Hubungan lintas Selat Taiwan terus tegang. Menurut pemberitahuan resmi pemerintah Taiwan, secara kumulatif terdapat 313 warga Taiwan yang hilang kontak atau ditahan setelah memasuki Tiongkok daratan. Pada Februari tahun ini saja, jumlahnya bertambah 17 orang. Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan risiko sebelum bepergian ke Tiongkok.
EtIndonesia. Berdasarkan statistik terbaru dari Mainland Affairs Council, hingga 28 Februari, jumlah warga Taiwan yang hilang kontak, ditahan untuk pemeriksaan, atau diduga dibatasi kebebasan pribadinya oleh otoritas Tiongkok mencapai 313 orang.
Rinciannya:
- 114 orang hilang kontak
- 25 orang ditahan untuk pemeriksaan
- 174 orang mengalami pembatasan kebebasan pribadi
Menurut data, pada tahun 2024 terdapat 55 warga Taiwan yang hilang atau ditangkap di Tiongkok. Pada tahun 2025 jumlahnya meningkat empat kali lipat menjadi 221 orang. Sementara pada Januari hingga Februari tahun ini, bertambah lagi 37 orang.
Pihak Mainland Affairs Council menyatakan bahwa kemungkinan masih banyak kasus hilang kontak yang belum dilaporkan kepada pemerintah.
Seorang pejabat Taiwan yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa setiap bulan jumlah warga Taiwan yang hilang atau ditahan di Tiongkok terus meningkat. Pada Februari saja bertambah 17 orang, sekitar setengahnya tidak diketahui keberadaannya, sementara sebagian lainnya ditahan, namun keluarga mereka tidak ingin kasus tersebut dipublikasikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Tiongkok terus memperbarui dan memperketat undang-undang keamanan nasional. Ditambah dengan kurangnya transparansi dalam proses hukum serta perluasan yurisdiksi secara sewenang-wenang, hal ini dinilai serius mengancam keselamatan pribadi warga Taiwan yang bepergian ke Tiongkok, Hong Kong, dan Makau. Kasus warga Taiwan yang hilang atau ditangkap setelah pergi ke Tiongkok pun semakin sering terjadi.
Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa dalam laporan kerja bulan Maret oleh “dua lembaga tinggi” Tiongkok (Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung), seorang kepala redaksi penerbitan budaya, Fu Cha, yang dituduh melakukan “pemisahan negara” dan “merusak persatuan nasional”, sebelumnya juga ditangkap secara sewenang-wenang, ditahan, dan diadili secara rahasia setelah pergi ke Tiongkok.
Pejabat itu menambahkan bahwa Partai Komunis Tiongkok bersifat ateis, namun juga memanfaatkan organisasi keagamaan untuk melakukan upaya pengaruh politik terhadap Taiwan. Ia mengingatkan warga Taiwan agar dengan cermat menilai berbagai risiko sebelum bepergian ke Tiongkok. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





