Gubernur Sherly Tjoanda Laos: Bugis-Makassar adalah Jaringan Ekonomi Indonesia Timur

terkini.id
6 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar – Sejak ratusan tahun lalu, orang Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut, perantau, dan pedagang. Laut bagi mereka bukan penghalang, melainkan jalan yang menghubungkan pulau, pasar, dan kehidupan baru.

Dari pelabuhan kecil hingga kota besar, jejak perantau Bugis-Makassar tersebar luas, membangun usaha dan jaringan ekonomi di berbagai daerah.

Bagi banyak orang, Bugis-Makassar bukan sekadar pelaut laut, tetapi pelaut kehidupan. Mereka berlayar bukan hanya menembus ombak, tetapi juga menembus tantangan ekonomi, persaingan usaha, dan kerasnya hidup di tanah rantau.

Di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga luar negeri, mereka membuka usaha, membangun jaringan distribusi, menjadi pedagang, pengusaha kapal, logistik, hingga properti.

Jaringan saudagar Bugis-Makassar tumbuh bukan dalam satu malam, tetapi melalui hubungan kekeluargaan, kepercayaan, dan saling membantu antar perantau.

Gubernur Sherly Tjoanda Laos menggambarkan filosofi orang Bugis seperti layar yang terkembang. Sekali berlayar, mereka pantang kembali ke pantai sebelum tujuan tercapai.

Filosofi ini yang membuat banyak perantau Bugis-Makassar dikenal ulet, berani mengambil risiko, dan mampu bertahan dalam berbagai bidang usaha.

Menurutnya, kekuatan utama orang Bugis-Makassar bukan hanya pada perdagangan, tetapi pada jaringan.

Mereka saling menjadi distributor, pemasok, pemilik kapal, pemilik gudang, hingga pemilik toko. Tanpa disadari, jaringan ini membentuk rantai ekonomi yang kuat, terutama di kawasan Indonesia Timur yang wilayahnya terdiri dari banyak pulau dan sangat bergantung pada jalur distribusi laut.

Kini jaringan usaha Bugis-Makassar bergerak di berbagai sektor, mulai dari pelayaran rakyat, logistik dan ekspedisi, perdagangan antar pulau, distributor bahan pokok, properti dan real estate, perkebunan, pertambangan, kuliner, hingga UMKM.

Banyak jalur distribusi barang di Indonesia Timur yang terhubung melalui jaringan saudagar Bugis-Makassar. Dari kapal kayu di pelabuhan hingga gudang logistik di kota-kota besar, jaringan itu terus hidup dan berkembang.

Karena itu, tidak berlebihan jika jaringan saudagar Bugis-Makassar sering disebut sebagai salah satu penggerak ekonomi Indonesia Timur. Mereka bukan hanya berdagang untuk diri sendiri, tetapi membangun jaringan usaha yang menghubungkan pulau, daerah, dan pasar.

“Orang Bugis-Makassar ini bukan hanya pedagang, tetapi pelaut kehidupan. Mereka berlayar, merantau, membangun usaha, dan membentuk jaringan ekonomi di mana pun mereka berada,” ujar Sherly.

Bagi banyak perantau Bugis-Makassar, merantau bukan sekadar mencari nafkah, tetapi membangun masa depan, jaringan, dan nama keluarga.

Semangat merantau, berdagang, dan membangun usaha diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian dari identitas dan budaya.

“Di laut mereka berlayar, di darat mereka berdagang, dan di mana pun mereka berada, mereka membangun jaringan. Itulah Bugis-Makassar, pelaut kehidupan sekaligus saudagar yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Indonesia Timur,” kata Sherly Tjoanda Laos.

“Bugis-Makassar bukan hanya pelaut laut, tetapi pelaut kehidupan yang membangun jaringan ekonomi di mana pun mereka berlayar dan merantau,”tandasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mahasiswa Prodi Sains Data UNM Juara Nasional, Ciptakan Smart Door Lock Berbasis IoT
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Benyamin Davnie Ambil Kebijakan Berani! ASN Tangsel WFA hingga 30 Maret, Begini Penjelasannya
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Dikunjungi Prabowo, Warga Bantaran Rel Senen: Dari Saya Kecil Baru Kali Ini Presiden Datang ke Sini
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Bursa Asia Rontok, Ketidakpastian Damai AS-Iran Guncang Pasar
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Dewi Perssik Balas Nyinyiran Soal THR Rp 15 Ribu, Sang Pedangdut Kini Tunjukkan Gunungan Beras Premium Buat Warga
• 5 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.