Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis pertumbuhan ekspor Indonesia tetap tumbuh positif di tengah konflik Timur Tengah yang memanas tahun ini. Meski demikian, ada kekhawatiran pertumbuhan ekspor pada 2026 cenderung melandai jika eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) - Iran bertahan lama.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan apabila konflik berlangsung berkepanjangan, maka pertumbuhan ekspor Indonesia pada 2026 berisiko lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam catatan Bisnis, Kemendag memperkirakan kinerja ekspor Indonesia akan tumbuh pada rentang 5,3%—6,9% sepanjang 2026.
Kendati proyeksi pertumbuhan ekspor Indonesia berpotensi melambat seiring eskalasi konflik yang berlangsung, Budi menyebut angka yang lebih rinci masih menunggu data aktual.
Namun demikian, Kemendag tetap optimistis kinerja ekspor nasional dapat tumbuh positif dan mengantongi surplus dengan memanfaatkan perubahan peta perdagangan global. Salah satunya melalui strategi diversifikasi pasar ekspor ke kawasan yang relatif tidak terdampak konflik, seperti negara-negara Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Afrika.
“Optimis bahwa semua akan selesai, semua akan selesai dan ini ketika kondisinya seperti ini sebenarnya kita mempunyai kesempatan juga untuk yang pertama tadi mencari pasar yang baru,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga
- Menilik Nasib Ekspor CPO Saat Konflik Timur Tengah Memanas
- Ekspor Sawit Berisiko Tak Maksimal
- Serangan Drone Ukraina Berdampak pada 40% Kapasitas Ekspor Kilang Minyak Rusia
Selain itu, Budi melihat peluang dari kenaikan harga komoditas global seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara yang berpotensi menopang nilai ekspor. Menurutnya, kenaikan harga tersebut akan mendorong peningkatan nilai ekspor, meskipun sebagian harus dikompensasi dengan kenaikan biaya logistik.
“Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya. Nanti mungkin kita kompensi dengan biayanya [logistik],” ujar Budi.
Di sisi lain, Kemendag juga menekankan pentingnya pembenahan sektor logistik nasional guna meningkatkan daya saing ekspor di tengah tekanan global. Dengan begitu, pemerintah berharap kinerja ekspor tetap terjaga meskipun dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik global.
Ekspor RI ke Timur Tengah
Sepanjang 2025, Budi menuturkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah mencapai US$9,87 miliar. Atau pangsa pasarnya itu 3,49% dari total ekspor Indonesia ke dunia.
Dari sana, lanjut dia, kontribusi terbesar ekspor Indonesia di Timur Tengah berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) sekitar 40%, disusul Arab Saudi 29%, sementara Iran hanya sekitar 2,5% atau setara US$250 juta.
Menurutnya, dampak utama konflik saat ini lebih terasa pada aspek logistik akibat lonjakan harga energi dan perubahan rute pengiriman.
“Dampaknya sebenarnya lebih banyak faktor ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik. Jadi pengaruhnya ke logistik dan juga salah satunya rute pengalihan. Jadi kan semakin panjang sekarang karena ada beberapa port yang ditutup,” jelasnya.
Meski begitu, Budi menyebut permintaan ekspor dari kawasan Timur Tengah masih berjalan meski tertekan biaya logistik yang melambung.





