Serial Artikel
Peta Persaingan UTBK SNBT 2026: Prodi Kedokteran Baru Justru Lebih Ketat
Data UTBK SNBT 2026 ungkap rasio ketat prodi kesehatan, dari kedokteran hingga farmasi. Calon mahasiswa perlu tentukan strategi memilih prodi yang tepat.
Di tengah popularitas jurusan ekonomi dan bisnis, dunia kerja justru sedang berubah cepat.
Joe Fuller dan Bill Kerr, pengajar dari Harvard Business School dalam episode siniar Managing the Future of Work yang dirilis pada akhir Januari 2026 lalu menunjukkan pasar tenaga kerja kini dibentuk oleh kombinasi disrupsi teknologi, kesenjangan keterampilan, hingga perubahan demografi yang menggeser kebutuhan industri secara fundamental.
Dalam lanskap seperti ini, jurusan ekonomi dan bisnis tetap menjadi salah satu pilihan paling relevan, meski tampak tak sekuat dulu daya tariknya. Ini tercermin dalam data UTBK-SNBT, dengan menurunnya jumlah peminat beberapa program studi (prodi).
Manajemen yang selama ini menjadi primadona, misalnya, tren jumlah peminatnya turun dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini mengindikasikan, di tengah perubahan kebutuhan industri, preferensi calon mahasiswa mulai bergeser.
Minat terhadap prodi rumpun Ekonomi dan Bisnis dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menunjukkan pola yang relatif stabil selama lima tahun terakhir, meskipun beberapa prodi mengalami fluktuasi signifikan sejak 2023.
Secara umum, Manajemen dan Akuntansi tetap menjadi pilihan utama calon mahasiswa, dengan jumlah peminat jauh melampaui prodi lain dalam rumpun Ilmu Ekonomi dan Bisnis. Meskipun menjadi prodi yang paling diminati akan tetapi juga terjadi penurunan tajam jumlah peminat Manajemen, selama lima tahun terakhir.
Pada 2021, jumlah peminat prodi Manajemen mencapai 110.196 orang. Namun pada 2025, turun menjadi 84.561 orang. Penurunan tajam terjadi setelah 2022.
Di peringkat kedua adalah Akuntansi yang trennya relatif stabil dan bahkan cenderung meningkat. Jumlah peminat prodi ini sempat turun dari 56.725 pada 2021 menjadi 52.328 pada 2022, tetapi kemudian naik secara konsisten hingga mencapai 60.148 pada 2025.
Sementara itu, prodi Administrasi Publik menunjukkan tren fluktuatif. Setelah mencapai 45.935 peminat pada 2022, jumlahnya turun tajam menjadi 39.087 pada 2023, sebelum kembali naik ke kisaran 43 ribu pada 2024 dan 2025.
Pola serupa juga terlihat pada Administrasi Bisnis, yang sempat turun peminatnya menjadi 17.580 orang pada 2023, lalu melonjak signifikan menjadi 23.925 pada 2025.
Berbeda dengan prodi lain, Ilmu Ekonomi cenderung mengalami penurunan minat dalam jangka panjang. Dari 33.318 peminat pada 2021, jumlahnya turun hingga 27.364 pada 2023, sebelum sedikit pulih menjadi 28.392 pada 2025. Ini menunjukkan pergeseran preferensi calon mahasiswa dalam rumpun ekonomi.
Di sisi lain, daya tampung seluruh program studi ini terus meningkat secara bertahap setiap tahun. Program studi Manajemen, misalnya, meningkat dari 7.995 kursi pada 2021 menjadi 9.605 pada 2025. Akuntansi juga naik dari 6.383 menjadi 7.383 kursi dalam periode yang sama.
Kenaikan daya tampung juga terlihat pada Administrasi Publik yang bertambah dari 5.413 menjadi 6.067 kursi, serta Ilmu Ekonomi dari 5.220 menjadi 5.836 kursi. Administrasi Bisnis mengalami peningkatan moderat, dari 1.521 menjadi 1.695 kursi.
Pada prodi akuntansi, peta persaingan UTBK-SNBT 2026 menunjukkan pola yang tidak sepenuhnya mengikuti hierarki kampus mapan.
Sejumlah perguruan tinggi ternama seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, hingga Universitas Indonesia tetap berada di kelompok paling ketat, dengan rasio masing-masing sekitar 1:48, 1:43, dan 1:31. Artinya, satu kursi diperebutkan puluhan pendaftar, dengan peluang diterima hanya sekitar 2–4 persen.
Namun, tingkat keketatan tidak hanya didominasi kampus elite. Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta justru mencatat rasio yang sangat tinggi, masing-masing 1:40 dan 1:35. Ini menunjukkan, prodi di kampus nontradisional pun menjadi incaran utama.
Di lapisan menengah, rasio berada pada kisaran 1:14 hingga 1:22, mencakup Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, hingga Universitas Brawijaya.
Sementara itu, pilihan yang relatif lebih longgar berada di bawah rasio 1:10, seperti Universitas Tanjungpura, UIN Jakarta, hingga sejumlah PTN di kawasan timur Indonesia. Bahkan, beberapa prodi mencatat rasio mendekati 1:1, yang menandakan peluang diterima yang lebih besar.
Peta persaingan UTBK-SNBT 2026 untuk prodi Manajemen, menunjukkan konsentrasi ketat di kampus-kampus unggulan tetapi dengan variasi cukup lebar antar perguruan tinggi.
Universitas Gadjah Mada mencatat rasio tertinggi sekitar 1:51, diikuti Institut Teknologi Bandung melalui SBM dengan rasio 1:46 serta Universitas Padjadjaran di kisaran 1:45. Kelompok ini mencerminkan persaingan ekstrem, dengan satu kursi diperebutkan lebih dari 40 pendaftar.
Di lapisan berikutnya, rasio berada di kisaran 1:30 hingga 1:37, seperti Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Indonesia. Sementara itu, kelompok menengah berada di rentang 1:15 hingga 1:25, mencakup Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Sumatera Utara.
Pilihan yang relatif lebih longgar berada di bawah rasio 1:10, ditemukan di sejumlah UIN, seperti UIN Jakarta dan UIN Sunan Ampel, serta sejumlah PTN di daerah Indonesia Tengah dan Timur. Bahkan, beberapa kampus mencatat rasio mendekati 1:1, yang menunjukkan peluang lebih besar untuk diterima.
Pada program studi Ilmu Ekonomi dan turunannya, persaingan UTBK-SNBT 2026 relatif lebih moderat dibanding rumpun manajemen dan akuntansi, tetapi tetap kompetitif di kampus-kampus unggulan.
Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia memimpin dengan rasio sekitar 1:27 dan 1:26, diikuti Universitas Padjadjaran di kisaran 1:21. Di kelompok ini, satu kursi diperebutkan lebih dari 20 pendaftar.
Lapisan menengah berada pada rentang 1:12 hingga 1:19, mencakup IPB, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, hingga Universitas Brawijaya. Sementara itu, sebagian besar prodi Ekonomi Pembangunan di berbagai daerah berada di kisaran 1:4 hingga 1:8, yang menawarkan peluang lebih realistis.
Di sisi lain, sejumlah kampus mencatat rasio mendekati 1:1, terutama di kawasan timur Indonesia, yang menunjukkan tingkat persaingan jauh lebih longgar. Ini menegaskan adanya kesenjangan distribusi peminat dalam rumpun ekonomi.
Pada rumpun Ekonomi dan Bisnis, persaingan UTBK-SNBT 2026 juga menunjukkan variasi yang tajam.
Kelompok paling ketat ditempati Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, dengan rasio sekitar 1:42 hingga 1:40, disusul program sejenis di UI dan Universitas Mulawarman yang berada di kisaran 1:33 hingga 1:36. Artinya, satu kursi diperebutkan lebih dari 30 hingga 40 pendaftar.
Lapisan menengah berada pada rentang 1:18 hingga 1:28, mencakup IPB, Universitas Diponegoro, hingga Universitas Brawijaya. Sementara itu, kelompok yang lebih longgar, berada di bawah rasio 1:10, seperti Universitas Haluoleo hingga Universitas Nusa Cendana.
Beberapa program bahkan mendekati rasio 1:2–1:3, yang menunjukkan peluang besar untuk diterima.
Pada rumpun administrasi publik dan pemerintahan, persaingan UTBK-SNBT 2026 relatif merata dengan beberapa titik sangat kompetitif.
Universitas Gadjah Mada memimpin melalui Manajemen dan Kebijakan Publik dengan rasio sekitar 1:38, disusul Universitas Padjadjaran dan Universitas Negeri Yogyakarta di kisaran 1:36 hingga 1:30. Program sejenis di Universitas Indonesia juga berada di level tinggi, seperti Ilmu Administrasi Negara (1:29) dan Administrasi Fiskal (1:25).
Lapisan menengah yang berada di rentang 1:13 hingga 1:20, mencakup Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Hasanuddin. Di bawahnya, sebagian besar program berada di kisaran 1:6 hingga 1:12 sehingga menawarkan peluang yang lebih realistis.
Sementara itu, sejumlah PTN di daerah mencatat rasio 1:1 hingga 1:3 yang menandakan persaingan jauh lebih longgar. Pola ini menunjukkan distribusi peminat yang masih terkonsentrasi di kampus-kampus besar.
Untuk melihat lebih rinci bagaimana peta persaingan tiap program studi dan kampus ini terbentuk, hingga tingkat rasio kursi dan peluang diterima, pembaca dapat menelusurinya secara interaktif melalui fitur eksplorasi data berikut.





