PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) resmi menggabungkan usaha dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic) setelah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Maret 2026.
Penggabungan ini akan efektif pada 22 April 2026 setelah memperoleh persetujuan Menteri Hukum, dengan Moratelindo bertindak sebagai entitas penerima penggabungan dan melanjutkan seluruh kegiatan usaha.
Persetujuan merger dilakukan secara menyeluruh oleh pemegang saham dengan tingkat kehadiran 19.062.011.481 saham atau 80,61% dari total saham, di mana seluruh agenda utama disetujui tanpa penolakan signifikan.
Melalui merger ini, nama perseroan berubah menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk, sekaligus menandai konsolidasi besar dalam industri penyedia layanan internet nasional.
Penggabungan dilakukan dengan skema PT Eka Mas Republik melebur ke dalam PT Mora Telematika Indonesia Tbk, di mana seluruh aset, liabilitas, dan operasional EMR dialihkan ke MORA.
Dalam transaksi ini, ditetapkan rasio konversi 1 saham EMR menjadi 7.703,807548 saham MORA. Dampak langsung dari mekanisme tersebut adalah terjadinya dilusi kepemilikan bagi pemegang saham lama Moratelindo sekitar 50,50%.
Selain itu, struktur pengendalian perusahaan juga berubah dari sebelumnya PT Candrakarya Multikreasi menjadi PT Innovate Mas Utama sebagai pemegang kendali baru.
Baca Juga: Kelalaian Merger dan Akuisisi Mengancam Persaingan Usaha
Baca Juga: Mau Rights Issue, JGLE Bidik Dana Rp414 Miliar untuk Akuisisi Jungleland
Seiring dengan perubahan struktur korporasi, susunan pengurus perseroan juga mengalami perombakan signifikan, menjadi sebagai berikut:
Dewan Komisaris
-
Komisaris Utama & Komisaris Independen: M. Arsjad Rasjid P.M
-
Komisaris: Marlo Budiman
-
Komisaris: Handhianto S. Kentjono
Direksi
-
Direktur Utama: Timotius M. Sulaiman
-
Direktur: Yopie Widjaja
-
Direktur: Hendra Gunawan
-
Direktur: Edward Sanusi
-
Direktur: Iman Syahrizal
-
Direktur: Melanie Dwita Maharani
-
Direktur: Edward Anwar
-
Direktur: Jimmy Kadir
-
Direktur: Genta Andhika Putra
-
Direktur: Michael C. McPhail
-
Direktur: Resi Y. Bramani
Dari sisi skala bisnis, merger ini menggabungkan dua kekuatan utama yang saling melengkapi. Moratelindo memiliki jaringan fiber optik sepanjang 57.779 km, enam data center dengan kapasitas sekitar 3,3 megawatt, serta melayani 16.806 pelanggan enterprise dan 296.305 pelanggan ritel.
Di sisi lain, MyRepublic memiliki jaringan fiber optik sepanjang 58.455 km, cakupan 8,79 juta homepass, serta 1,52 juta pelanggan ritel. Integrasi ini memperkuat posisi entitas baru dengan kombinasi infrastruktur backbone yang luas dan basis pelanggan ritel yang besar, baik di segmen enterprise maupun residensial.
Secara keuangan, Moratelindo menunjukkan fundamental yang solid menjelang merger. Hingga September 2025, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp2,8 triliun dan laba bersih Rp245,7 miliar. Total aset tercatat sebesar Rp14,46 triliun dengan ekuitas Rp7,64 triliun. Margin laba bersih berada di kisaran 8,75% dan return on equity sebesar 4,29%, mencerminkan kondisi operasional yang stabil dan menjadi basis ekspansi melalui aksi korporasi ini.
Merger ini dirancang untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia layanan internet terintegrasi, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperluas jangkauan layanan nasional. Rancangan penggabungan juga telah mempertimbangkan kepentingan perusahaan, pemegang saham, serta aspek persaingan usaha.
Meski demikian, perusahaan mengakui adanya risiko yang perlu diantisipasi, terutama terkait kompleksitas dan biaya integrasi operasional pasca-merger yang berpotensi memengaruhi kinerja jangka pendek.
Dalam pelaksanaannya, RUPSLB juga menyetujui perubahan anggaran dasar, peningkatan modal ditempatkan dan disetor, serta mekanisme pembelian kembali saham bagi pemegang saham yang tidak menyetujui merger.
Direksi diberikan kewenangan penuh untuk menindaklanjuti seluruh proses integrasi, termasuk penyesuaian operasional, struktur organisasi, dan langkah strategis lanjutan guna memastikan sinergi berjalan optimal.





