada Bangunan Masjid Al Osmani Medan” tersebut disusun oleh Rendy Prayogi dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti.

Hasil penelitian itu menyimpulkan bahwa Masjid Al Osmani dan interiornya serta elemen pengisi ruang di dalamnya tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh estetika bentuk yang berasal dari budaya Melayu Deli. Namun, terdapat juga pengaruh estetika bentuk dari kebudayaan China atau Tionghoa, Eropa, India, dan Timur Tengah.

Pengaruh China tampak di bagian pintu masjid yang memiliki ornamen bunga cina. Ini merupakan sumbangan dari salah satu tokoh China terpandang bernama Tjong A Fie.

Perpaduan akulturasi pada bangunan Masjid Al Osmani ini menunjukkan simbol kerukunan beragama dan kesukuan di Kota Medan pada zaman kepemimpinan Kesultanan Deli. Sifat masyarakat Melayu Deli yang terbuka juga lebih cenderung untuk menerima budaya yang datang dari luar sehingga berimbas pada perwujudan bangunan masjid.

Baca JugaMasjid Gedhe Mataram, Cahaya Islam Pertama di ”Bumi Mataram”

Bangunan Masjid Al Osmani didominasi dengan warna kuning keemasan yang identik dengan warna khas Melayu Deli dan menunjukkan kemegahan atau kemuliaan. Kemudian bangunan masjid juga dipadukan dengan warna hijau yang memiliki filosofi keislaman.

Selain itu, di sisi masjid juga terdapat portiko (serambi berkolom) sebagai tempat beduk kayu yang juga sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Bangunan utama Masjid Al Osmani kini ditambah dengan bangunan pendukung untuk menambah daya tampung. Bangunan tambahan itu tetap mempertahankan gaya arsitektur asli, menjaga estetika, dan menambah fungsi. Di sisi belakang masjid terdapat tempat wudu dan juga sebuah rumah tradisional Melayu.

Masjid Al Osmani telah direnovasi beberapa kali, yakni pada 1927, 1963, 1977, dan 1991. Masjid Al Osmani juga telah ditetapkan menjadi cagar budaya melalui Surat Keputusan Wali Kota Medan Tahun 1989 dan diperkuat melalui Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 2 Tahun 2012.

Komunitas Melayu

Menurut Muslim, Masjid Al Osmani tidak bisa dilepaskan dari masyarakat di sekitarnya, yakni kawasan Medan Labuhan yang merupakan perkampungan komunitas Melayu Deli. Dulu, masjid itu merupakan masjid utama di kawasan Kesultanan Deli.

Masjid Al Osmani dibangun persis di seberang Istana Kesultanan Deli. Pusat kekuasaan Sultan Deli kemudian berpindah ke Istana Maimun yang dibangun pada 1888 hingga diresmikan pada 1891. Lahan bekas Kesultanan Deli di Medan Labuhan itu saat ini menjadi sekolah Yayasan Perguruan Islam (Yaspi) Labuhan Deli.

Seiring dengan perpindahan Kesultanan Deli ke Istana Maimun yang berada di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Medan, dibangun pula Masjid Raya Al Mashun Medan di seberang Istana Maimun pada 1906-1909. Pusat Kota Medan juga berpindah dari Medan Labuhan ke sekitar Istana Maimun.

Di masa itu, Kesultanan Langkat juga membangun masjid bergaya Melayu lainnya, yakni Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat, yang diresmikan pada 1902. Tiga masjid bergaya Melayu itu, yakni Masjid Al Osmani, Masjid Azizi, dan Masjid Raya Al Mashun Medan, masih bertahan hingga saat ini.

Baca JugaMasjid Mantingan, Potret Akultrasi dan Cikal Bakal Seni Ukir Jepara

Masjid Al Osmani tahun ini sudah berusia 172 tahun. Masjid itu menjadi saksi sejarah penting, identitas budaya, dan simbol spiritualitas masyarakat Kota Medan. Di dalam masjid, jemaah melaksanakan shalat dengan penuh khusyuk.

Di tengah arus waktu yang terus bergerak dan wajah kota yang kian berubah, Masjid Al Osmani tetap berdiri untuk menenangkan jiwa yang datang bersimpuh. Di sana, azan yang berkumandang menjadi gema panjang dari masa lalu yang masih hidup hingga hari ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Tembakkan Rudal-Drone ke Israel dan Fasilitas Militer AS di Teluk
• 6 jam laludetik.com
thumb
Daftar 3 Danrem Baru usai Mutasi TNI, Nomor 2 Pecah Bintang Emas
• 13 jam laluokezone.com
thumb
KPK Minta Maaf Usai Bikin Gaduh soal Pengalihan Tahanan Rumah Yaqut
• 51 menit laluliputan6.com
thumb
Habib Jafar Ungkap Didikan Toleransi Sejak Kecil hingga Silaturahmi Lintas Agama | ROSI
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Musik: Obat Ampuh Lawan “Kekeringan” Sekolah
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.