FAJAR, MAKASSAR – Di tengah dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang terus berubah, selalu ada figur-figur yang bekerja dalam senyap namun memberi dampak besar bagi bangsa. Salah satunya adalah sosok yang akrab disapa Bro Rivai. Bagi mereka yang cukup intens mengikuti perkembangan wilayah Sulawesi Selatan, tentu tidak asing dengan nama ini.
Nama lengkapnya Abdul Rivai Ras. Beliau adalah figur putra daerah Sulawesi Selatan yang konsisten mengabdikan diri bagi negeri, tanpa kehilangan akar pengabdiannya pada kampung halaman.
Pertanyaan sederhana layak diajukan: apakah publik masih mengingat sosok Bro Rivai yang dahulu melegenda di Sulawesi Selatan karena komitmennya untuk membangun daerah?
Jika ingatan itu mulai memudar, maka momentum seperti Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (PSBM) justru menjadi ruang yang mempertegas kembali eksistensi dan dedikasinya.
Bro Rivai bukanlah figur biasa. Ia merupakan perwira tinggi TNI berpangkat bintang dua, seorang akademisi militer, sekaligus salah satu pendiri Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Namun, yang membuatnya menonjol bukan sekadar jabatan atau gelar, melainkan konsistensi dalam menapaki karier dengan kemandirian, tanpa bergantung pada patronase kekuasaan.
Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menduduki posisi strategis setingkat eselon satu di pemerintahan, serta dipercaya sebagai Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.
Di ranah akademik, ia dikenal sebagai pemikir tangguh yang mengabdikan diri di lingkungan pendidikan pertahanan, termasuk di Universitas Indonesia.
Lahir di Bone, Sulawesi Selatan, Bro Rivai adalah representasi nyata dari etos kerja masyarakat Bugis-Makassar yang ulet, mandiri, dan menjunjung tinggi harga diri.
Ia membangun kariernya bukan melalui jalan pintas, melainkan lewat proses panjang yang ditempa oleh disiplin militer, ketajaman intelektual, dan integritas personal.
Ketertarikannya pada isu-isu strategis global, khususnya geopolitik dan sistem pertahanan keamanan, membawanya menempuh pendidikan di Elliott School of International Affairs, bagian dari George Washington University di Amerika Serikat. Pengalaman ini memperkaya perspektifnya dalam membaca dinamika global, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
Rekam jejak internasionalnya pun tidak main-main. Ia pernah menjadi pembicara kunci di markas besar Pentagon, Virginia, USA untuk memberikan pandangan strategis terkait isu Laut Cina Selatan, sebuah kawasan yang hingga kini menjadi episentrum kontestasi geopolitik global.
Keterlibatannya dalam forum tersebut menegaskan bahwa kapasitas intelektual dan pengalaman praktisnya diakui tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung internasional.
Atas kontribusinya dalam pemikiran keamanan maritim, Bro Rivai dianugerahi Achievement Award oleh Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies, sebuah pengakuan atas dedikasinya dalam memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa kiprahnya tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga regional.
Di dalam negeri, ia telah mengabdi di berbagai institusi strategis, mulai dari Sekretariat Militer Presiden, Kementerian Pertahanan, Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, hingga Mabes TNI dan Mabes TNI Angkatan Laut.
Fokus pengabdiannya lebih banyak berkaitan dengan perumusan konsep strategis dan kebijakan pertahanan, sebuah bidang yang membutuhkan kombinasi antara visi jangka panjang dan ketepatan analisis.
Tidak berhenti di situ, negara juga menganugerahkan kepadanya Medali Kepeloporan, sebuah tanda jasa prestisius yang hanya diberikan kepada tokoh-tokoh dengan kontribusi luar biasa dalam merintis dan mengembangkan berbagai bidang strategis.
Ia berada dalam barisan tokoh nasional seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri yang juga pernah menerima penghargaan serupa.
Selain itu, ia juga menerima berbagai tanda kehormatan lain seperti Bintang Yudha Dharma Pratama dan Bintang Yudha Dharma Nararya, bagian dari total belasan penghargaan negara yang mencerminkan dedikasi dan pengabdiannya.
Namun yang menarik, perjalanan Bro Rivai tidak berhenti di ranah militer dan birokrasi. Ia terus memperluas kiprahnya ke dunia sipil, termasuk dalam sektor usaha.
Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI), sebuah posisi yang menunjukkan komitmennya terhadap isu strategis lain, yakni pembangunan sumber daya manusia dan ketahanan pangan.
Di tengah perdebatan publik terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), Bro Rivai tampil sebagai figur yang tidak sekadar mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi dan inisiatif konkret. Baginya, pembangunan manusia tidak bisa dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk akses terhadap gizi yang memadai.
Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, seperti Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), serta Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN). Aktivitas ini menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok organisatoris yang tidak pernah berhenti berkontribusi.
Menariknya, di tengah berbagai capaian tersebut, Bro Rivai tetap tampil sederhana dan rendah hati. Dalam sebuah kesempatan di ajang PSBM, ketika sejumlah wartawan mencoba menggali pandangannya tentang arah pembangunan nasional, ia memberikan jawaban yang singkat namun sarat makna, bahwa “memang penting mempertanyakan apa yang dilakukan negara kepada kita, tapi yg jauh lebih penting adalah merawat silaturahmi dan bekerja tanpa batas untuk bangsa, khususnya bagi Sulawesi Selatan.”
Pernyataan tersebut mencerminkan filosofi hidupnya. Baginya, identitas kedaerahan bukanlah batas, melainkan pijakan untuk berkontribusi lebih besar bagi Indonesia. Sulawesi Selatan adalah akar, tetapi pengabdiannya menjangkau level nasional bahkan global.
Di sinilah letak keunikan Bro Rivai di antara banyak figur lain yang terus bermunculan di Indonesia. Ia tidak terjebak dalam romantisme lokalitas, tetapi juga tidak tercerabut dari identitasnya.
Ia memahami bahwa membangun daerah tidak harus selalu dilakukan di tingkat lokal; justru melalui kiprah nasional dan internasional, kontribusi bagi daerah bisa menjadi jauh lebih signifikan.
Momentum PSBM menjadi simbol penting dalam perjalanan tersebut. Di tengah pertemuan para saudagar dan tokoh Sulawesi Selatan, kehadiran Bro Rivai bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan komitmen, bahwa perjuangan untuk daerah tidak pernah selesai.
Dalam konteks Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan – mulai dari ketahanan pangan, persaingan global, hingga dinamika geopolitik – figur seperti Bro Rivai menjadi relevan. Ia menggabungkan pengalaman militer, kedalaman akademik, dan sensitivitas sosial dalam satu paket kepemimpinan yang utuh.
Pada akhirnya, kisah Bro Rivai adalah tentang konsistensi. Tentang bagaimana seseorang tetap teguh pada prinsip, terus berjuang tanpa pamrih, dan tidak pernah melupakan asal-usulnya. Di tengah arus pragmatisme yang kian kuat dalam politik dan birokrasi, sosok seperti ini menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas ruang dan waktu.
Bro Rivai mungkin tidak selalu berada di panggung utama, tetapi jejak langkahnya menunjukkan satu hal yang pasti, bahwa perjuangan untuk Sulawesi Selatan-dan untuk Indonesia-tidak pernah luntur dalam dirinya. (*)





