Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berdampak ke berbagai sektor di dalam negeri, tidak terkecuali industri karet nasional. Secara teori, harga karet dunia akan menguat seiring kenaikan harga minyak global. Namun, harga karet alam masih tertekan meskipun diperkirakan akan menguat dalam jangka menengah.
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara Edy Irwansyah, Jumat (27/3/2026), mengatakan, posisi harga saat ini masih berada di atas rata-rata tahunan meskipun mengalami penurunan sejak perang itu pecah pada akhir Februari.
Pada perdagangan Jumat pagi, harga rata-rata karet remah jenis Technical Specified Rubber atau TSR 20 di bursa Singapore Exchange atau SGX untuk kontrak April berada di level 197,1 sen dollar AS per kilogram. Harga itu turun 3,6 persen dari harga tertinggi tahun ini yakni 205,2 sen per kilogram pada 25 Februari lalu.
“Secara keseluruhan, posisi harga saat ini masih berada di atas rata-rata tahunan, menunjukkan tren jangka menengah yang tetap positif,” kata Edy.
Menurut Edy, koreksi harga karet masih wajar sebagai penyesuaian setelah kenaikan tajam sebelumnya. Tren kenaikan harga karet berlangsung sejak tahun lalu. Pada Juni 2025, harga rata-rata karet masih di level 161,49 sen per dolar AS. Dalam satu semester terakhir, harga karet melejit 20 persen.
Meski demikian, Edy menyebut, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global, khususnya China dan Amerika Serikat, pergerakan harga minyak, serta dinamika nilai tukar yang turut memengaruhi daya beli industri.
Dari sisi pasokan, negara-negara produsen utama seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam memasuki periode musim kemarau yang identik dengan fase gugur daun pada tanaman karet. Kondisi ini secara alami menyebabkan penurunan produksi lateks.
“Dengan kombinasi faktor fundamental dan musiman, pasar karet alam berada dalam fase konsolidasi yang cenderung menguat dengan peluang untuk kembali menguji level 200 sen per kg dalam beberapa bulan ke depan,” kata Edy.
Tahun ini, permintaan karet global diperkirakan masih akan meningkat. Edy menyebut, organisasi negara-negara produsen karet dunia, Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), memperkirakan permintaan karet alam global pada 2026 mencapai 15,6 juta ton.
Sementara, produksi diproyeksikan 15,2 juta ton. Defisit pasokan sekitar 400 ribu ton berpotensi menjaga harga karet tetap kuat dalam jangka menengah.
Edy mengingatkan, industri karet nasional juga harus meningkatkan daya saing karena persaingan di pasar dunia semakin ketat dengan menguatnya Pantai Gading. Negara Afrika Barat itu telah menempati posisi ketiga produsen karet terbesar di dunia, menyalip Vietnam.
Ekspor karet alam Pantai Gading kini mencapai 1,7 juta ton per tahun, meningkat hampir empat kali lipat dibanding periode 2015–2024 yang masih sekitar 410 ribu ton. Peningkatan produksi ditopang oleh kebun-kebun baru yang mulai menghasilkan.
Indonesia masih bertengger sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia dengan produksi 2,65 juta ton karet remah per tahun. Di urutan pertama ada Thailand dengan produksi 4,70 juta ton. Thailand dan Indonesia menjadi penentu arah perdagangan karet dunia karena menguasai 51 persen dari total 14,34 juta ton produksi karet alam dunia.
Posisi harga saat ini masih berada di atas rata-rata tahunan, menunjukkan tren jangka menengah yang tetap positif.
Namun, Indonesia punya permasalahan mendasar di sisi produktivitas. Indonesia mempunyai kebun karet seluas 3,13 juta hektar, hanya terpaut sedikit dari Thailand yang mencapai 3,55 juta hektar. Namun, produktivitas kebun karet Thailand jauh lebih besar sehingga produksinya terpaut jauh. Persoalan utamanya adalah tanaman yang sudah menua, tidak diremajakan.
Indonesia sudah lebih dari satu abad sebagai negara penghasil utama karet sejak budidaya komersial dijalankan pada 1902 ditandai dengan lahirnya kebun karet rakyat di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Awalnya, Indonesia hanya mengekspor karet dalam bentuk lembaran (sheet). Di masa itu, pelabuhan ekspor Indonesia juga sangat identik dengan bau karet.
Lompatan besar industri karet nasional dimulai pada 1968 setelah Profesor Sumitro Djojohadikusumo, Menteri Perdagangan dan Perindustrian saat itu, menginisiasi pembangunan pabrik karet remah (crumb rubber) untuk meningkatkan nilai tambah yang dapat dinikmati di dalam negeri (Kompas.id, 13 Juli 2025).
Ekosistem industri karet di Indonesia menghidupi lebih dari 2,3 juta keluarga petani. Industri ini juga menggerakkan sedikitnya 152 pabrik karet remah dan 14 pabrik ban nasional.
Saat ini karet alam tetap memiliki prospek cerah di pasar global. Konsumsi karet dunia masih terus bertumbuh. Pada 2024, misalnya, konsumsi karet bertumbuh 2,3 persen yang didorong permintaan sektor otomotif dan industri manufaktur.
Peluang ini pun dibaca oleh negara-negara Afrika. Kini mereka menjadi kawasan paling aktif dalam perluasan budidaya karet dan diperkirakan mulai memasok karet ke pasar dunia pada 2028.
Sungkunen Tarigan, Ketua Kelompok Tani Mbuah Page di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, mengatakan, harga karet di tingkat petani menurun tipis dalam sebulan terakhir dari Rp 14.500 menjadi Rp 14.000 per kilogram.
“Kami berharap, harga karet ini bisa terus bertahan di atas Rp 14.000 per kilogram agar petani bergairah menyadap karetnya,” kata Sungkunen.
Sungkunen menyebut, pertanian karet merupakan penghasilan utama kecamatan itu. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, semakin banyak yang beralih ke sawit atau dibiarkan terbengkalai tidak disadap karena harga sempat anjlok di bawa Rp 10.000 per kilogram.
Setelah harga naik lagi, para petani kembali bergairan menyadap kebun karet yang sudah terbengkalai. Produksi dari petani di desanya kini mulai membaik seiring dengan kenaikan harga karet.
Sebelum harga naik, kelompok tani mereka biasanya hanya bisa mendapat sekitar 1 ton karet per minggu. Kini, setiap minggu kami bisa mengumpulkan 3 ton karet. Petani semakin bergairah menyadap karetnya.
Sejak harga karet naik, aktivitas ekonomi di desa itu pun terus membaik. Warung dan pasar di desa pun semakin ramai. Hal itu karena penghasilan utama di desa itu salah satunya dari kebun karet.





