Indonesia Harus Hadir Sebagai Honest Broker, Anggota DPR: Gandeng PBB dan OKI

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta merespons perkembangan terbaru terkait peluang dibukanya ruang mediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) melalui keterlibatan pihak ketiga.

Sukamta menegaskan, Indonesia perlu mengambil posisi yang tepat dan terukur dalam merespons dinamika tersebut, mengingat RI memegang prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.

“Indonesia harus hadir sebagai honest broker, yakni pihak yang dipercaya semua pihak, dengan tetap menjaga independensi dan tidak terjebak dalam kepentingan geopolitik tertentu,” ujar Sukamta kepada Kompas.com, Jumat (27/3/2026).

Sukamta menilai, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong deeskalasi konflik melalui jalur diplomasi yang konstruktif.

Gandeng PBB dan OKI

Dia menyampaikan, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia memiliki hubungan baik dengan berbagai kekuatan global, serta posisi strategis untuk mendorong hadirnya negosiasi perdamaian.

Sukamta mendorong agar proses mediasi dilakukan melalui pendekatan multilateral dengan melibatkan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Baca juga: Update Terkini: Iran Beri Lampu Hijau Kapal Pertamina di Selat Hormuz

“Yang paling utama bukan sekadar siapa yang menjadi mediator, tetapi bagaimana menghentikan potensi eskalasi konflik, melindungi warga sipil, serta membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan,” jelasnya.

Diketahui, Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengajukan rencana gencatan senjata berisi 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.

Namun, masing-masing pihak masih memiliki tuntutan yang berbeda, sehingga peluang tercapainya kesepakatan masih belum pasti.

Rencana tersebut disebut dikirim oleh utusan Presiden AS Donald Trump kepada Iran melalui Pakistan, yang juga menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah perundingan damai.

Baca juga: Saat AS Perangi Iran, China Muncul Sebagai Penyelamat Asia Tenggara

Trump pada Selasa (24/3/2026) menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, pihak Iran secara konsisten membantah adanya negosiasi dengan AS.

Para pejabat Iran bahkan menyindir bahwa Washington “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari ini telah menimbulkan dampak besar, mulai dari korban jiwa hingga gejolak ekonomi global.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Data resmi Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 1.500 orang tewas dan lebih dari 18.000 lainnya terluka.

Selain itu, perang juga mengganggu jalur pelayaran internasional, termasuk di Selat Hormuz, yang sempat ditutup oleh Iran sebelum akhirnya dibuka terbatas untuk kapal tertentu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pantai Kejawanan Jadi Destinasi Favorit Liburan di Cirebon
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Purbaya Bongkar Biang Kerok CoreTax Error, Ternyata...
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Indonesia-Vatikan Tegaskan Persahabatan dan Toleransi
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
44 Mahasiswa Teknik Sipil STT Baramuli Diwisuda, Ir Aris Arifin Harap Wisudawan Berkontribusi untuk Bangsa
• 25 menit laluterkini.id
thumb
PP Tunas Mulai Berlaku, Komdigi Senggol Platform X dan Bigo Live Soal Pembatasan Usia
• 45 menit laludisway.id
Berhasil disimpan.