Pagi menjelang siang, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Agus Ponco sudah berdiri di antara deretan nisan di Makam Sasonoloyo Kaliabu, Gamping, Sleman.
Tanah masih menyimpan sisa lembap malam, daun-daun kering menempel di beberapa sudut, dan sebagian batu nisan tampak kusam dimakan waktu.
Di tempat yang bukan kafe atau ruang perjumpaan pada lazimnya itulah, kami membuat janji temu. Saya menemui lelaki asal Magelang itu pada hari ke-11 Ramadan, Minggu (1/3), untuk bercakap tentang sesuatu yang bagi banyak orang mungkin terdengar sepele—tetapi baginya, telah menjadi bagian dari hidup.
Ia datang mengendarai sepeda motor tua, dengan tas di punggung berisi berbagai peralatan: dua bunga matahari, keranjang bambu berisi bunga tabur, sapu lidi, cairan pembersih porselen, hingga spidol. Dalam kondisi tertentu, ia juga membekali diri dengan gunting taman dan sepatu boots, antisipasi dari semak-semak liar, bahkan kemungkinan ular dan serangga.
Setelah meletakkan barang-barangnya, matanya menyapu sekeliling. Bukan sekadar membaca nama, tetapi seperti mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang tak selalu terlihat. Sejurus kemudian, ia bergerak.
Ponco jelas datang bukan sebagai peziarah biasa, melainkan seseorang yang telah menjadikan makam sebagai bagian dari rutinitas hidupnya.
Bermula dari Makam Mama
Semua ini berawal dari satu titik paling personal: makam Mama-nya. Dulu, Ponco rutin berziarah. Ia menyapu daun, merapikan rumput, memastikan makam itu tetap bersih dan layak dipandang. Dari kebiasaan yang sederhana itu, ia mulai menyadari sesuatu bahwa di sekeliling makam Mama, banyak nisan lain yang tak lagi terurus.
Rumput tumbuh liar, nama memudar, bahkan beberapa hampir tak terlihat sebagai makam.
Perasaan itu datang perlahan—bukan sekadar iba, melainkan kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ia mulai bertanya dalam hati: apakah keluarga mereka sudah tidak ada, atau sebenarnya masih ada, tetapi tak sempat kembali.
Pertanyaan itu tak pernah benar-benar ia jawab. Namun justru dari situlah semuanya dimulai. Satu makam ia bersihkan. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Ia berpindah dari satu blok ke blok lain.
“Awalnya cuma makam di sekitar Mama. Lihat banyak yang tidak terurus, terus kepikiran, entah keluarganya jauh, atau ada kendala biaya, atau mungkin dekat tapi belum sempat. Jadi aku inisiatif bersihin,” kenangnya.
Awalnya, keluarga dan teman-temannya sempat heran. Apa yang ia lakukan dianggap tidak biasa untuk anak muda seusianya. Namun Ponco tak terlalu memikirkan itu. Ia terus berjalan dengan pilihannya.
“Tapi lama-lama mereka juga dukung, karena ini hal yang positif,” ujarnya.
Mengabadikan Momen di Akun Makam Cleaner
Apa yang awalnya dilakukan dalam diam, perlahan menemukan jalannya sendiri.
Ponco mulai merekam aktivitasnya dan mengunggahnya ke media sosial melalui akun @makamcleaner. Video sederhana, tanpa konsep rumit. Namun justru dari kesederhanaan itu, respons datang.
Hingga Maret 2026, akun Instagramnya telah diikuti lebih dari 49 ribu orang, sementara di TikTok mencapai 56 ribu. Banyak yang merasa tersentuh. Tak sedikit pula yang kembali mengingat makam keluarganya sendiri setelah melihat apa yang ia lakukan.
Sejak memulai pada Mei 2024 hingga Maret 2026, Ponco mencatat telah membersihkan sekitar 447 makam di Magelang, Jogja, hingga Klaten. Dalam sepekan, ia bisa merapikan 10 hingga 12 makam, dengan rata-rata dua hingga tiga makam setiap kali datang.
Durasi pengerjaan bergantung kondisi. Ada yang hanya beberapa menit, ada pula yang membutuhkan tenaga lebih—seperti suatu waktu saat ia menemukan makam suami-istri yang sepenuhnya tertutup ilalang, hingga tak terlihat sebagai makam. Setelah dibersihkan, dua nisan itu kembali tampak.
“Kalau lihat makam yang awalnya kotor, enggak kelihatan, terus jadi bersih, itu dari hati senang,” ujarnya. “Kayak makamnya diziarahi lagi. Kayak ada yang ingat dia.”
Titik Jeda dan Kesadaran Baru
Perjalanan itu sempat terhenti di makam ke-160. Bukan karena lelah, melainkan keterbatasan biaya. Selama ini, semua ia tanggung sendiri—bensin, minum, hingga bunga yang ia taburkan. Ia berhenti selama sekitar satu bulan.
Namun justru di masa jeda itu, sebuah pesan datang. Seseorang memintanya membersihkan makam keluarga yang tak bisa mereka datangi. Permintaan sederhana itu menjadi titik balik. Ponco kembali bergerak, dengan kesadaran baru bahwa apa yang ia lakukan ternyata berarti bagi orang lain.
Sejak saat itu, ia mulai menambahkan bunga di setiap makam yang ia bersihkan—bukan sekadar pelengkap, tetapi tanda bahwa makam itu pernah dikunjungi, pernah diperhatikan.
Ada pengalaman lain yang masih ia ingat. Suatu malam, ia bermimpi tentang seorang laki-laki berusia sekitar 40-an—seseorang yang makamnya pernah ia bersihkan. Dalam mimpi itu, laki-laki tersebut datang, tersenyum, lalu membantunya.
Keesokan harinya, Ponco kembali ke lokasi yang ia ingat. Ia mencari, memastikan, dan menemukan sebuah nisan yang kemudian ia yakini berkaitan dengan sosok dalam mimpinya. Tak lama setelah itu, hujan turun deras, memaksanya berteduh cukup lama di area tersebut. Ia tidak mencoba menjelaskan pengalaman itu dengan istilah apa pun.
Namun sejak saat itu, ia merasa makam bukan sekadar tempat yang sunyi, melainkan ruang yang menyimpan banyak cerita—meski tidak semuanya bisa dipahami. Bagi Ponco, membersihkan makam bukan sekadar merapikan tanah atau menebas rumput. Ini tentang menjaga ingatan.
Ia tidak melihat agama, latar belakang, atau identitas lain. Baginya, semua makam memiliki posisi yang sama—tempat terakhir seseorang yang pernah hidup.
Dari Magelang, Menuju Tempat yang Lebih Jauh
Sejauh ini, langkah Ponco masih berputar di wilayah yang bisa ia jangkau—Magelang, Jogja, hingga sebagian Klaten. Beberapa lokasi ia datangi karena permintaan, sebagian besar karena ia temukan sendiri. Namun ia sadar, langkahnya belum sampai ke mana-mana. Di balik rutinitas itu, tersimpan keinginan yang pelan tapi pasti tumbuh: melangkah lebih jauh.
“Kalau ke depannya, pengin bisa keliling,” ujarnya. “Ke Jawa Timur, atau provinsi lain. Biar bisa nolong lebih banyak makam.”
Untuk saat ini, ia memilih memulai dari yang dekat. Jogja menjadi langkah berikutnya—wilayah yang masih bisa ia jangkau dengan kemampuan yang ada. Selebihnya, ia serahkan pada waktu dan keadaan. Ia tidak menetapkan target kapan akan berhenti.
“Enggak tahu sampai kapan,” katanya.
“Mungkin selama masih dipakai Tuhan saja.”
Tentang Mama, dan Jalan yang Terus Berlanjut
Semua ini, pada akhirnya, kembali ke satu sosok: Mama-nya. Dari satu makam itu, langkahnya bertumbuh menjadi ratusan. Dari rindu yang personal, menjadi kepedulian yang lebih luas.
“Ya mungkin Mama di sana senang,” katanya pelan. “Kayak lihat anaknya bersihin makam teman-temannya.” Ia berhenti sejenak. “Mungkin Mama juga bangga.”
Menjelang pukul 14.00 siang, matahari mulai naik lebih tinggi. Bayangan nisan-nisan memendek, sementara Ponco masih bergerak dari satu titik ke titik lain—menyapu, merapikan, menabur bunga.
Di tempat yang sunyi itu, ia bekerja tanpa banyak suara. Makam Sasonoloyo tetap seperti biasa: tenang, lengang, nyaris tak berubah. Namun di antara nisan-nisan yang sebelumnya terlupa, perlahan muncul tanda-tanda kecil, tanah yang lebih rapi, bunga yang baru, dan jejak bahwa seseorang pernah datang.
Ponco mungkin tidak mengenal nama-nama itu. Ia juga tidak tahu sampai sejauh mana langkahnya akan membawanya, apakah hanya di Magelang, atau suatu hari benar-benar melintasi kota dan provinsi seperti yang ia bayangkan.
Tapi hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia memastikan satu hal tetap ada, bahwa di tempat yang sering dilupakan,masih ada seseorang yang datang, dengan sepeda motor tua dan tas di punggungnya, bukan sekadar berziarah,melainkan menjaga agar yang telah pergi tidak benar-benar hilang dari ingatan.





