Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan kondisi pangan nasional berada dalam posisi yang sangat aman. Ketersediaan yang kuat ini ditopang oleh kombinasi stok yang melimpah dan produksi yang terus meningkat sepanjang tahun.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan pangan.
“Kalau kita bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir. Berdasarkan proyeksi neraca pangan kita, posisi stok sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton, kemudian saat ini cadangan pangan di Bulog sekitar 4,22 juta ton,” ujarnya.
Per 26 Maret 2026, cadangan beras yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai sekitar 4,22 juta ton. Tidak hanya beras, sejumlah komoditas lain juga berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan bulanan, seperti jagung sekitar 155 ribu ton dan minyak goreng sekitar 117 ribu kiloliter.
Dari sisi produksi, tren positif terus terlihat sejak awal tahun. Produksi pangan telah berjalan sejak Januari dan diprediksi mencapai puncaknya pada periode panen raya.
“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” jelas Ketut.
Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 turut memperkuat optimisme tersebut. Untuk komoditas beras, total ketersediaan diperkirakan melampaui 47 juta ton, jauh di atas kebutuhan tahunan sekitar 31 juta ton, sehingga menciptakan surplus yang signifikan.
Komoditas lain juga menunjukkan kondisi serupa. Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir sekitar 4,99 juta ton. Sementara itu, stok daging ayam ras diperkirakan mencapai 1,7 juta ton dan telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Untuk gula konsumsi, stok akhir diprediksi berada di kisaran 1,33 juta ton.
Ketut menambahkan bahwa kekuatan pangan nasional sebagian besar berasal dari produksi dalam negeri. “Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” katanya.
Meski demikian, pemerintah tetap menjaga kewaspadaan, terutama menghadapi potensi tantangan perubahan iklim menjelang musim kemarau. Berbagai langkah antisipasi telah disiapkan, termasuk percepatan tanam dan dukungan sarana produksi agar hasil tetap optimal.
“Kita optimis ketahanan pangan terjaga, karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan, termasuk percepatan tanam dan bantuan sarana produksi untuk menjaga produksi tetap optimal,” tambahnya.
Baca Juga: Bapanas Akui Harga Pangan Sempat Naik Jelang Lebaran, Kini Mulai Terkendali
Baca Juga: Menteri Pertanian Amran Sulaiman Pastikan Cadangan Pangan Nasional Aman Hadapi El Nino Godzilla
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya peningkatan produksi sebagai fondasi utama ketahanan pangan.
“Produksi kita meningkat, panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen di berbagai daerah, sehingga stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya distribusi dalam menjaga stabilitas harga. “Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,” kata Amran.
Dengan stok yang kuat, produksi yang terus meningkat, serta distribusi yang dijaga, pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional tetap solid. Kondisi ini diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa kekhawatiran.





