Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan ambisi Presiden Prabowo Subianto merealisasikan elektrifikasi kendaraan (electric vehicle/EV) diprediksi bisa menekan beban subsidi energi hingga 85 persen.
Ekonom Senior INDEF, Didik J Rachbini, mengatakan krisis distribusi dan pasokan energi akibat perang di Timur Tengah memaksa banyak negara mengumumkan darurat energi, seperti Filipina. Krisis ini bisa menjalar kepada krisis fiskal dan ekonomi.
"Karena itu, mutlak harus memanfaatkan momentum krisis ini untuk melakukan transformasi dan transisi cepat dari energi minyak, termasuk batu bara yang kotor, menjadi energi hijau," ungkapnya melalui keterangan tertulis, Jumat (27/3).
Menurut Didik, Prabowo menanggapi krisis ini dengan membeberkan rencana besar, yakni transisi energi untuk kendaraan dari berbahan bakar bensin menjadi tenaga listrik. Dia menilai, transisi tersebut dapat membantu menyelamatkan fiskal jika dilakukan dengan cermat dan cepat.
Berdasarkan perhitungan Prabowo, masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik dapat memangkas 20 persen atau seperlima pengeluaran untuk kendaraan. Hal ini, kata Didik, sejalan dengan hasil kajian INDEF.
"Satu unit kendaraan listrik sangat memungkinkan dan bisa memangkas beban subsidi energi sampai 85 persen," ungkap Didik.
Dengan demikian, dia menyebutkan konversi menuju kendaraan listrik ini bisa menekan ketergantungan Indonesia pada BBM impor yang dapat menguras APBN di tengah kenaikan harga minyak mentah saat perang AS-Israel dan Iran.
"Jika lambat dan gagal melakukan transisi dan konversi ini, maka risiko krisis akan semakin nyata. Kebijakan percepatan konversi ini menjadi langkah paling layak untuk dilakukan dan menjadi suatu keharusan. Penyelamatan fiskal harus dilakukan dengan cara ini dan juga secara terus-menerus mengantisipasi ketidakpastian dunia," tegas Didik.
Di sisi lain, ketidaksiapan transisi energi bisa menyebabkan subsidi membengkak tidak terkendali, yang bisa berujung pada krisis fiskal, apalagi jika subsidi BBM dibiarkan hanya akan dinikmati golongan atas yang Mampu, para pemilik mobil.
Menurut studi INDEF, lanjut Didik, konsumsi energi bersubsidi selama ini tidak mencerminkan pemerataan manfaat antar golongan masyarakat. Distribusi konsumsi Pertalite sebagian besar dinikmati golongan atas sebesar 63 persen dan golongan bawah hanya 37 persen.
"Momentum krisis harga minyak pada saat ini sangat tepat untuk segera melakukan konversi untuk membuat subsidi energi lebih tepat sasaran, sekaligus menyiasati perubahan dan gejolak harga minyak karena perang," jelas Didik.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto merencanakan percepatan penggunaan kendaraan listrik secara menyeluruh, mulai dari motor hingga truk, sebagai bagian dari upaya efisiensi energi. Kebijakan tersebut juga bertujuan agar konsumsi BBM dapat ditekan.
“Tapi the whole plan is, semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik,” ujar Prabowo dalam acara Presiden Prabowo Menjawab dengan jurnalis senior dan pengamat di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3).
“Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari, silakan lu pakai bensin, lu bayar aja harga dunia. Mau 200 dolar, ya, kan, lu orang kaya kok, yang lain?" tuturnya.
Menurut Prabowo, peralihan ke kendaraan listrik dapat menjadi langkah besar bagi Indonesia, terutama dalam menekan biaya energi.
"Kita sudah bikin simulasi, ternyata si yang naik motor kalau dia pakai listrik, pengeluarannya tinggal 20%, seperlima. Jadi this is our game changer. Ini game changer,” kata dia.





