Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berkomunikasi lewat telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kepada Pezeshkian, Anwar mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel serta menegaskan dukungan terhadap Iran.
Iran diserang AS-Israel sejak 28 Februari 2026 lalu. Serangan itu memicu balasan Iran ke Israel serta pangkalan militer AS yang berada di beberapa negara tetangganya hingga saat ini.
Lewat akun X pribadinya Anwar menyebut, komunikasi dengan Pezeshkian membahas perkembangan perang di Iran. Anwar kemudian menyampaikan duka atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan rakyat Iran lainnya.
"Malaysia mengecam sekeras-kerasnya serangan Israel yang didukung Amerika Syarikat ke atas Iran. Dalam masa yang sama, Malaysia turut menyatakan keprihatinan terhadap negara-negara sahabat di Teluk yang terkesan akibat konflik ini," kata Anwar cuitan di X menggunakan bahasa Melayu, Jumat (27/3).
"Malaysia mengutuk sebarang tindakan yang menyasarkan orang awam, kerana ia jelas melanggar undang-undang antarabangsa, prinsip kemanusiaan dan nilai keadilan. Saya turut mengambil maklum kesediaan Iran untuk berunding, dengan syarat penamatan perang secara muktamad," sambung dia.
Anwar lalu berharap jika nantinya kesepakatan gencatan senjata tercapai maka harus ada jaminan hal itu bakal dipatuhi. Sebab, bila tak ada jaminan maka Anwar khawatir kondisi di Iran akan seperti Gaza dan Lebanon.
Di dua wilayah dan negara itu Israel sudah menyepakati gencatan senjata. Tapi, serangan yang acap kali menelan korban jiwa warga sipil kembali terulang.
"Malaysia percaya keamanan sejati menuntut penyelesaian yang tuntas, demi menjamin keselamatan semua pihak serta memulihkan maruah kemanusiaan di rantau Asia Barat," papar Anwar.
"Saya turut menghargai penghargaan Presiden Pezeshkian terhadap sokongan Malaysia, dan komited untuk terus memperkukuh solidariti ini. Sama-sama kita doakan agar konflik di Asia Barat dapat menemui jalan damai dengan kadar segera," tutup Anwar.





