China memulai dua penyelidikan terhadap praktik dagang AS sebagai balasan atas penyelidikan serupa yang dilakukan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Penyelidikan ini dilakukan jelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada Mei mendatang.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (28/3), penyelidikan ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China pada Jumat (27/3). Langkah yang diambil China ini merupakan cerminan langsung dari langkah Trump untuk menghidupkan kembali agenda tarif dagang setelah dibatalkan oleh Mahkamah Agung bulan lalu.
"China menyatakan ketidakpuasan yang kuat dan penentangan secara tegas atas tindakan ini," kata juru bicara Kemendag China dalam pernyataannya, merujuk pada penyelidikan Pasal 301 yang dimulai pada 11 Maret.
Trump dan Xi Jinping dijadwalkan akan bertemu di China pada pertengahan Mei -- pertemuan sempat ditunda karena perang AS-Israel terhadap Iran. Hubungan ua negara ekonomi terbesar di dunia ini sebagian besar telah stabil setelah saling balas tarif tahun lalu, meski China telah mengisyaratkan menentang tindakan baru AS.
"Kami tahu ini hanyalah penyelidikan simbolis yang diinisiasi oleh China, yang sebenarnya merupakan pengganggu rantai pasok dan perdagangan produk ramah lingkungan yang paling boros di dunia. Tidak ada yang tertipu," kata Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer.
"Terlepas dari sikap ini, tujuan AS tetalah untuk stabilitas ekonomi dan perdagangan yang seimbang dengan China, sejalan dengan kesepakatan AS-China yang dicapai tahun lalu di Busan, Korea," lanjutnya.
Serangan AS terhadap Iran, mitra diplomatik China, juga membawa ketegangan baru pada hubungan AS-China, meski kedua negara berupaya melanjutkan kerja sama. Hubungan juga dihantui oleh isu-isu yang masih ada, termasuk rekor surplus perdagangan China dan penjualan senjata AS ke Taiwan, yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya.
Beijing masih belum mengkonfirmasi kunjungan Trump ke China, meski biasanya diumumkan menjelang pertemuan.
Masing-masing penyelidikan baru memiliki tenggat waktu 6 bulan, dengan kemungkinan perpanjangan 6 bulan, memberikan Beijing pembenaran hukum untuk tindakan balasan ke depan dan pengaruh jelang pembicaraan apa pun.
Salah satu penyelidikan, yang diajukan secara terpisah terhadap Meksiko pada September, telah berakhir pada Senin (23/3). Beijing menemukan tarif Meksiko terhadap barang China merupakan hambatan perdagangan dan berjanji akan mengambil langkah untuk melindungi kepentingan perusahaan China, tanpa merincinya lebih lanjut.
Penyelidikan yang diumumkan kemarin menargetkan praktik dagang AS yang Beijing sebut mengganggu rantai pasokan global, meliputi pembatasan barang-barang China masuk pasar AS, kontrol ekspor teknologi canggih, dan batasan investasi bilateral di sektor-sektor penting.
Tindakan lainnya secara khusus fokus pada apa yang digambarkan China sebagai hambatan AS terhadap perdagangan produk ramah lingkungan, termasuk pembatasan ekspor barang-barang terbarukan China ke AS dan batasan kerja sama dalam teknologi ramah lingkungan.
Kemendag mengatakan sejumlah langkah dalam kedua penyelidikan tersebut kemungkinan melanggar aturan WTO dan perjanjian yang telah ditandatangani kedua negara.
Perwakilan Dagang AS pada awal bulan ini memulai investigasi Pasal 301 terhadap China dan 15 negara lainnya atas dugaan kelebihan kapasitas manufaktur. Pada hari berikutnya, Perwakilan Dagang AS membuka penyelidikan terpisah terhadap 60 negara termasuk China terkait larangan impor barang yang diproduksi dengan kerja paksa.
Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, menyampaikan kekhawatiran serius mengenai penyelidikan tersebut. Dalam sebuah pertemuan di Kamerun, Wang mengutip pernyataan Xi Jinping dan menggambarkan perdagangan sebagai penopang hubungan. Dia mendesak AS menghindari kompetisi yang tidak sehat dan menerapkan konsensus yang dicapai dalam pertemuan pemimpin sebelumnya di Busan dan pembicaraan setelahnya.
Pejabat dari kedua negara, termasuk Greer dan Menteri Keuangan Scott Bessent, bertemu di Paris awal bulan ini dalam pertemuan yang bertujuan untuk meletakkan dasar bagi pertemuan mendatang. Kedua negara mendiskusikan kemungkinan pembentukan panel penegakan perdagangan untuk membantu mengatasi sengketa, sebuah mekanisme yang Greer sebut sebagai Dewan Perdagangan AS-China.





