EtIndonesia. Di tengah eskalasi konflik besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, satu nama tiba-tiba muncul sebagai pusat perhatian: Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.
Dalam perkembangan terbaru, Ghalibaf menunjukkan sikap yang dinilai sangat kontradiktif—bahkan oleh para analis internasional disebut memiliki “tiga wajah politik” yang berbeda, namun berjalan secara bersamaan.
Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ia sedang memainkan strategi bertahan, atau justru bersiap mengambil alih kekuasaan di tengah perang?
Tiga Wajah Ghalibaf: Keras, Marah, dan “Dipilih”
Pada 25 Maret 2026, di hadapan publik internasional, Ghalibaf tampil sebagai tokoh garis keras anti-Amerika. Ia secara terbuka mengancam bahwa negara-negara yang membeli obligasi Amerika Serikat dapat dianggap sebagai “target sah serangan”, serta menegaskan Iran tidak akan menerima gencatan senjata.
Namun di balik retorika keras tersebut, laporan dari media Israel Channel 14 mengungkap sisi berbeda. Dalam rapat internal, Ghalibaf justru meluapkan kemarahan kepada petinggi Garda Revolusi Iran:
“Kalian sudah mengambil semua uangnya, sampai tentara tidak bisa dibayar! Kembalikan uang hasil korupsi itu!”
Pernyataan ini menunjukkan adanya konflik serius di dalam tubuh kekuasaan Iran sendiri.
Lebih mengejutkan lagi, menurut laporan media Amerika yang mengutip dua pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump, Gedung Putih justru mempertimbangkan Ghalibaf sebagai calon pemimpin masa depan Iran.
Ia bahkan tidak dimasukkan dalam daftar target eliminasi militer oleh AS dan Israel—sebuah sinyal yang sangat tidak biasa di tengah perang aktif.
Strategi Tiga Peran: Bertahan, Menyerang, dan Bernegosiasi
Para analis menilai bahwa tiga “wajah” Ghalibaf bukanlah kebetulan, melainkan strategi politik yang sangat terukur:
- Retorika anti-Amerika → untuk menjaga dukungan kelompok garis keras dalam negeri
- Kritik terhadap Garda Revolusi → untuk merebut pengaruh saat militer sedang melemah akibat serangan
- Pendekatan dengan AS (secara tidak langsung) → untuk membuka peluang kekuasaan di masa depan
Seorang pakar keamanan Israel bahkan menyampaikan analisis tajam: “Dia memang korup, tetapi justru itu yang membuatnya bisa diajak bertransaksi.”
Ironisnya, Ghalibaf sendiri tidak lepas dari tuduhan korupsi. Ia disebut memiliki sejumlah properti mewah di Istanbul dan pernah terlibat dalam skandal penjualan aset negara dengan harga murah kepada kroninya saat menjabat sebagai Wali Kota Teheran. Bahkan mantan wakilnya dijatuhi hukuman 30 tahun penjara dalam kasus korupsi bernilai miliaran dolar.
Iran Diam-Diam Membuka Jalur Negosiasi
Di tengah sikap keras di permukaan, sinyal berbeda muncul dari balik layar.
Pada 24–25 Maret 2026, sejumlah laporan mengungkap bahwa Iran melalui jalur rahasia telah menyampaikan pesan kepada pemerintahan Trump: mereka bersedia berunding—namun dengan syarat.
Iran menolak bernegosiasi dengan utusan seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner, dan justru meminta untuk berbicara langsung dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang dinilai lebih condong pada upaya mengakhiri perang.
Menanggapi hal ini, Trump kemudian mengumumkan bahwa JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan dilibatkan dalam proses negosiasi.
Langkah ini menunjukkan bahwa kedua pihak mulai membuka ruang kompromi, meskipun secara publik masih mempertahankan posisi keras.
Namun, sebagian analis menilai langkah Iran ini juga bisa menjadi strategi untuk memecah belah internal pemerintahan AS.
Selat Hormuz: Medan Tempur Baru yang Lebih Berbahaya
Sementara diplomasi mulai bergerak, ketegangan justru meningkat di titik paling krusial: Selat Hormuz.
Pada akhir Maret 2026, analis geopolitik Pereira mengungkap fakta yang mengkhawatirkan:
- Kapal tanker masih bisa melintas
- Namun harus mendapat izin dari Garda Revolusi Iran
- Setiap kapal membayar “biaya lewat” sebesar 2–4 juta dolar
Yang lebih mengejutkan, pembayaran ini tidak menggunakan dolar AS, melainkan yuan Tiongkok atau mata uang kripto.
Ini menandakan munculnya sistem pembayaran baru yang berpotensi melewati dominasi dolar.
Bahkan perusahaan asuransi global Lloyd’s of London mulai memasukkan “persetujuan Garda Revolusi” sebagai faktor dalam penentuan premi kapal—sebuah tanda bahwa kontrol Iran mulai diakui secara tidak langsung dalam sistem global.
Jika tren ini berlanjut, maka fondasi dominasi dolar dalam perdagangan minyak dunia sejak tahun 1974 berpotensi mulai runtuh.
Respons Militer AS: Pasukan Elite Dikerahkan
Sebagai respons, Pentagon pada 25 Maret 2026 mengerahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah.
Pasukan ini dikenal sebagai unit elite yang biasa digunakan untuk operasi cepat dalam merebut kendali wilayah strategis.
Pesan dari langkah ini jelas: selama Selat Hormuz belum berada di bawah kendali AS, konflik ini belum akan berakhir.
Iran Semakin Terisolasi di Panggung Internasional
Dalam waktu bersamaan, posisi Iran di dunia internasional semakin terjepit.
- Arab Saudi meninggalkan netralitas dan mendukung langkah militer AS
- Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahkan membuka kemungkinan operasi bersama dengan Uni Emirat Arab
- Saudi juga menekan Pakistan untuk ikut serta, dengan ancaman pembayaran utang sebesar 6,3 miliar dolar
Pukulan paling mengejutkan datang dari Lebanon, yang selama ini dikenal sebagai sekutu Iran.
Pemerintah Lebanon secara resmi menyatakan duta besar Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan untuk meninggalkan negara tersebut.
Sementara itu, Israel memperluas operasi militernya dengan memerintahkan penguasaan wilayah selatan Lebanon hingga Sungai Litani sejauh 30 kilometer sebagai zona penyangga.
Kesimpulan: Perang yang Ditentukan dari Dalam
Hingga 25 Maret 2026, dalam waktu kurang dari sebulan sejak konflik meningkat tajam, Iran menghadapi situasi yang semakin kompleks:
- Kapasitas militer terpukul
- Sekutu regional mulai meninggalkan
- Jalur ekonomi terancam
- Dan konflik internal semakin terbuka
Di tengah semua itu, sosok seperti Ghalibaf muncul sebagai simbol dari perubahan arah kekuasaan.
Perang ini mungkin tidak akan ditentukan hanya di medan tempur— tetapi juga oleh siapa yang berhasil mengendalikan kekuasaan dari dalam Iran sendiri. (***)





