TEL AVIV, KOMPAS.TV - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan memperluas program wajib militer, termasuk untuk kelompok Yahudi ultra-Ortodoks. Netanyahu memperluas wajib militer karena Angkatan Bersenjata Israel dilaporkan kekurangan prajurit.
Lembaga penyiaran Israel, KAN, melaporkan pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu saat rapat kabinet keamanan pada Kamis (26/3/2026). Dalam rapat itu, Kepala Staf Israel Eyal Zamir mengingatkan militer Israel bisa kolaps akibat krisis personel.
Netanyahu menuturkan pemerintahannya akan melonggarkan hukum wajib miiter dan memperpanjang periode tugas. Perubahan kebijakan ini rencananya akan diterapkan usai hari Paskah Yahudi pada April mendatang.
Baca Juga: Bicara di Dewan HAM PBB, Menlu Iran Ungkap 1.000 Siswa dan Guru Jadi Korban Serangan AS-Israel
Selain itu, PM Israel juga menepis keberatan atas rencana pengetatan wajib militer untuk Yahudi ultra-Ortodoks. Sebelumnya, keberatan disampaikan oleh penasihat Komisi Keamanan dan Hubungan Luar Negeri di parlemen Israel.
"Tugas mereka itu untuk menasihati, tetapi kebijakan akan dibuat oleh kita," kata Netanyahu dikutip Anadolu.
Juru bicara Angkatan Darat Israel, Effie Defrin, mengatakan pihaknya kekurangan sekitar 15.000 personel, termasuk 8.000 prajurit tempur.
Pejabat-pejabat militer Israel menyatakan kebutuhan prajurit semakin besar karena operasi militer yang meluas, termasuk pendudukan di Palestina serta serangan ke Iran dan Lebanon.
Militer Israel menyoroti jumlah pasukan yang justru menyusut ketika tuntutan operasional semakin besar.
Sekretaris Kabinet Israel Yossi Fuchs mengatakan pemerintahan Benjamin Netanyahu akan segera melakukan perpanjangan masa tugas prajurit, serta memajukan draf undang-undang wajib militer segera setelah hari Paskah Yahudi.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- israel kekurangan prajurit
- israel perluas wajib militer
- yahudi ultra ortodoks
- benjamin netanyahu
- perang iran





