Selama dua tahun berturut-turut, es laut musim dingin di Arktik mencapai luas maksimum terendah sejak pemantauan satelit yang dilakukan sejak tahun 1979.
Menurut temuan para ilmuan NASA dan Pusat Data Salju dan Es Nasional (National Snow and Ice Data Center/NSIDC) yang dirilis, Kamis (26/3/2026) lalu, tercatat pada 15 Maret, luas es laut Arktik tercatat sebesar 14,29 juta kilometer persegi. Angka itu hampir menyamai puncak tahun 2025 yang sebesar 14,31 juta kilometer persegi.
Melansir Antara, berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat di Universitas Colorado, Boulder, para ilmuwan mengatakan kedua tahun tersebut secara statistik memiliki suhu maksimum musim dingin terendah yang pernah tercatat.
“Berdasarkan apa yang kami lihat dengan satelit ICESat-2 NASA, sebagian besar es di Arktik lebih tipis tahun ini, terutama di Laut Barents di timur laut Greenland,” kata Nathan Kurtz, kepala Laboratorium Ilmu Kriosfer di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.
Para ilmuwan dari NASA dan NSIDC mengatakan puncak cakupan es musim dingin Arktik ini melanjutkan tren penurunan jangka panjang yang terpantau selama beberapa dekade terakhir. Luas maksimum tahun ini sekitar 1,3 juta kilometer persegi di bawah tingkat rata-rata yang tercatat antara tahun 1981 dan 2010.
Luas es laut didefinisikan sebagai total area lautan dengan konsentrasi es minimal 15 persen. Es laut Arktik meluas selama bulan-bulan musim dingin dan sebagian mencair pada musim yang lebih hangat.
Meskipun sebagian es laut bertahan sepanjang tahun, pembentukan es baru dalam beberapa tahun terakhir semakin berkurang, sehingga mengakibatkan penurunan es abadi, menurut NASA.(ant/ily/bil/iss)




