JAKARTA, KOMPAS.com – Wacana pemerintah menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mendapat respons positif.
Dimas (29), seorang staf di salah satu Suku Dinas di DKI Jakarta, mengaku sangat mendukung rencana tersebut. Menurutnya, kebijakan itu bakal menciptakan keseimbangan antara bekerja dengan kehidupan pribadi atau work-life balance.
"Saya setuju banget sih. Kalau buat saya pribadi, alasan utamanya lebih ke work-life balance dan efisiensi waktu, ya. Apalagi rumah saya di Bekasi. Tiap hari itu habis waktu di jalan bisa hampir tiga jam lebih buat PP (pulang-pergi) doang," kata Dimas saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (27/3/2026).
Lantaran jarak rumahnya dengan kantor cukup jauh, Dimas kerap kali kelelahan di perjalanan, bahkan sebelum mulai bekerja. Dengan sistem WFH satu hari sepekan, kelelahan dalam perjalanan bisa berkurang.
Dimas yang bidang kerjanya berkutat dengan data dan riset pun menilai sistem ini sangat cocok untuk pekerjaannya yang bisa dikerjakan tanpa perlu datang ke kantor.
"Malah kadang kalau di kantor jadinya kepotong waktunya, banyak distraksi juga. Kalau WFH selama kerjaannya emang bisa remote kan, tinggal nyari tempat yang comfy dan tenang gitu," ucapnya.
Baca juga: ASN Setuju Wacana WFH Sehari dalam Sepekan: Sudah Biasa Waktu Pandemi
Senada, Erwin (41) ASN di sebuah kementerian menilai, harus ada perubahan pola pikir mengenai pekerjaan agar tak selalu harus hadir di kantor setiap saat.
"Budayanya kan selama ini baru kelihatan kerja itu kalau ada di kantor, kalau WFA atau WFH malah disangkanya mau liburan. Padahal banyak juga yang datang asal pulang jam empat sore, enggak tau kerjanya apa," jelas Erwin.
Erwin meyakini WFH sebenarnya akan membuat budaya kerja berubah menjadi berorientasi pada hasil.
Target pekerjaan harian dan jurnal progres kerja pun dinilai bisa menjadi salah satu patokan agar pekerjaan tetap teratur.
"Karena gini, kalau dia WFH satu hari tapi enggak ngerjain apa-apa itu kelihatan loh progresnya. Saya juga kalau WFH tapi progres kerjaan sedikit jadi tertekan sendiri, jadi lebih seperti di-push untuk produktif malah," kata dia.
Di samping itu, penghematan operasional juga menjadi poin pertimbangan yang penting.
Ia memberikan contoh beberapa kantor swasta yang sudah menerapkan sistem satu hari WFH sebagai bentuk efisiensi tenaga dan finansial.
"Anak saya kantornya itu malah kalau Jumat WFH, jadi yang di kantor cuma beberapa tim saja, kalau pemerintah seperti itu kan bisa menghemat juga, hemat listrik, air, gedung pemerintahan kan banyak," ucapnya.
Dimas menyebut, tak perlu mengkhawatirkan sistem pengawasan yang berpotensi melemah jika wacana ini terealisasi.





