Sejumlah lapak nampak banyak menjajakan bahan-bahan memasak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Para warga pun hilir-mudik mulai dari lapak daging mentah, lapak bumbu-bumbu, hingga lapak sayuran.
Meski begitu, tak sedikit lapak masih tutup, memberikan kesan kesunyian di antara keramaian pasar saat hari masih gelap. Hal tersebut membuat suara beberapa dagang lebih dominan terdengar.
"Bawang, cabe, dibeli, dibeli, dibeli!" teriak Hendro (30), salah satu penjual di tengah riuhnya para pembeli yang berlalu lalang. Setelah seruannya itu, hanya segelintir orang yang melipir ke lapak dagangannya.
Banyak yang Masih di Kampung HalamanHendro yang telah berjualan di area tikungan Pasar Minggu itu selama 5 tahun, mengaku suasana pasar masih belum ramai seperti biasanya. Menurutnya banyak penjual maupun pembeli yang masih berada di kampung halaman.
"Sepi, orang-orang masih pada pulang juga, belum pada jualan penjual," kata Hendro saat ditemui, Sabtu (28/3).
Namun, keramaian yang bergulir di Pasar Minggu kali ini adalah peningkatan dari momen lebaran Idul Fitri beberapa waktu silam. Meskipun berbeda jauh dengan kondisi beberapa hari sebelum lebaran.
"Paling sepi setelah lebaran, lebaran kurang 3 hari itu rame banget," tutur Hendro.
Keramaian pasar yang masih belum sepenuhnya kembali itu nampaknya berbanding lurus dengan pemasukannya. Hendro mengakui pemasukannya mulai kembali normal, walau belum sepenuhnya.
"Mulai sama aja (pemasukannya)," ungkap Hendro.
Begitupun dengan modal penjualan, Hendro mengakui harga-harga mulai stabil setelah lebaran Idul Fitri kemarin sempat meningkat. Hanya cabe rawit yang, menurutnya, harganya tinggi mencapai Rp 70 ribu per kilo.
Namun situasi berbeda dengan lapak bumbu masak yang berada di area dalam Pasar Minggu. Salah satu pegawai lapak tersebut, Nathan (20) mengaku penjualan bumbu kini masih menurun sampai 50% dari biasanya.
"Masih (menurun). Paling dua minggu habis Lebaran biasanya naik lagi. Pada normal lagi, pada balik kampung semua kan, balik ke Jakarta lagi," kata Nathan.
Lapak Nathan yang berada di ujung lorong pasar itu pun, katanya, nampak berbeda dari biasanya. Bumbu yang tersedia masih belum sebanyak seperti biasanya, walaupun jam penjualan tetap, 24 jam non-stop.
"Cabe, kunyit, bawang putih, bawang merah, kemiri, jahe, lengkuas. Nah biasanya kan kalau kita bumbu cabe itu sampai ke (area) belakang (lapak), ini cuman (area) depan doang," kata Nathan.
Namun lapak bumbu di sini tidak terjadi perubahan harga sedikit pun. Sekalipun ketika momen Lebaran Idul Fitri yang penjualannya mengalami peningkatan signifikan, harganya masih tetap sama.
"Harganya pun dari mau Lebaran mau enggak Lebaran sama, enggak dinaikkan. Rp 55 ribu (per kilo)," ucapnya.
Pilihan Selama Berpuluh TahunKecenderungan harga yang stabil di Pasar Minggu membuat sejumlah pembeli nyaman berbelanja. Misalnya Wahyudi (65), yang telah berpuluh-puluh tahun berbelanja di Pasar Minggu dalam seminggu sekali.
Bahkan menurutnya, harga yang berada di Pasar Minggu lebih murah dibandingkan pasar lainnya. Khususnya produk yang dibelinya seperti bahan masak, daging, dan perlengkapan dapur lainnya.
"Dari masih anakku pada SD sampai sekarang udah pada kuliah selesai, pada kerja semua, udah menikah, aku tetap ke sini. Kenapa? Ini memang pasar paling murah, kalau menurut aku," ujar Wahyudi.
Saat ini, hanya cabe rawit yang menurutnya naik harga menjadi Rp 100 ribu per kilo. Untuk yang lainnya masih biasa saja.
"Iya itu (cabe rawit) lagi naik gitu, tapi kayaknya belanjaan yang lain biasa aja kalau menurut Ibu," ungkap Wahyudi.
Meskipun harga mulai stabil, Wahyudi pun merasakan keramaian pasar masih belum seperti biasanya sebab masih banyak lapak yang tutup.
"Kalau Ibu lihat ini kayaknya yang jualan sedikit, kok enggak seperti biasanya. Biasanya kan banyak banget. Ini banyak kok yang pada tutup-tutup, belum pada datang," tungkasnya.
Meski begitu, berdasarkan pantauan kumparan di lokasi pukul 05.17 WIB hingga menjelang matahari bersinar, aktivitas di Pasar Minggu tak berhenti bergeliat. Pasar yang hanya libur saat hari pertama lebaran ini mulai kembali menemukan keramaiannya, secara berangsur-angsur.





