Beberapa waktu lalu, jagat maya diramaikan oleh sebuah video viral. Sekelompok ibu-ibu di Banyumas, Jawa Tengah menggelar kocok arisan di dalam ruangan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) yang sempit dan ber-AC, sambil duduk di lantai. Sambil tertawa riang, mereka memegang tumpukan uang pecahan seratus ribu, seakan tak peduli pada antrean orang di luar ATM.
Tidak dijelaskan lebih jauh mengapa para ibu-ibu memilih kios ATM sebagai tempat kocok arisan. Ada salah satu komentar dalam bahasa Jawa, ”Urip lagi kesel-kesel, eeh malah nemu arisan di ruang ATM”. Artinya kurang lebih seperti ini: hidup lagi susah, malah menemukan ada arisan di ruang ATM.
Di kota-kota besar, komodifikasi arisan semakin ”kreatif”. Pertemuan kerap bahkan ’wajib’ digelar di kafe, restoran fine dining atau hotel berbintang, lengkap dengan dress code tematik, fotografer profesional, hingga iuran yang nominalnya bisa untuk menyicil rumah dan membeli mobil.
Bagi sebagian kalangan, arisan kehilangan ruhnya. Arisan berubah menjadi panggung teater untuk memamerkan status sosial, sekaligus menunjukkan betapa tumpulnya kepekaan kelas menengah atas terhadap realitas ekonomi masyarakat yang sedang kembang kempis.
Arisan tak lagi sebatas soal silaturahmi, kumpul-kumpul perempuan (ada juga laki-laki), kocok nama, lalu hepi dan bergembira. Ruh arisan kerap menjelma menjadi kompetisi terselubung, soal siapa yang menenteng tas paling mahal atau liburan paling jauh.
Ada jarak yang begitu menganga antara tawa di kafe mewah dengan realitas di jalanan! Di Makassar ada arisan ibu-ibu yang nominalnya mencapai miliaran yang kemudian mendapat perhatian dari kantor pajak.
Padahal, jika kita menengok kembali ke akar tradisinya, arisan jauh dari kesan elitis. Ketua Dewan Eksekutif Perkumpulan KAPAL Perempuan, Misiyah, menilai arisan bukan sekadar kumpul rutin, melainkan bisa menjadi ruang ’healing’ atau pemulihan yang sederhana bagi sejumlah perempuan.
"Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, arisan memberi kesempatan untuk saling bercerita, tertawa, dan menguatkan satu sama lain," ungkap Misiyah, di Jakarta, Jumat (27/3/2025).
Lebih dari itu, arisan membantu perempuan memenuhi kebutuhan yang lebih besar dari kemampuan harian, seperti biaya perbaikan rumah, kebutuhan mendadak, atau modal usaha kecil. Dengan sistem giliran, perempuan bisa merasakan memiliki ’pegangan’ keuangan tanpa harus terjerat utang.
Namun, Misiyah juga mengingatkan bahwa bagi masyarakat kelas bawah, arisan harus disesuaikan dengan kemampuan agar tidak berbalik menjadi beban. Besaran iuran harus ringan dan fleksibel. Bentuknya pun tak melulu uang tunai.
Arisan bisa dimodifikasi menjadi arisan beras, minyak goreng, atau kebutuhan pokok lainnya. Dengan cara ini, arisan tetap menjadi alat saling bantu dan penguat ketahanan bersama di tengah situasi krisis.
Bukti nyata dari kekuatan arisan yang membumi ini bisa kita lihat pada praktik yang dilakukan oleh ibu-ibu di Sekolah Perempuan Padang. Bagi mereka, arisan membawa empat manfaat fundamental yang jauh melampaui urusan materi.
Aku berkumpul arisan, maka aku ada.
Pertama, terbangunnya kekompakan antaranggota. Kedua, karena tempat arisan berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain, para anggota menjadi lebih memahami kondisi riil kehidupan masing-masing. Ketiga, dari pemahaman itulah lahir solidaritas, simpati, dan empati yang tulus.
Keempat, uang hasil kocokan arisan benar-benar menjadi penyambung napas: untuk membayar biaya sekolah anak, tambahan modal usaha, hingga biaya berobat anggota keluarga yang sakit.
Praktik di Padang adalah antitesis dari arisan gaya hidup urban yang sering kali eksklusif dan berjarak. Ketika arisan dilakukan dari rumah ke rumah, tidak ada yang bisa disembunyikan. Karena dinding rumah yang mengelupas atau ruang tamu yang sempit menjadi saksi bisu yang justru mempererat ikatan persaudaraan antarperempuan.
Dosen Antropologi FISIP Universitas Airlangga, Pinky Saptandari melihat arisan dari sudut pandang yang jauh lebih luas dan kompleks. Menurutnya, arisan secara sosio-kultural bukan semata kocok-kocok dapat uang secara bergantian.
Arisan, berapapun jumlah uangnya, apapun wujudnya, serta apapun sistem yang dikembangkan merupakan wujud kekuatan perempuan yang sangat beragam dan dinamis. ”Arisan versi lokal dengan nuansa tradisional masih bertahan sebagai mekanisme bertahan di era ketidakpastian,” ucap Pingky.
Bentuk menabung ini tidak perlu ribet urus keuntungan atau menghitung bunga, atau pusing dengan beban administrasi saat menabung di bank. Arisan adalah cara sederhana tetapi efektif untuk mengamankan masa depan.
Namun, yang lebih menarik lagi, arisan bukan sekadar urusan finansial. Arisan adalah bentuk merawat kekuatan lahir batin, saling menguatkan, dan berbagi ide gagasan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
Jadi, arisan bukan sekadar ngobrol ngalor ngidul (obrolan yang tidak fokus) tetapi justru bisa menjadi sarana merawat memori sosial tentang hal-hal yang patut diingat, apa yang perlu diabaikan atau bahkan dilupakan.
"Melalui kegiatan arisan, mereka belajar melupakan beban hidup dan masalah yang mengimpit, tetapi mengingat hal-hal menyenangkan yang lucu-lucu, walau sesuatu yang terlihat sederhana," tutur Pingky.
Ini sebenarnya merupakan bentuk terapi psikologis yang organik dan tumbuh dari bawah, jauh sebelum istilah self-care menjadi tren di media sosial.
Selain perempuan, ada juga lelaki yang melakukan arisan dalam bentuk yang berbeda. Seperti para petani di Desa Srimulyo, Dampit, Malang, Jawa Timur, yang melakukan arisan tenaga di perkebunan kopi rakyat di desannya. Arisan tenaga adalah bentuk gotong royong petani untuk mengolah kebun kopi. Kawasan ini merupakan penghasil utama kopi robusta di Malang.
Namun, Pingky juga mengakui bahwa arisan terkait erat dengan gaya hidup. Fenomena arisan kelas menengah atas yang mengalami metamorfosa adalah bukti nyata dari hal ini. Arisan menjadi gaya hidup sosialita yang tetap membutuhkan arena dan tempat untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai kelompok perempuan.
”Mereka mengadakan arisan di tempat yang dianggap bergengsi seperti restoran, kafe, atau hotel. Tentu jumlah uang arisan juga menyesuaikan tempat dan gengsi mereka,” ucap Pingky.
Maka arisan adalah arena sosial yang multifungsi. Apapun bentuk keragaman arisan, dari versi tradisional hingga bergaya urban, Pinky menegaskan arisan tetap memainkan peran penting dalam perjalanan keberdayaan perempuan.
”Arisan adalah arena sosial untuk menunjukkan eksistensi perempuan. Aku berkumpul arisan, maka aku ada,” ucap Pinky.
Jadi, perempuan, melalui arisan baik yang duduk di tikar pandan maupun di sofa beludru hotel berbintang, sesungguhnya para perempuan sedang melakukan sesuatu yang fundamental. Mereka membuktikan kehadiran mereka, mengklaim ruang sosial, dan mengatakan kepada dunia bahwa mereka ada dan penting.
Tak heran jika satu perempuan bisa ikut lebih dari satu perkumpulan arisan, demi menjaga eksistensi, relasi, dan kadang terkait juga dengan urusan gengsi. Setiap arisan adalah jejak kehadiran mereka di dunia.
Dari lensa kesetaraan jender, sesungguhnya arisan dalam bentuknya yang paling murni adalah sebuah entitas politik sehari-hari (everyday politics). Dalam struktur masyarakat patriarki, perempuan kerap memikul beban ganda, mengurus ranah domestik tanpa henti sekaligus dituntut produktif di ranah publik.
Namun ketika mereka berkumpul, di meja arisan yang membumi, hierarki sosial dan tuntutan patriarki sejenak ditanggalkan. Perempuan bisa dengan bebas membicarakan kelelahan mental (mental load) mengurus rumah tangga tanpa takut dihakimi.
Mereka berbagi informasi soal kesehatan reproduksi, tips mengasuh anak, hingga saling melindungi dari ancaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ini adalah bentuk perlawanan diam-diam, sebuah ruang aman (safe space) di mana suara perempuan divalidasi.
Bahkan, saat bencana pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan dunia, di kampung-kampung dan perumahan, para ibu-ibu kelompok arisan menjadi motor yang bergerak saat ada warga yang isolasi mandiri atau suaminya terkena pemutusan hubungan kerja.
Pada akhirnya, arisan adalah cermin dari wajah perempuan itu sendiri. Arisan bisa menjadi etalase kesombongan yang nir-empati, kalau itu dijadikan panggung pamer materi. Namun, di tangan perempuan-perempuan yang merawat solidaritas, arisan adalah rahim yang menyemai kekuatan.
Mungkin sudah saatnya kita mengembalikan arisan pada khitahnya. Bukan sebagai ajang pamer yang menguras isi dompet demi validasi sosial, melainkan sebagai jaring pengaman tak kasat mata yang membuat perempuan saling menopang, dan tetap mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya dunia.
Arisan yang sejati bukanlah tentang seberapa mewah tempat kita berkumpul, seberapa lezat makanan yang disajikan, melainkan seberapa lapang hati kita untuk saling mendengarkan dan menguatkan, bahkan menolong sesama perempuan yang berjuang sendirian.





