Kondisi Bandung Zoo kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah polemik panjang yang tak kunjung usai, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Ono Surono mengungkap sejumlah fakta mengejutkan terkait lambannya penanganan pemerintah hingga berdampak pada kesejahteraan satwa.
Sejak awal, Ono menegaskan bahwa arahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah jelas: jika Bandung Zoo ditutup, maka satwa harus segera diselamatkan dengan dipindahkan ke kebun binatang lain seperti Ragunan atau Kebun Binatang Surabaya. Bahkan komunikasi lintas kepala daerah sempat terjalin, namun hingga kini tak pernah terealisasi secara konkret.
“Selain pemindahan satwa, pemerintah juga harus menjamin ketersediaan pakan agar kualitasnya tetap terjaga,” ujar Ono, Jumat (27/3/2026).
Namun kenyataannya, arahan tersebut baru mendapat tindak lanjut serius berbulan-bulan kemudian. Sejak Agustus hingga Februari, pengelolaan kebun binatang berjalan seadanya. Yayasan hanya mengandalkan donasi masyarakat, bahkan sempat terjadi penurunan kualitas pakan yang diberikan kepada satwa.
Setelah izin lembaga konservasi dicabut oleh Kementerian Kehutanan, pengelolaan Bandung Zoo resmi diambil alih melalui nota kesepahaman (MoU). Kementerian pun bertanggung jawab penuh.
Sayangnya, kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan signifikan. Berdasarkan keterangan karyawan, keeper, dan kurator, tidak pernah ada rapat koordinasi antara kementerian dengan pihak internal sejak pengambilalihan. Tidak ada standar kerja yang jelas, sehingga operasional di lapangan berjalan tanpa arah yang pasti.
Masalah lain muncul dari sisi penyediaan pakan. Meski kementerian telah menunjuk vendor, pembayaran sering terlambat. Akibatnya, karyawan kerap ditagih oleh pemasok. Kebutuhan tambahan seperti extra feeding pun tidak difasilitasi, sehingga menjadi beban tersendiri bagi pengelola.
Tak hanya itu, persoalan operasional lain seperti penanganan pohon tumbang, kebutuhan bahan bakar, hingga kebersihan lingkungan juga belum tertangani optimal. Hal ini memperkuat kesan bahwa pengambilalihan oleh pemerintah belum diikuti dengan manajemen yang solid.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Tanggung jawab utama kementerian adalah memastikan keselamatan dan kesejahteraan satwa,” tegas Ono.
Di sisi lain, kisah haru datang dari para keeper yang setiap hari merawat satwa. Ucup Supriatna, salah satu pekerja Bandung Zoo, mengaku sangat terpukul atas kematian salah satu satwa yang dirawatnya.
“Kalau punya anak, pasti nangis. Ini benar-benar kehilangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa satwa tersebut sebelumnya dalam kondisi sehat, rutin divaksin, dan mendapat perhatian khusus. Bahkan porsi pakan ditingkatkan untuk menjaga kondisinya. Namun kematian tetap terjadi tanpa tanda-tanda sakit sebelumnya.
Baca Juga: Pasokan Listrik KCIC Makin Andal, PLN UPT Bandung Supervisi Relokasi Tower Cigereleng-Dayeuhkolot
Saat ini, Ucup masih merawat beberapa satwa karnivora, termasuk harimau Benggala dan Siberia. Ia juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit dengan memperketat biosekuriti, membersihkan kandang, hingga menguras kolam. Meski operasional kebun binatang terbatas, para pekerja tetap menjalankan tugas tanpa henti. Ironisnya, hingga kini status dan kepastian gaji mereka belum jelas.
Ono pun mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk segera mengambil keputusan terkait status karyawan agar mereka bisa bekerja dengan tenang. Ia juga akan memanggil BKSDA Jawa Barat guna memastikan peran pengawasan berjalan optimal.
“Kalau pemerintah tidak maksimal, masyarakat bisa dilibatkan melalui donasi. Tapi yang utama, satwa tidak boleh jadi korban,” pungkasnya.





