Presiden Korsel Lee Jae Myung meminta warga untuk mengurangi penggunaan listrik dan menggunakan kendaraan umum daripada mengendarai mobil. Pemerintahannya melancarkan upaya nasional untuk menghindari kekurangan energi jika perang AS-Israel terhadap Iran berlarut-larut.
"Kami meminta kerja sama Anda dalam mengurangi dan menghemat penggunaan listrik,” kata Lee pada pertemuan ekonomi darurat terbaru pemerintah sebagai respons terhadap krisis Timur Tengah, dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3).
Lee mengatakan jika tarif listrik tetap pada tingkat saat ini, kerugian dan defisit publik dapat meningkat secara signifikan, karena listrik di Korea Selatan dipasok oleh perusahaan milik negara Korea Electric Power Corp.
Dia menambahkan mempertahankan harga pada tingkat saat ini tanpa menaikkannya dapat mendorong peningkatan konsumsi listrik, misalnya dengan mendorong sebagian orang untuk mengganti bahan bakar dengan tenaga listrik. Hal ini akan meningkatkan beban keuangan Kepco secara eksponensial.
“Hal ini tidak hanya dapat menyebabkan kerugian fiskal pemerintah, tetapi juga konsumsi energi yang berlebihan atau kurangnya konservasi,” ujar Lee.
Kepco, yang menyediakan sekitar 70 persen pasokan listrik Korea, telah terperangkap dalam kebuntuan selama bertahun-tahun dengan utang sekitar 200 triliun won (USD 133 miliar), karena seringkali menahan diri untuk tidak menaikkan tarif listrik meskipun biaya input bahan bakar melonjak dalam upaya untuk melindungi konsumen dari inflasi.
Permintaan itu datang hanya sehari setelah Perdana Menteri Kim Min Seok memperingatkan negara harus bersiap menghadapi skenario terburuk. Lee juga mengatakan sekarang lebih mendesak dari sebelumnya bagi bangsa untuk bersatu dan berbagi beban.
Lee menegaskan bahwa krisis di Timur Tengah telah berlangsung hampir sebulan, tetapi masih sulit untuk memprediksi bagaimana situasi akan berkembang ke depannya.
"Hampir tidak mungkin untuk menentukan secara tepat di mana risiko berada dan seberapa jauh dampaknya akan menyebar di tengah rantai pasokan global yang jauh lebih kompleks dan saling terkait daripada di masa lalu," ucapnya.
Komentar Lee menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di Korea Selatan bahwa dampak lanjutan dari permusuhan berkepanjangan di Iran berpotensi mengganggu perekonomian yang sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.
Pihak berwenang juga meningkatkan peringatan tentang risiko keuangan yang lebih luas. Bank sentral negara itu mengatakan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kerentanan struktural dapat memperkuat risiko di seluruh pasar.
Potensi peningkatan volatilitas di pasar valuta asing dan keuangan karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memicu koreksi harga aset dan pergeseran modal lintas batas, kata Bank of Korea pada hari Kamis.
Para pembuat kebijakan di seluruh Asia menghadapi risiko serupa bahwa langkah-langkah jangka pendek dapat mengirimkan sinyal yang salah kepada konsumen dan menyebabkan membengkaknya biaya jika konflik berkepanjangan.





