Laporan Media: Kalangan Garis Keras di Iran Mulai Angkat Wacana Buat Bom Nuklir

republika.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Perdebatan soal perlu-tidaknya Teheran membuat bom nuklir dilaporkan semakin keras di antara kalangan elite garis keras di Iran. Hal itu diungkap Reuters, Kamis (26/3/2026) mengutip beberapa sumber di Teheran.

Saat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat ini mendominasi pengambilan keputusan terkait perang usai terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dua sumber Reuters menyebut, opini garis keras soal pendekatan nuklir Iran mengalami peningkatan. Selama ini, Teheran konsisten membantah tudingan Barat, bahwa Republik Islam ingin membuat bom nuklir karena menurut fatwa Khamenei, bom nuklir dilarang dalam Islam.

Baca Juga
  • Macet, Pemudik Teriak di Medsos, Minta Berlakukan One Way Nasional Tol Cipali Arah Jakarta
  • IDF di Ambang Menuju Kolaps, Kepala Staf Eyal Zamir Ungkap Penyebabnya
  • Iran Mulai Terapkan Tarif Tol 2 Juta Dolar AS Per Kapal Tanker, Bisa Kaya Raya dari Selat Hormuz

Hingga saat ini, doktrin nuklir Iran belum berubah meski Khamenei sang pemilik fatwa telah wafat. Namun, menurut sumber Reuters, kalangan garis keras di level kepemimpinan Iran yang menginginkan adanya perubahan doktrin itu mulai berani bersuara.

Isu bom nuklir yang sebelumnya tabu, saat ini mulai dibahas di media-media  bersamaan dengan desakan agar Iran keluar dari perjanjian nonproliferasi (NPT). Kantor Berita Tasnim contohnya, media yang berafiliasi dengan IRGC itu pada Kamis memublikasikan artikel yang menyatakan bahwa sudah saatnya Iran menarik diri dari NPT dan sambil fokus ke program nuklir dalam negeri.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Politisi garis keras Mohammad Javad Larijani, yang merupakan saudara kandung dari martir Ali Larjani dikutip oleh salah satu media juga mendesak agar Iran membekukan keanggotaannya di NPT.

"(Keanggotaan) NPT harus dibekukan. Kita harus membentuk sebuah komite untuk membahas apakah NPT berguna bagi kita atau tidak. Jika terbukti berguna, kita akan kembali menjadi anggota. Jika tidak, kita harus keluar," kata Javad.

Pada awal bulan ini, salah satu stasiun televisi Iran menyiarkan sebuah segmen wawancara bersama komentator konservatif Nasser Torabi di mana saat itu dia mengeklaim tuntutan publik Iran. "Kita harus bertindak dalam rangka membuat sebuah bom nuklir. Antara kita membuatnya atau kita mendapatkannya."

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Efisiensi Anggaran, Pramono Anung Bicara Nasib PPPK Pemprov DKI Jakarta
• 48 menit lalutvonenews.com
thumb
Akses Wikimedia Commons Dipulihkan, Ini Penjelasan Resmi Komdigi
• 3 jam lalueranasional.com
thumb
BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Rp1,7 Miliar Kepada Ahli Waris Korban Pesawat IAT
• 7 jam lalurealita.co
thumb
Momen Hangat Lebaran Ayu Azhari: Salat Id Bareng Joko Widodo hingga Open House di Kediaman BCL
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Iran Bidik Satelit Starlink Milik Elon Musk, Perang Rambah Orbit Luar Angkasa
• 6 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.